Setiap Orang Punya Qorin

3 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Setiap Orang Punya Qorin

Adalah sebuah hal yang harus dicamkan oleh seorang muslim dan mukmin, bahwa Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidaklah melontarkan sebuah kalimat melainkan itu adalah sebuah wahyu yang Allah ‘Azza wa Jalla turunkan kepadanya agar disampaikan kepada ummatnya. Allah Subhana wa Ta’ala mengabadikan hal ini dalam firman Nya,

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى (4)

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”.(QS. An Najm [53] : 3-4)

Syaikh ‘Abdur Rohman bin Nashir As Sa’diy Rohimahullah mengatakan,

{ وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى } أي: ليس نطقه صادرا عن هوى نفسه

{ إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى } أي: لا يتبع إلا ما أوحى الله إليه من الهدى والتقوى، في نفسه وفي غيره.

ودل هذا على أن السنة وحي من الله لرسوله صلى الله عليه وسلم، كما قال تعالى: { وَأَنزلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ } وأنه معصوم فيما يخبر به عن الله تعالى وعن شرعه، لأن كلامه لا يصدر عن هوى، وإنما يصدر عن وحي يوحى.

“Firman Alla Subhana wa Ta’ala (وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى) maksudnya adalah tidaklah sesuatu yang keluar dari lisan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berasal dari hawa nafsunya sendiri. Firman Allah Ta’ala (إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى) maksudnya adalah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidaklah mengikuti melainkan apa yang telah Allah wahyukan kepadanya berupa petunjuk, ketaqwaan bagi dirinya sendiri dan ummatnya. Hal ini menunjukkan bahwa Sunnah/Hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam adalah wahyu dari Allah kepada Rosul-Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَأَنزلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Sungguh telah kami turunkan kepadamu (Muhammad) Kitab (Al Qur’an) dan Hikmah (Sunnah)”. (QS. An Nisa’ [4] : 113)

Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam adalah person yang ma’shum atas apa yang dikabarkannya dari Allah Ta’ala syari’at Nya. Karena perkataan beliau tidaklah muncul dari hawa nafsunya bahkan perkataan beliau adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya”[1].

Oleh karenanya wajib bagi setiap muslim untuk mempercayai apa saja yang disampaikan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam terutama masalah aqidah dan keyakinan.

Diantara perkara aqidah yang dikabarkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam kepada kita adalah sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhuma,

« مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ ». قَالُوا وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « وَإِيَّاىَ إِلاَّ أَنَّ اللَّهَ أَعَانَنِى عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ فَلاَ يَأْمُرُنِى إِلاَّ بِخَيْرٍ ».

“Tidak seorangpun dari kalian melainkan padanya telah didampingi oleh qorinnya dari kalangan jin”. Para sahabat bertanya, “Hal itu juga ada berlaku padamu wahai Rosulullah?” Beliau menjawab, “Ya, demikian juga padaku akan tetapi sesungguhnya Allah telah menolongku atasnya sehingga qorin tersebut telah aslam maka dia tidaklah mengajakku melainkan kepada kebaikan”[2].

Al Imam An Nawawi Rohimahullah mengatakan,

فأسلم برفع الميم وفتحها وهما روايتان مشهورتان فمن رفع قال معناه أسلم أنا من شره وفتنتة ومن فتح قال ان القرين أسلم من الاسلام وصار مؤمنا لايأمرنى إلا بخير واختلفوا فى الأرجح منهما فقال الخطابى الصحيح المختار الرفع ورجح القاضي عياض الفتح وهو المختار لقوله صلى الله عليه و سلم فلا يأمرنى الابخير واختلفوا على رواية الفتح قيل أسلم بمعنى استسلم وانقاد وقد جاء هكذا فى غير صحيح مسلم فاستسلم وقيل معناه صار مسلما مؤمنا وهذا هو الظاهر قال القاضي واعلم أن الأمة مجتمعة على عصمة النبى صلى الله عليه و سلم من الشيطان فى جسمه وخاطره ولسانه وفى هذا الحديث اشارة إلى التحذير من فتنة القرين ووسوسته وإغوائه فأعلمنا بأنه معنا لنحترز منه بحسب الامكان

“Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (فأسلمُ) dapat dibaca dengan memarfu’kan mim atau memfathahkannya. Kedua cara baca di atas adalah cara baca yang masyhur. Para ulama yang membacanya dengan memarfu’kan mim berpendapat maknanya adalah aku (Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) selamat dari keburukannya dan fitnah/godaannya. Ulama yang membacanya dengan fathah (فأسلمَ) berpendapat maknanya bahwa qorin tersebut telah masuk islam sehingga dia menjadi mukmin dan tidaklah mengajakku melainkan kepada kebaikan. Para ulama berbeda pendapat manakah yang lebih kuat dari kedua pendapat di atas. Al Khothobi Rohimahullah mengatakan, ‘Pendapat yang benar dan terpilih adalah membacanya dengan marfu’. Adapun Al Qodhi ‘Iyaadh Rohimahullah mengatakan, ‘Pendapat yang membacanya dengan fathah adalah pendapat yang terpilih berdasarkan sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (فَلاَ يَأْمُرُنِى إِلاَّ بِخَيْرٍ) dia (qorin yang ada pada diriku) tidaklah mengajakku melainkan kepada kebaikan. Para ulama berselisih pendapat terhadap riwayat yang membacanya dengan fathah. Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah istaslama (menyerah) dan patuh. Makna yang demikian kita temui dalam riwayat-riwayat selain yang dicantumkan Muslim dalam Shohihnya. Pendapat lain menyebutkan maknanya adalah qorin tersebut telah masuk islam sehingga menjadi muslim dan mukmin. Pendapat inilah yang sesuai dhohir. Al Qodhi ‘Iyaadh mengatakan, ‘Ketahuilah bahwa ummat telah sepakat atas terjaganya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dari syaithon baik tubuhnya, hatinya dan lisannya’. Ini adalah isyarat yang menunjukkan akan bahayanya fitnah qorin, keraguan dan perbuatan melampaui batas’. Maka Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah menginformasikan kepada kita bahwa qorin tersebut bersama kita agar kita berhati-hati sebisa yang kita mungkin”[3].

Dalam riwayat lain disebutkan,

ما منكم من أحد إلا وله شيطان

“Tidaklah salah seorang kalian melainkan baginya ada/didampingi seorang syaithon”.[4]

Dalam riwayat milik Imam Ahmad Rohimahullah disebutkan,

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنْ الْجِنِّ وَقَرِينُهُ مِنْ الْمَلَائِكَةِ

“Tidaklah salah seorang kalian melainkan baginya ada/didampingi seorang qorin dari kalangan jin dan dari kalangan malaikat[5].

Maka siapakah yang menjamin diri kita aman dari godaan qorin kita ??!!

Maka mari pertebal iman dan perkuat ketaqwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

 

 

Mudah-mudahan bermanfaat.

Sigambal,

setelah isya di Bulan Sya’ban 1434 H

 

 

Aditya Budiman bin Usman



[1] Lihat Taisir Karimir Rohman.

[2] HR. Muslim no. 7286.

[3] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim hal. 155-156 terbitan Darul Ma’rifah, Beirut.

[4] HR. Ibnu Hibban no. 6416. Syaikh Syu’aib Al Arnauth Rohimahullah mengatakan, “Sanadnya kuat”.

[5] HR. Ahmad no. 3802, Syaikh Syu’aib Al ‘Arnauth Rohimahullah mengatakan, “Sanadnya shohih sebagaimana syarat Muslim……..”.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply