Sumber Aqidah Yang Benar

9 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sumber Aqidah Yang Benar

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Telah dijelaskan bebarapa waktu yang lalu pengertian ringkas seputar aqidah. Jika para pembaca ingin membacanya kembali cukup klik di sini. Selanjutnya kita akan lanjutkan dengan pembahasan penjelasan ringkas sumber pengambilan aqidah ahlus sunnah wal jama’ah.

Syaikh Prof. DR. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Jibrin Hafizhahullah menyebutkan beberapa keutaman Aqidah Islamiyah,

“Sesungguhnya Aqidah Islamiyah merupakan perkara yang bersifat tauqifiyah.

Aqidah Islamiyah bersifat tauqifiyah berdasarkan Kitabullah, hadits Nabi Muhammad bin ‘Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang shohih. Aqidah bukanlah ranah ijtihad karena sumber pengambilannya bersifat tauqifiyah”.

Beliau melanjutkan,

“Hal itu dikarenakan bahwa sesungguhnya aqidah yang benar seharusnya bersifat sesuatu yang yakin dan pasti. Oleh sebab itu tentu saja sumber pengambilannya pun harus dipastikan kebenaran/validitasnya. Ini tidak ditemukan kecuali pada Kitab Allah dan Hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang shohih.

Sebab itu, seluruh sumber pengambilan hukum yang bersifat zhon (tidak pasti benar) seperti qiyas dan akal manusia semata tidak boleh dijadikan sumber dalam pengambilan dan penetapan aqidah. Barangsiapa yang menjadikannya sebagai sumber pengambilan aqidahnya maka dia telah menyimpang dari kebenaran. Berarti dia pun telah menjadikan permasalahan aqidah menjadi masalah ijtihadiyah manusia yang boleh jadi salah atau boleh jadi benar”[1].

Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

“Aqidah itu bersifat tauqifiyah. Sehingga aqidah tidak ditetapkan kecuali berdasarkan dalil dari Pembuat Syari’at (Allah). Oleh sebab itu aqidah bukanlah ranah/ tempat untuk akal dan ijtihad. Oleh sebab itu maka sumber aqidah hanya terbatas pada yang terdapat dalam Al Qur’an dan Sunnah. Sebab tidak ada yang lebih mengetahui apa yang wajib (diimani) atas Nya, apa yang mensucikan Nya daripada Allah. Demikian pula tidak ada yang lebih mengetahui tentang Allah setelah Allah melainkan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Oleh sebab itulah manhaj salafus sholeh dan para ulama yang mengikuti mereka menjadikan sumber pengambilan aqidah terbatas hanya pada apa yang ada dalam Al Qur’an dan Sunnah[2].

Beliau juga mengatakan[3],

Apa saja yang ditunjukkan Al Qur’an dan Sunnah tentang hak Allah Ta’ala maka mereka (para salafus sholeh) pun mengimaninya, menjadikannya aqidah dan beramal dengannya. Sebaliknya apa saja yang tidak ditunjukkan oleh Kitab Allah dan Sunnah Rosul Nya maka mereka pun meniadakannya dari Allah Ta’ala dan menolaknya. Oleh sebab itu tidak terjadi perselisihan/ khilaf diantara mereka terkait masalah aqidah/keyakinan. Bahkan aqidah mereka adalah satu. Sebab Allah menetapkan adanya persatuan kalimat dan manhaj, serta benarnya aqidah  atas orang-orang yang berpegang dengan Kitab Allah dan Sunnah Rosul Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (QS. Ali Imron [3] : 103)

Allah Ta’ala juga berfirman,

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى

“Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”. (QS. Thoohaa [20] : 123)

 

Syaikh DR. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aql Hafizhahullah mengatakan[4],

Mengambil (aqidah) sesuai dengan zhohir Al Qur’an dan Sunnah merupakan fondasi pertama dari fondasi-fondasi ahlu sunnah wal jama’ah. Hal itu dikarenakan kedua dasar ini merupakan satu kesatuan untuk mengambil prinsip aqidah islamiyah. Seorang muslim tidak boleh mengganti keduanya dengan selainnya. Apa yang ditetapkan keduanya maka wajib bagi seorang muslim untuk menetapkannya sebagai aqidah. Sebaliknya apa yang ditiadakan keduanya maka wajib bagi seorang muslim untuk meniadakannya. Tidak ada petunjuk dan kebaikan kecuali dengan berpegang teguh dengan keduanya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

 “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka”. (QS. Al Ahzab [33] : 36)

 

Terakhir sebagai kesimpulan :

Syaikh DR. Nashir ‘Abdul Karim Al ‘Aql Hafizhahullah mengatakan[5],

  1. Sumber aqidah adalah Al Qur’an dan Sunnah Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang shohih serta ijma’ salafus sholeh (para shahabat).
  2. Semua yang shohih dari Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam wajib menerimanya walaupun hadits ahad.
  3. Rujukan dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah adalah nash-nash (Al Qur’an dan Sunnah) yang menjelaskannya, pemahaman salafus sholeh, para imam yang berjalan sesuai dengan jalan mereka. Tidak boleh mempertentangkan apa yang ditetapkan dari sumber-sember ini dengan semata-mata kemungkinan-kemungkinan dalam ilmu sastra Arab.

 

 

Allahu a’lam.

 

 

Sigambal, 14 Robi’ul Akhir 1439 H / 1 Januari 2018 M.

 

 

 

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] Lihat Tahzib Tashil Al Aqidah Al Isamiyah hal. 8 Terbitan Malik Fahad Al Wathoniyah, Riyadh, KSA

[2] Lihat Aqidatut Tauhid hal. 11 terbitan Maktabah Darul Minhaj, Riyadh, KSA.

[3] Idem.

[4] Lihat Manhaj Al Imam Syafii fi Itsbatil Aqidah hal. 80/I terbitan Adhwaus Salaf, Riyadh, KSA.

[5] Lihat Mujmal Ushul Ahli Sunnah wal Jama’ah Fil Aqidah hal. 7 Terbitan Madarul Wathon, Riyadh, KSA

Tulisan Terkait

Leave a Reply