Taqwa, Wasiat Allah, Rosul dan Orang-orang Yang Utama

2 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Taqwa, Wasiat Allah, Rosul dan Orang-orang Yang Utama

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Wasiat merupakan sebuah kata yang spesial buat kita. Terutama jika wasiat itu berasal dari orang-orang yang spesial, mempunyai tempat dan kedudukan di hati kita. Misalnya seorang orang tua yang hendak menemui malaikat maut, berwasiat kepada anaknya. Maka wasiat itu biasanya akan sangat menghujam di hati seorang anak. Bahkan terkadang tidak peduli halal dan haram asalkan wasiat tersebut ditunaikan. Alasannya biasanya adalah takut durhaka atau kualat sama orang tua.

Pertama yang harus kita ketahui adalah makna dari wasiat itu sendiri. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Wasiat adalah pesan, amanah kepada seseorang berkaitan dengan hal yang penting. Semisal seorang pria berwasiat sepertiga hartanya, atau dia berwasiat kepada anaknya yang masih kecil atau yang lainnya”[1].

Intinya wasiat itu biasanya diberikan oleh orang yang kedudukan lebih utama dari yang meminta nasihat dan wasiat yang diberikan adalah wasiat yang sangat penting bagi orang yang meminta nasihat tersebut. Allahu a’lam.

Wasiat Allah Subhana wa Ta’ala kepada kita dan ummat-ummat sebelum kita. Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ

 “Kami sungguh telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu, bertaqwalah kepada Allah”. (QS. An Nisa [4] : 131)

Wasiat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam kepada para shahabatnya yang meminta nasihat.

Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُرِيدُ سَفَرًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِي قَالَ أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ

‘Ada seorang lelaki yang hendak safar mendatangi Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, kemudian dia berkata, “Wahai Rosulullah, berikanlah aku wasiat”. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berucap, “Aku wasiatkan kepadamu bertaqwalah kepada Allah …”[2].

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berwasiat kepada para shahabat Rodhiyallahu ‘anhum pada hadits ‘Irbadh bin Sariyah Rodhiyallahu ‘anhu,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللهِ

“Aku berwasiat kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah”[3].

Ibnu Rojab Rohimahullah menukil dalam kitabnya[4],

“Umar menulis wasiat kepada anaknya ‘Abdullah, “Amma ba’du, sesungguhnya aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena bila engkau bertaqwa kepada Nya maka dia akan menjagamu (dari neraka –pen)”.

Beliau Rohimahullah juga menukil,

Ali bin Abi Tholib mempekerjakan seorang laki-laki menjadi bagian dari sebuah pasukan. Beliau pun berkata kepada lelaki tersebut, “Aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah yang pasti engkau bertemu dengan Nya, Dzat yang tidak ada selainnya yang engkau tuju, Dia lah pemilik dunia dan akhirat”[5].

Beliau melanjutkan,

’Umar bin ‘Abdul ‘Aziz Rohimahullah menulis surat kepada seorang pria, “Aku berwasiat kepadamu untuk bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang Dia tidak diterima kecuali dengannya (taqwa –pen), Dia tidak menyangi kecuali ahlinya (orang yang bertaqwa –pen), Dia tidak akan memberikan ganjaran pahala kecuali atasnya (taqwa –pen). Sesungguhnya orang-orang yang mengingatkan, memberi nasehat padanya (taqwa –pen) itu banyak namun yang mengamalkannya sedikit. Mudah-mudahan Allah menjadikan kami dan juga engkau termasuk orang-orang yang bertaqwa”[6].

Demikian juga wasiat para salaf kepada saudaranya,

“Seorang pria dari kalangan salaf menulis surat kepada saudaranya, “Aku berwasiat kepadamu agar bertaqwa kepada Allah. Sesungguhnya itulah sebaik-baik hal yang engkau sembunyikan dan seindah-indah hal yang perlihatkan. Itu jugalah sebaik-baik hal yang engkau simpan. Mudah-mudahan Allah membantu kami demikian juga dirimu untuk bertaqwa kepada Nya dan memberikan kami dan dirimu pahala atasnya”[7].

Masih banyak lagi wasiat yang beliau nukilkan dalam kitab ini. Beliau mengatakan[8],

“Ringkasnya, taqwa merupakan wasiat Allah kepada seluruh makhluknya (manusia -pen). Ini juga wasiat Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam kepada ummatnya. Merupakan kebiasan beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ketika mengangkat seorang pemimpin bagi sebuah pasukan maka beliau berwasiat kepadanya secara khusus untuk bertaqwa kepada Allah dan berbuat baik kepada orang yang bersamanya dari kalangan kaum muslimin”[9].

Terakhir, taqwa merupakan sebaik-baik bekal kita. Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman,

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى

 “Berbekallah, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa”.

(QS. Al Baqoroh [2] : 197)

Lantas apa itu taqwa ? Insya Allah bersambung.

 

Setelah Subuh 28 Jumadil Akhiroh 1438 H |  27 Maret 2017 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Syarh Arba’in An Nawawiyah hal. 205 terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut.

[2] HR. Ahmad no. 8293 dan lain-lain. Syaikh Syu’aib Al Arnauth Rohimahullah mengatakan, ‘Sanadnya hasan’.

[3] HR. Abu Dawud no. 4607, Ibnu Majah no. 43, Tirmidzi no. 2676. At Tirmidzi Rohimahullah mengatakan, ‘Hadits hasan shohih’.

[4] Lihat Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam hal. 406/I terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut.

[5] Idem.

[6] Idem.

[7] Idem hal. 407/I.

[8] Idem hal. 404/I.

[9] Sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim no. 1731.

Tulisan Terkait

Leave a Reply