Sihir Yang Makin Parah

5 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sihir Yang Makin Parah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Tak ragu lagi sihir merupakan dosa besar. Hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ,

عَنْ أَبْيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اجْتَنِبُوْا السَّبْعَ المُوَبِقَاتِ قَالُوا يَا رَسَوْلُ اللهِ وَمَا هُنَّ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللهِ والسِّحْرُ….

Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam beliau bersabda, “Jauhilah oleh kalian 7 dosa yang menghancurkan”. Para shahabat bertanya, “Wahai Rosulullah apa 7 dosa itu ? Beliau menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir …[1].

Namun bukan 7 dosa ini yang akan kita ketengahkan. Namun pengaruh sihir dapat menjadi lebih besar apabila sang pelaku semakin berani melakukan perbuatan kekufuran.

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

Sihir Yang Makin Parah

Tukang sihir yang semakin kufur, keji, memiliki permusuhan yang luar biasa terhadap Allah, Rosul Nya dan Hamba Nya yang beriman maka sihirnya akan menjadi lebih kuat dan ampuh. Sihir penyembah berhala lebih kuat dari pada dari kalangan ahlu kitab, sihir orang yang Yahudi akan lebih kuat daripada orang yang masih menisbatkan kepada Islam(muslim). Mereka inilah yang menyihir Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam”.

Kisah seorang Yahudi yang menyihir Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam termaktub dalam Shohihain,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَحَرَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَهُودِىٌّ مِنْ يَهُودِ بَنِى زُرَيْقٍ يُقَالُ لَهُ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ – قَالَتْ – حَتَّى كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهُ يَفْعَلُ الشَّىْءَ وَمَا يَفْعَلُهُ حَتَّى إِذَا كَانَ ذَاتَ يَوْمٍ أَوْ ذَاتَ لَيْلَةٍ دَعَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ دَعَا ثُمَّ دَعَا ثُمَّ قَالَ « يَا عَائِشَةُ أَشَعَرْتِ أَنَّ اللَّهَ أَفْتَانِى فِيمَا اسْتَفْتَيْتُهُ فِيهِ جَاءَنِى رَجُلاَنِ فَقَعَدَ أَحَدُهُمَا عِنْدَ رَأْسِى وَالآخَرُ عِنْدَ رِجْلَىَّ. فَقَالَ الَّذِى عِنْدَ رَأْسِى لِلَّذِى عِنْدَ رِجْلَىَّ أَوِ الَّذِى عِنْدَ رِجْلَىَّ لِلَّذِى عِنْدَ رَأْسِى مَا وَجَعُ الرَّجُلِ قَالَ مَطْبُوبٌ. قَالَ مَنْ طَبَّهُ قَالَ لَبِيدُ بْنُ الأَعْصَمِ. قَالَ فِى أَىِّ شَىْءٍ قَالَ فِى مُشْطٍ وَمُشَاطَةٍ. قَالَ وَجُبِّ طَلْعَةِ ذَكَرٍ. قَالَ فَأَيْنَ هُوَ قَالَ فِى بِئْرِ ذِى أَرْوَانَ ».

قَالَتْ فَأَتَاهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى أُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ ثُمَّ قَالَ « يَا عَائِشَةُ وَاللَّهِ لَكَأَنَّ مَاءَهَا نُقَاعَةُ الْحِنَّاءِ وَلَكَأَنَّ نَخْلَهَا رُءُوسُ الشَّيَاطِينِ ». قَالَتْ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلاَ أَحْرَقْتَهُ قَالَ « لاَ أَمَّا أَنَا فَقَدْ عَافَانِى اللَّهُ وَكَرِهْتُ أَنْ أُثِيرَ عَلَى النَّاسِ شَرًّا فَأَمَرْتُ بِهَا فَدُفِنَتْ ».

Dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Seorang Yahudi menyihir Rosululllah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dari kalangan Yahudi Bani Zuqoir. Dia biasa dipanggil dengan sebutan Lubaid bin Al A’shom. ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha mengatakan, “Hingga Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengigau karenanya. Beliau merasa ingin melakukan sesuatu yang sesungguhnya tidak dilakukannya. Hingga suatu malam Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berdo’a kepada Allah, berdo’a dan berdoa. Lalu beliau mengatakan, “Wahai ‘Aisyah, apakah engkau ingat/merasa ada dua orang laki-laki yang salah satunya duduk di dekat kepalaku sementara yang lainnya duduk dekat kakiku? Lalu orang yang dekat kepalaku bertanya kepada orang yang dekat kakiku atau sebaliknya. ‘Apakah orang ini sakit?’ Jawabnya, ‘Kena sihir/Mathbub’. Dia bertanya lagi, ‘Siapa yang meyihirnya? Dia menjawab, ‘Labib bin Al A’shom’. Dengan apa dia menyihirnya ?’ Dia menjawab, ‘Pakai sisir dan mayang kurma’. Dia bertanya, ‘Dimana sekarang benda itu ?’ Dia menjawab, ‘Di sumur Dzi Arwan’.

‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha berkata, ‘Rosulullah pergi mencari barang-barang itu ditemani beberapa orang shahabatnya kemudian beliau bersabda, “Wahia ‘Aisyah demi Allah aku melihat air sumur itu kemerah-merahan sedangkan pohon kurmanya seperti kepala syaithon”. Aku (‘Aisyah) bertanya, “Wahai Rosullullah mengapa engkau tidak membakarnya ?’ Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Tidak karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyembuhkan aku dan aku tidak suka, benci membalas kejahatan dengan kejahatan. Oleh sebab itu aku perintahkan untuk dikubur saja”[2].

Demikianlah pengaruh kekufuran pada perbuatan sihir. Maka janganlah anda percaya karena ampuh, benar dan berhasilnya keinginan anda kepada dukun dan tukang sihir. Karena ketahuilah semakin ampuh maka semakin kufur perbuatan yang dia persembahkan untuk syaithon.

Allahu A’lam.

 

 

 

Kantor BPMP2T, Zhuhur 20 Syawwal 1436 H / 5 Agustus 2015 M.

Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Bukhori no. 2615 dan Muslim no. 272.

[2] HR. Bukhori no. 5763 dan Muslim no. 2189.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply