Seperti Membebaskan Seorang Budak

11 Oct

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seperti Membebaskan Seorang Budak

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Seorang budak, hartanya dan dirinya adalah milik tuannya. Artinya seluruh potensi yang ada pada seorang budak merupakan milik tuannya. Dengan kata lain budak adalah properti tuannya. Lantas terbayang gak dalam pikiran kita, tentulah harga seorang budak demikian fantastis. Namun perlu juga diketahui bahwa perbudakan terjadi jika ada peperangan antara negeri muslim dan non muslim. Sehingga pihak yang kalah dapat menjadi budak.

Nah terbayang lagi gak dalam benak kita, seandainya kita dapat membebaskan, menebus seorang budak dari tuannya ? Betapa besar pahala yang akan menanti. Pahala besar ini seakan tak mungkin kita gapai karena hampir dapat dikatakan bahwa perbudakan sudah tidak ada lagi. Namun alhamdulillah ada sebuah amalan sederhana yang pahalanya setara membebaskan seseorang dari perbudakan. Amalan tersebut adalah sebagaimana yang tercantum dalam atsar berikut.

مَنْ قَطَعَ تَمِيمَةً عَنْ إِنْسَانٍ كَانَ كَعِدْلِ رَقَبَةٍ

Dari Sa’id bin Jubair Rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Barangsiapa yang memutuskan sebuah jimat dari diri seseorang maka seolah-olah dia sudah membebaskan leher seseorang”[1].

Syaikh DR Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

Seperti Membebaskan Seorang Budak 1

“Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (كَعِدْلِ رَقَبَةٍ) yaitu baginya pahala semisal pahala membebaskan seorang budak”[2].

Seperti Membebaskan Seorang Budak 2

“Karena seseorang yang mengantungkan jimat sebenarnya dia sedang menghambakan dirinya kepada syaithon (menjadi budaknya). Sehingga ketika jimat tersebut diputus maka terputuslah dia dari perbudakan syaithon[3].

Syaikh Sholeh Alu Syaikh Hafizhahullah menyampaikan sebab lainnya,

Seperti Membebaskan Seorang Budak 3

“Ini merupakan keutamaan menanggalkan jimat. Karena hal itu adalah bentuk kemusyrikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kemusyrikan kecil dapat memasukkan ke neraka dan pelakunya terancam neraka. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa kemusyrikan kepadanya”.

(QS. An Nisa [4] : 48).

Demikian juga sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati sedangkan dia menyekutukan Allah dengan sesuatu apapaun maka dia akan masuk neraka”[4].

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati sedangkan dia melakukan kemusyrikan kepada Allah dengan sesuatu apapun maka dia akan masuk neraka”[5].

Sehingga barangsiapa yang memutuskan jimat dari leher orang yang menggantungkannya maka dia layaknya orang yang membebaskan budak. Ini seperti seseorang yang diputuskan kalung neraka darinya. Karena perbuatan menggantungkan jimat terancam hukuman masuk neraka. Sehingga ketika seseorang memutuskan jimat tersebut maka balasan perbuatannya adalah yang semisal dengannya. Artinya sebagaimana dia telah memutuskan ikatan neraka dari seseorang maka diapun akan mendapatkan balasan semisal yaitu membebaskan belenggu perbudakan dari leher seseorang”[6].

Sungguh Tidak Inginkah Kita Mendapatkannya ??

 

Setelah Subuh,

23 Dzul Hijjah 1436 H bertepatan dengan 6 Oktober 2015

Aditya Budiman bin Usman.

[1] HR. Ibnu Abu Syaibah dalam Mushonnafnya no. 23939.

[2] Lihat Al Mulakhos Syarh Kitab Tauhid oleh DR. Sholeh bin Fauzan Hafizhahullah hal. 86 Terbitan Darul ‘Ashimah, Riyadh, KSA

[3] Idem.

[4] HR. Bukhori no. 4497.

[5] HR. Bukhori no. 1238.

[6] Lihat At Tamhid Syarh Kitab Tauhid hal. 142 terbitan Dar Imam Bukhori Qatar.

Tulisan Terkait

Leave a Reply