Tafsir Surat Al Kahfi (14)

11 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (14)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan pembahasan edisi sebelumnya.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 17]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا

“Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya”. (QS. Al Kahfi [18] : 17)

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ) ‘‘Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan”. Firman Allah Subhana wa Ta’ala (تَزَاوَرُ) memiliki dua cara baca. (تَزَّاوَرُ) dengan mantasydid huruf zay, asalnya adalah (تَتَزَاوَرُ) dan (تَزَاوَرُ) dengan meringankan huruf zay (tanpa tasydid). (تَزَاوَرُ) maksudnya adalah condong. Firman Allah Ta’ala (عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ) “dari gua mereka ke sebelah kanan”, dengan potongan ayat ini jelaslah keadaan/posisi gua sekarang. Jika matahari terbit condong dari gua mereka ke sebelah kanan, berarti mulut gua mengarah ke arah utara. Oleh karena itu sebagian orang berpendapat bahwa sesungguhnya mulut gua mengarah ke Banaat Na’asy (بنات نعش) merupakan rasi bintang yang terdapat di langit yang dikenal orang orang Arab Baduwi.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ) ‘bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri’. (تَقْرِضُهُمْ) ada yang menyebutkan maknanya adalah cahayanya meninggalkan/menjauhi mereka. Ada juga yang mengatakan maknanya cahayanya mengenai mereka. Dan inilah makna yang lebih tepat. Faidahnya adalah agar badan mereka tercegah dari perubahan wujud (busuk –ed). Karena cahaya matahari sebagaimana yang dikatakan orang bahwa cahaya matahari merupakan sebuah hal yang menyehatkan dan bermanfaat bagi tubuh.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ) ‘sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu’. Kata ganti (هُمْ) ‘mereka’ merujuk kepada para pemuda. Tempat yang luas yang dimaksud merupakan sebuah tempat luas yang terdapat di dalam gua. Artinya mereka bukanlah berada tepat di pintu gua. Namun mereka berada di dalam gua karena hal itu menyebabkan mereka lebih terjaga.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ) ‘ketika terbit, condong’ dan (وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ) ‘bila matahari terbenam menjauhi mereka’. Potongan ayat ini merupakan dalil bahwa sesungguhnya mataharilah yang bergerak, yang dengan pergerakannya itu. Dia terbit dan tenggelam. Hal ini berbeda dengan pendapat kebanyakan orang pada saat sekarang yang berpendapat bahwa bumilah yang berputar mengelilingi matahari sedangkan matahari tetap pada posisinya. Sedangkan bagi kita, ada sedikit keterangan dari Firman Allah Subhana wa Ta’ala. Maka wajib bagi kita berjalan mengikuti zhohir keterangan dari Firman Allah Ta’ala dan tidak keluar dari zhohirnya kecuali ada dalil yang jelas. Jika telah jelas bagi kita dengan dalil yang pasti bahwasanya pergantian siang dan malam karena pergerakan bumi/rotasi bumi. Maka ketika itu wajib bagi kita mentafsirkan ayat-ayat kepada makna yang sesuai dengan kenyataan.

Adapun ketika belum jelas bagi kita dengan dalil yang pasti bahwa matahari berada dalam posisi yang tetap dan bumilah yang bergerak mengelilingi matahari pada porosnya sehingga terjadilah pergantian siang dan malam, maka hal itu belum dapat kami terima. Dan kami berpendapat bahwa sesungguhnya mataharilah yang berputar mengelilingi bumi yang menyebabkan pergantian siang dan malam. Karena Allah Subhana wa Ta’ala menyandarkan perbuatan ‘bergerak’ kepada matahari dan Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pernah bertanya kepada Abu Dzar tentang tenggelamnya matahari,

يَا أَبَا ذَرٍّ تَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ الشَّمْسُ

“Wahai Abu Dzar apakah engkau tahu kemana matahari pergi ?[1]

Maka Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam menyandarkan perbuatan ‘pergi’ kepada matahari. Kita menyakini seyakin-yakinnya bahwa Allah Subhana wa Ta’ala adalah Dzat yang paling mengetahui tentang makhluk ciptaan-Nya. Dan kita tidak dapat menerima praduga dan prasangka namun jika ada yang mampu meyakinkan kita (yaitu dengan dalil -pen.) yang benar-benar meyakinkan bahwa matahari tetap berada pada posisinya dan bumilah yang berotasi terhadap matahari yang meyebabkan terjadinya perubahan siang dan malam maka ketika itu barulah kita wajib tafsirkan ayat-ayat demikian sehingga ayat-ayat Al Qur’an sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (ذَلِكَ مِنْ آَيَاتِ اللَّهِ) ‘Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah’. Dhomir (ذَلِكَ) ‘itu’ yaitu keadaan para pemuda tersebut berupa :

  1. Keluarnya mereka dari kaumnya.
  2. Keberadaan tempat tinggal mereka di dalam gua.
  3. Allah ‘Azza wa Jalla mudahkan mereka bagi mereka gua yang cocok.

Tidak diragukan lagi bahwa hal itu merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan Shifat Maha Hikmah dan bentuk kasih sayang Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu apakah hal-hal yang dialami para pemuda itu merupakan karomah ? Jawabnya ya benar, hal itu merupakan karomah tanpa ragu.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا) ‘Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya’. Huruf (مَنْ) pada Firman Allah (مَنْ يَهْدِ) merupakan huruf (مَنْ) syarthiyah hal itu ditunjukkan dengan terpusnya huruf ya lazimah dari kata (يَهْدِي). Sedangkan jawab syaratnya adalah (فَهُوَ الْمُهْتَدِ) yang aslinya (الْمُهْتَدِي) dengan huruf ya. Namun huruf ya terhapus sebagai takhfif. Sebagaimana dalam Firman Allah Subhana wa Ta’ala yang lain (الْكَبِيرُ الْمُتَعَالِ) ‘Yang Maha Besar lagi Maha Tinggi’ (QS. Ar Ro’du [13] : 9)

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَمَنْ يُضْلِلْ) ‘barangsiapa yang disesatkan-Nya’ yaitu menjadi orang yang sesat.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala (فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا) ‘maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya’. Pada ayat ini terdapat keterangan dari Allah bahwa sesungguhnya kita tidak memohon hidayah kecuali dari Allah. Sesungguhnya kita tidak boleh berkeluh kesah ketika melihat orang yang sesat. Karena kemampuan untuk menjadikan orang sesat juga berada di tangan Allah.

Kita beriman terhadap takdir Allah dan tidak marah terhadap kesesatan yang terjadi karena itu juga berasal dari ketentuan Allah. Namun wajib bagi kita untuk membimbing mereka yang tersesat. Dalam hal ini ada dua perkara yaitu takdir dan syari’at. Takdir merupakan sebuah hal yang anda harus ridho terhadapnya pada semua keadaan dan realita pada takdir terdapat perincian. Sedangkan syari’at juga wajib anda ridhoi pada semua keadaan juga. Maka kita ridho terhadap takdir Allah yang membagi manusia menjadi dua golongan yaitu yang mendapatkan petunjuk dan yang tersesat. Namun bersamaan dengan itu kita wajib berusaha untuk memberikan petunjuk kepada ummat manusia.

 

 

[diterjemahkan secara bebas dan diringkas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 31-34 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-

[1] HR. Bukhori no. 3199.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply