Tafsir Surat Al Kahfi (23)

9 Sep

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (23)

 

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 28]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang berdo’a kepada Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap Wajah Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) karena mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”. (QS. Al Kahfi [18] : 28).

 

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Firman Allah Ta’ala (وَاصْبِرْ نَفْسَكَ) ‘Dan bersabarlah kamu’ yaitu bersabarlah bersama orang-orang yang mereka berdo’a kepada Allah baik do’a mas’alah ataupun do’a ibadah. Duduklah bersama mereka dan kokohlah bersama kekuatan tekad mereka.

Firman Allah Ta’ala (بِالْغَدَاةِ) ‘pagi hari’ yaitu di awal hari. Firman Allah Ta’ala (وَالْعَشِيِّ) ‘sore hari’ yaitu akhir hari (petang). Firman Allah Ta’ala (يُرِيدُونَ وَجْهَهُ) ‘dengan mengharap Wajah Nya’ yaitu ikhlash kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menginginkan Wajah Nya dan bukan sesuatu apapun dari hal yang bersifat keduniaan. Maksudnya mereka adalah orang-orang yang beramal dengan amalan tersebut kepada Allah semata bukan untuk selain Nya”.

“Pada ayat yang mulia ini terdapat adanya penetapan shifat Wajah bagi Allah Subhana wa Ta’ala. Para ulama ahlu sunnah wal jama’ah sepakat atas adanya penetapan shifat Wajah bagi Allah Ta’ala berdasarkan dalil dari Al Qur’an dan Sunnah tentang hal tersebut. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ

“Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”.

(QS. Ar Rohman [55] : 27).

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

أَعُوذُ بِوَجْهِكَ

“Aku memohon perlindungan dengan Wajah Mu”[1].

Para generasi terdahulu yang sholeh dan para Imam pun telah sepakat atas adanya penetapan shifat Wajah bagi Allah ‘Azza wa Jalla”.

“Akan tetapi, apakah shifat Wajah di sini semisal dengan wajah yang ada pada makhluk  ?

Jawabannya : Tidak mungkin Shifat Wajah bagi Allah semisal dengan wajah yang ada pada para makhluk berdasarkan Firman Allah Ta’ala,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

 “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah Dzat Yang Maha Mendengar dan Melihat”. (QS. Asy Syuro [42] : 11).

Demikian juga Firman Allah Ta’ala,

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada Nya. Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang semisal dengan Dia (yang patut disembah) ?” (QS. Maryam [19] : 65).

Demikian juga Firman Allah Tabaroka wa Ta’ala,

فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu (tandingan) bagi Allah, padahal kamu mengetahui”. (QS. Al Baqoroh [2] : 22).

“Demikianlah seluruh shifat Allah menyifati Diri Nya sendiri dengannya. Wajib bagi kita untuk memaknainya secara zhohirnya tanpa adanya tamtsil permisalan sebagaimana makhluk. Jika ada yang mengatakan, ‘Jika engkau menetapakan bagi Allah shifat Wajah maka berarti hal tersebut melahirkan konsekwensi adanya tamtsil permisalan. Berati kita harus memaknai Firman Allah

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

 “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia”. (QS. Asy Syuro [42] : 11).

maksudnya kecuali pada hal yang Dia tetapkan untuk Nya semisal wajah dan dua tangan (jika demikian maka ada tamtsil permisalan wajah dan  dua tangan -pen) ?”.

“Jawabannya : Hal itu merupakan sebuah kesombongan/takabbur. Karena kita sama-sama mengetahui baik secara akal sehat dan pada apa yang kita lihat bahwsanya setiap hal yang diidhofahkan/ disandarkan kepada sesuatu maka akan bersesuaian dengan sesuatu tersebut. Bukankah manusia punya wajah, onta, kuda dan gajah juga punya wajah ? Tentu punya, namun apakah wajah-wajah tersebut serupa ? Tidak sama sekali. Bahkan wajah tersebut bersesuaian dengan apa wajah tersebut diidhofahkan/ disandarkan. Bahkan waktu dan zaman pun punya wajah sebagaimana firman Allah Ta’ala,

آَمِنُوا بِالَّذِي أُنْزِلَ عَلَى الَّذِينَ آَمَنُوا وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُوا آَخِرَهُ

“Kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat Rasul) pada wajah siang dan ingkarilah ia pada akhirnya”. (QS. Ali Imron [3] : 72).

Berdasarkan ayat ini benarlah bahwasanya zaman pun punya wajah. Lantas apakah mungkin ada seseorang yang berani mengatakan bahwa wajah siang semisal dengan wajah manusia ?”

“Jawabannya tentu tidak mungkin. Jika demikian maka apa-apa yang Allah sandarkan sesuatu kepada diri Nya berupa shifat wajah maka tidak berarti kita katakan melakukan tamtsil permisalan wajah Allah dan wajah para makhluknya. Sebab setiap shifat bersesuaian dengan apa yang disifatinya. Jika ada yang mengatakan, ada hadits yang terdapat dalam hadits yang shohih menyebutkan bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda,

إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ آدَمَ عَلَى صُورَتِهِ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan adam sesuai bentuknya”[2].

Lantas apa jawabannya anda ?

“Jawabannya : Boleh jadi kita jawab dengan, Keadaan sesuatu dengan bentuk tertentu tidak melazimkan, berkonsekwensi bahwa sesuatu tersebut serupa dengan sesuatu yang lain yang keadaan bentuknya memiliki kesamaan. Dalilnya bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ

“Rombongan pertama yang memasuki surga adalah rombongan yang bentuk rupanya seperti rembulan pada malam purnama”[3].

Kita sama-sama mengetahui bahwa mereka yang masuk surga tersebut bukanlah semisal rembulan. Namun rupa mereka mirip dengan rembulan dari sisi umumnya berupa adanya cahaya (diwajah), terang dan gembira”.

“Sisi kedua : Penyebutan (عَلَى صُورَتِهِ) ‘sesuai bentuknya’ maksudnya sesuai bentuk yang Allah ‘Azza wa Jalla pilih. Maka adanya idhofah/ penyandaran bentuk manusia kepada Allah dalam konteks pemuliaan dan pengagungan Allah terhadap manusia. Hal ini mirip Firman Nya,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid Nya”. (QS. Al Baqoroh [2] : 114).

Diantara perkara yang kita ketahui bersama bahwasanya Allah Subhana wa Ta’ala tidak sholat pada mesjid-mesjid tersebut. Namun mesjid di sini di idhofahkan/ disandarkan kepada Allah sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan karena mesjid dibangun hanyalah dengan niat untuk keta’atan kepada Allah. Demikian pula pada ucapan Nabi Sholeh ‘alaihissalam kepada kaumnya,

نَاقَةَ اللَّهِ وَسُقْيَاهَا

“Unta betina Allah dan minumannya”. (QS. Asy Syams [91] : 13).

Sebagaimana diketahui bersama bahwsanya unta betina tersebut bukanlah untuk Allah sebagaimana manusia menggunakannya sebagai tunggangan. Namun unta tesebut di idhofahkan/ disandarkan kepada Allah dalam rangka pemuliaan dan pengagungan.

Sehingga maksud hadits (عَلَى صُورَتِهِ) ‘sesuai bentuknya’ atau dalam satu riwayat ‘sesuai bentuk Ar Rohman’ adalah sesuai bentuk yang Allah pilih berbeda dari seluruh makhluk lainnya.

“Allah Subhana wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al Infitar,

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ (6) الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ

“Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang”. (QS. Al Infithor [82] : 6-7).

Maksudnya yang telah menjadikan kalian demikian dan demikian termasuk tinggi badan dan fisik yang seimbang. Jika demikian maka Alhamdulillah pahamlah kita bahwasanya Allah Subhana wa Ta’ala memiliki shifat Wajah yang hakiki dan tidak serupa/ semisal dengan wajah-wajah para makhluk Nya.

Firman Allah Ta’ala (يُرِيدُونَ وَجْهَهُ) ‘dengan mengharap Wajah Nya’ terdapat isyarat kepada keikhlasan. Maka wajib bagi anda wahai saudaraku untuk ilkhlas hingga amal anda akan bermanfaat”.

“Firman Allah Ta’ala (وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا) ‘Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) karena mengharapkan perhiasan dunia ini’ maksudnya janganlah engkau palingkan kedua matamu dari orang-orang yang mulia tersebut karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Bahkan tetapkanlah pandanganmu selalu kepada mereka. Pada Firman Allah  Ta’ala (تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا) ‘(karena) karena mengharapkan perhiasan dunia ini’ terdapat isyarat bahwa sesungguhnya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sekiranya beliau meninggalkan mereka karena adanya mashlahat yang berkaitan dengan agama maka tidak termasuk pada larangan dalam ayat ini”[4].

“Firman Allah Ta’ala (وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا) ‘Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami’ maksudnya dari mengingat Allah atau dari Al Qur’an/ Adz Dzikr yang kami turunkan untuk mereka. Maka berdasarkan penafsiran pertama, orang yang dimaksudkan adalah mereka orang-orang yang hanya berdzikir/ mengingat Allah hanya dengan hatinya namun tidak dengan hatinya. Kedua maka orang yang dimaksud adalah orang yang Allah lalaikan hatinya dari Al Qur’an. Maka dia tidak akan menghiraukan dan tidak merasa berdosa sama sekali ketika menyelisihi Al Qur’an”.

“Firman Allah Ta’ala (وَاتَّبَعَ هَوَاهُ) ‘Serta menuruti hawa nafsunya’ yaitu apa saja yang sesuai dengan keinginan hawa nafsunya’.

Firman Allah Ta’ala (وَكَانَ أَمْرُهُ) ‘keadaannya itu’ yaitu kondisinya (فُرُطًا) ‘melewati batas’ yaitu lalai dan sia-sia, hari-hari berlalu tanpa ada sesuatu pun yang bermanfaat. Pada ayat yang mulia ini terdapat isyarat tentang pentingnya menghadirkan hati ketika berdzikir/ mengingat Allah. Sesungguhnya manusia yang berdzikir/ mengingat Allah hanya dengan lisannya tanpa masuk ke hatinya maka tercabutlah keberkahan dari amal-amal dan waktu yang dia habiskan itu bahkan urusannya itu menjadi sia-sia. Anda dapati orang yang demikian berdzikir hanya dengan lisannya namun tidak menghasilkan apapun. Tetapi sekiranya dia urusannya bersama Allah maka akan terwujud barokah pada seluruh amal-amalnya”.

* * *

 

[diterjemahkan secara bebas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 58-62 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

10 Dzul Hijjah 1438 H | 9 September 2017 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

-mudah-mudahan Allah mengampuni dosa kita-

[1] HR. Bukhori no. 4627.

[2] HR. Muslim no. 115 dan 2610.

[3] HR. Bukhori no. 4246 dan Muslim no. 14 dan 2834.

[4] Guru kami Ustadz Aris Munandar Hafizhahullah mengatakan, “Perintah (tidak berpaling dari orang-orang yang berdzikir di pagi dan petang dengan ikhlas –pen) pada ayat ini mengandung 2 perintah : [1]. Perintah untuk bershahabat, menyertai orang-orang sholeh. [2]. Perintah untuk bersabar dalam bergaul dengan mereka”. –atau sebagaimana redaksi yang beliau sampaikan.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply