Syarat Laa Ilaaha Illallahu dan Dalilnya (2)

22 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Syarat  Laa Ilaaha Illallahu dan Dalilnya  (2)

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, washolatu wassalamu ‘ala Nabiyina Muhammmad shallallahu ‘alaihi was sallam, amma ba’du,

Telah berlalu penjelasan ringkas tentang syarat diterimanya kalimat Laa Ilaaha Illallah bagian pertama. Maka pada kesempatan yang baik ini kami akan lanjutkan sedikit penjelasan tentang syarat Laa Ilaaha Illallah bagian kedua yaitu yakin.

Yakin yang dimaksudkan di sini adalah kesempurnaan ilmu tentang kalimat Laa Ilaaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ), yang mana keyakinan ini mampu menghilangkan keragu-raguan pada diri seseorang tentang Laa Ilaaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ). Maka sudah seharusnya orang yang mengucapkan kalimat tauhid (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) meyakini apa yang terkandung dalam kalimat ini dengan keyakinan yang kokoh yang terhujam kuat dalam hatinya tanpa keraguan sedikitpun. Karena iman tidaklah cukup dengan cukup dengan dzon/persangkaan semata melainkan harus dengan ilmu yang melahirkan keyakinan yang kokoh. Kebalikan dari yakin adalah ragu-ragu.

Jika demikian maka keyakinan akan apa yang dikandung dan diinginkan oleh kalimat Laa Ilaaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) merupakan salah satu syarat diterimanya kalimat Laa Ilaaha Illallah seseorang. Sehingga apabila syarat hilang maka hilanglah apa yang dipersyaratkan dari hal tersebut yaitu kalimat Laa Ilaaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ).

Adapun dalil yang menunjukkan bahwasanya yakin merupakan syarat diterminya kalimat Laa Ilaaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) seseorang adalah firman Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu…”.(QS : Al Hujrot [49]  : 15).

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ) yaitu orang-orang mukmin yang imannya sempurna. (الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا) “hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu”, maksudnya mereka tidak ragu dan goyah keyakinannya akan tetapi kokoh pada keyakinan yang satu yaitu percaya yang benar-benar murni.

Yang menjadi syahid dari ayat ini adalah Allah mempersyaratkan keyakinan menjadi suatu hal yang menunjukkan benarnya iman mereka kepada Allah dan RosulNya shallallahu ‘alaihi was sallam yaitu keadaan mereka yang tidak ragu terhadap apa yang menjadi kandungan Laa Ilaaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ). Bahkan mereka dalam keyakinan yang sempurna. Adapun orang-orang yang ragu terhadap apa yang menjadi kandungan Laa Ilaaha Illallah adalah orang-orang yang munafik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُنْ مَعَكُمْ قَالُوا بَلَى وَلَكِنَّكُمْ فَتَنْتُمْ أَنْفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّى جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ وَغَرَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

“Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab, “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu- ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah;dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan) yang amat penipu”.(QS :  Al Hadiid [57]  : 14).

Adapun dalil dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh al Imam Muslim dari Sahabat Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam pernah bersabda,

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنِّى رَسُولُ اللَّهِ لاَ يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Aku bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar disembah melainkan Allah dan bahwa aku (Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam) adalah utusan Allah. Tidaklah seorang hamba yang bertemu dengan Allah dengan membawa kedua syahat tersebut dan ia tidak ragu dengan keduanya melainkan Allah akan masukkan ia ke dalam surga”[1].

Yang menjadi syahid dari hadits ini yang menunjukkan bahwa yakin merupakan syarat diterimanya kalimat Laa Ilaaha Illallah seseorang adalah pada potongan hadits (غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا) “Dan ia tidak ragu dengan keduanya”, dan yakin merupakan kebalikan dari keragu-raguan.

Demikian juga hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam yang juga diriwayatkan oleh al Imam Muslim dan melalui jalur Abu Huroiroh juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam pernah bersabda dalam sebuah hadits yang panjang,

مَنْ لَقِيتُ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ بَشَّرْتُهُ بِالْجَنَّة

“Barangsiapa yang bertemu Aku (Allah) dan ia besyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dengan penuh keyakinan dalam hatinya, maka kabarkanlah padanya kabar gembira berupa surga”[2].

Yang menjadi syahid dari hadits ini yang menunjukkan bahwa yakin merupakan syarat diterimanya kalimat Laa Ilaaha Illallah seseorang adalah pada potongan hadits (مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ) “dengan penuh keyakinan dalam hatinya”.

Tambahan,

Pada kalimat semacam (بَشَّرْتُهُ بِالْجَنَّة) yang terdapat dalam hadits ini bukanlah berarti orang tersebut pasti masuk surga tanpa siksa dan adzab Allah ‘azza wa jalla walaupun seberapa besar dosa yang ia kerjakan, namun yang pasti dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam di atas adalah orang yang bersyahadat Laa Ilaaha Illallah (لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ) dengan penuh keyakinan dalam hatinya adalah orang yang pasti masuk surga selama ia tidak melakukan kesyirikan dan kekafiran yang mengeluarkan dari islam. Adapun dosa-dosa yang ia perbuat maka dirinci apabila dosa yang ia kerjakan dosa besar maka jika ia bertobat dengan tobat nashuha sebelum ajal menjemput, jika tobatnya Allah terima maka ia tidak akan Allah di adzab Allah karena dosanya tersebut namun jika tidak maka hal itu berada pada kehendak Allah, jika Allah mau maka Allah akan mengadzabnya di neraka jika tidak maka Allah Subhanahu wa Ta’ala akan maafkan. Hal ini sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاء

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa kemusyrikan padanya dan Allah mengampuni dosa-dosa yang berada di bawah tingkatan kemusyrikan”. (QS : An Nisaa’  [4] : 48)

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

يُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Allah akan mengadzab siapa saja yang ia kehendaki dan mengampuni siapa yang ia kehendaki, dan Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS : Al Maidah  [5] : 40)

Allahu A’lam bish Showab, diringkas dan diberikan tambahan dari kitab At Tanbihatul Mukhtashoroh oleh Syaikh Ibrohim bin Syaikh Sholeh bin Ahmad Al Khuroisyi hal. 36 dan 43-46.

Aditya Budiman


[1] HR. Muslim no. 45.

[2] HR. Muslim no. 52.



Tulisan Terkait

Leave a Reply