Sebuah Kaidah Emas [1]

27 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebuah Kaidah Emas [1]

Alhamdulillah kita haturkan dengan lisan dan bathin serta kita kita realisasikan dengan amal kita atas apa yang Allah berikan kepada kita berupa nikmat memeluk satu-satunya agama yang benar yaitu agama islam. Islam merupakan agama yang telah sempurna, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kusempurnakan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu”[1]. (QS : Al Maidah [5] : 3).

Tidak hanya sampai di situ, islam juga merupakan agama yang mudah sebagaimana sabda Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi was sallam,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama (islam) itu mudah, tidaklah orang yang menyusah-nyusahkan agama kecuali dia akan binasa”[2].

Namun bukanlah berarti kemudahan itu membuat kita terhanyut untuk bermudah-mudah meninggalkan perintah dan melanggar larangan Allah dan RosulNya shallallahu ‘alaihi was sallam. Diantara kemudahan tersebut adalah Allah ilhamkan kepada para ulama untuk membuat kaidah dalam agama, yang dengan kaidah-kaidah tersebut memudahkan orang-orang setelah mereka memahami islam.

Berikut kami kutipkan sebuah kaidah yang sangat bermanfaat untuk memahami dalil-dalil Al Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam kaidah itu dicantumkan Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah rohimahullah dalam kitabnya Al Iman[3]. Beliau rohimahullah membuat tiga kaidah/metode,

  • طَرِيْقُ المُطَابَقَةِ [metode Muthobaqoh], yaitu metode yang memandang suatu lafadz dengan aspek makna dan anggota lafadz secara menyeluruh.
  • طَرِيْقُ التَضَمُّنِ [metode Tadhommun], yaitu metode yang memandang suatu lafadz dengan aspek makna atau anggota lafadz.
  • طَرِيْقُ اللُّزُوْمِ [metode Luzum/Iltizam], yaitu metode yang memandang suatu lafadz dengan aspek makna yang merupakan kelaziman/konsekwensi suatu lafadz[4].

Penggunaan 3 Metode ini dalam Masalah Asma’ dan Shifat Allah

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’anul Kariim,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُن

Allah adalah Dzat Yang Menciptakan tujuh lapis langit dan semisal itu pula bumi”. (QS : Ath Tholaq [65] : 12).

Dan juga,

هُوَ اللَّهُ الْخَالِق

“Dia adalah Allah Dzat Yang Maha Pencipta”. (QS : Al Hasyr  [59] : 24).

Jika ditinjau dengan metode Muthobaqoh maka nama Allah Al Kholiq (الْخَالِق) ini menunjukkan bahwa salah satu nama Allah adalah Al Kholiq (الْخَالِق) dan sekaligus menunjukkan bahwa Allah memiliki shifat Kholq (الْخَلْقَ) Maha Mencipta, dengan demikian seluruh nama Allah mengandung 2 hal yaitu nama sekaligus shifat. Kemudian dengan kaidah ini kita dapat membantah aqidah ahlu ta’thil (orang-orang yang menolak penetapan shifat Allah) tepatnya Mu’tazilah[5] yang mengatakan bahwa semua nama Allah tidak mengandung shifat, hal ini karena kaidah yang mereka buat dari akal mereka yang terbatas, bahwa penetapan shifat pada setiap nama Allah berarti menetapkan berbilangnya Dzat Allah sedangkan kita (Mu’tazilah) mengingkari keyakinan Nashrani yang mengatakan bahwa Allah merupakan satu bagian dari 3 unsur[6]. Maka dengan kaidah ini jelaslah kabathilan keyakinan mereka karena penetapan shifat tidak sama sekali berkonsekwensi berbilangnya dzat yang dishifati tersebut. Kita tambahkan bahwa manusia punya banyak shifat semisal ada wujudnya, pemarah dan lain-lain akan tetapi orang yang dishifati dengan shifat tersebut adalah orang yang satu walaupun memiliki shifat yang banyak.

Kemudian jika ditinjau dengan metode Tadhommun maka nama Allah Al Kholiq (الْخَالِق) menunjukkan bahwa salah satu nama Allah adalah Al Kholiq (الْخَالِق) atau salah satu shifat Allah adalah Kholq (الْخَلْقَ) Maha Mencipta. Dengan demikian Dzat yang memilik nama Al Kholiq (الْخَالِق) adalah Dzat yang memiliki nama As Sami’ (الْسَّمِيْعُ) yaitu Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian juga shifat yang terkandung dalam nama Allah Al Kholiq (الْخَالِق) tidak sama dengan shifat yang terkandung dalam nama Allah As Sami’ (الْسَّمِيْعُ). Demikian seterusnya seluruh Asma’ dan shifat Allah. Sehingga dengan kaidah ini kita dapat membantah aqidah Jahmiyah yang menolak penetapan nama dan shifat Allah[7]. Mereka (Jahmiyah) beralasan jika kita (Jahmiyah)  menetapkan asma’ dan shifat Allah maka berarti kita mengatakan ada banyak Allah. Maka kita bantah dengan kaidah/metode yang kedua ini, bahwa nama dan shifat Allah adalah suatu yang sinonim dengan pengertian nama Allah Al Kholiq (الْخَالِق) dan nama Allah As Sami’ (الْسَّمِيْعُ) menunjukkan kepada Dzat yang sama yaitu Allah. Sedangkan  shifat Allah Kholq (الْخَلْقَ) Maha Mencipta berbeda maknanya dengan shifat Allah  As Sam’u (الْسَّمْعُ) Maha Mendengar[8].

Kemudian metode yang ketiga adalah metode iltizam, kita ambil contoh dalam nama dan shifat Allah ‘Azza wa Jalla, Kholiq (الْخَالِق), dalam nama ini terkandung nama Allah adalah Kholiq (الْخَالِق) dan Allah memiliki shifat Kholq (الْخَلْقَ) Maha Mencipta. Maka dengan kaidah/metode ketiga ini kita dapat menetapkan bahwa Allah pasti memiliki shifat Al Ilmu (العِلْمُ) Maha Mengetahui, Al Hayyah (الحَيَةُ) Maha Hidup, Al Qudroh (القُدْرَةُ) Maha Memiliki Kemampuan/Keinginan karena sudah merupakan konsekwensi dari Dzat memiliki shifat  Kholq (الْخَلْقَ) Maha Mencipta pastilah memiliki shifat Al Ilmu (العِلْمُ) Maha Mengetahui, Al Hayyah (الحَيَةُ) Maha Hidup, Al Qudroh (القُدْرَةُ) Maha Memiliki Kemampuan/Keinginan[9].

Demikian juga ketiga metode ini berlaku untuk lafadz nama Kitab Allah, nama RosulNya dan nama agamaNya.

Contoh salah satu nama Kitab Allah (Al Qur’an) adalah Al Furqonyang berarti pembeda antara yang benar dan yang bathil, sebagaimana firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ

Maha suci Dzat yang menurunkan Al Furqon (yaitu Al Qur’an karena dia merupakan pembeda antara yang benar dan yang bathil[10])”. (QS : Al Furqon  [25] : 1).

Demikian juga diantara nama Al Qur’an adalah Syifa’ yang berarti obat sebgaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآَنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Dan telah Kami (Allah) turunkan pada Al Qur’an yang dia adalah obat[11] dan rahmat bagi orang-orang mukmin”. (QS : Al Isro’  [17] : 82).

Maka berarti dengan metode Muthobaqoh salah satu nama Al Qur’an adalah Al Furqon dan salah satu shifat Al Qur’an adalah Furqon (pembeda antara yang benar dan yang bathil) dan Asy Syifa’ adalah salah satu nama Al Qur’an dan salah satu shifatnya adalah Syifa’ (obat). Demikian juga dengan metode Tadhommun yang berarti bahwa Al Qur’an, Al Furqon dan Asy Syifa’ menunjukkan pada sesuatu yang sama yaitu kitab Allah.

Bersambung Insya Allah….

Yang Selalu Berharap AmpunanNya,

Aditya Budiman


[1] Lihat tulisan kami seputar pembahasan kesempurnaan islam dengan judul “Kesempurnaan Islam”. di www.alhijroh.com dan www.manhaj.or.id.

[2] HR. Bukhori no. 39.

[3] Al Iman oleh Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim bin Taimiyah rohimahullah hal. 148, dengan takhrij hadits oleh Amirul Mukminin fil Hadits di zaman ini Al Albani rohimahullah, terbitan Al Maktab Al Islamiy, Beirut.

[4] Penjelasan ketiga makna metode ini kami ambil dari Syarh Al Qowaidul Mutslaa oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah, hal.56, dengan Ta’liq oleh Syaikh Abu Ya’qub Nasy’at bin Kamal Al Mishriy, terbitan Darul Atsar, Kairo.

[5] Lihat keterangan ringkas tentang Mu’tazilah ini dalam tulisan kami yang berjudul “Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [4]” di www.alhijroh.com.

[6] Lihat Syarh Al Qowaidul Mutslaa oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah, hal.43-44, dan jelaslah bagi kita maksud baik semata tidaklah bermanfaat jika caranya salah.

[7] Lihat Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah oleh Syaikh Prof. DR. Abdullah bin Abdul Aziz Al Jibrin hafidzahullah hal. 55 terbitan Mulk Fahd, Riyadh, KSA.

[8] Jelaslah bagi kita maksud baik semata tidaklah bermanfaat jika caranya salah.

[9] Lihat penjelasan semisal di Syarh Al Qowaidul Mutslaa oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah, hal.58.

[10] Lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi dengan ta’liq dari Syaikh Shofiyurrohman Al Mubarokfuri hafidzahullah hal. 370 cet. Darus Salam, Riyadh, KSA.

[11] Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan huruf min (مِن) dalam ayat ini merupakan huruf min (مِن) jinsiyah (min yang menunjukkan keseluruhan) dan bukan min tab’idiyah (yang menunjukkan sebagian) karena itulah Al Qur’an merupakan Obat dan Rahmat bagi orang-orang mukmin. [lihat Ad Da’u wad Dawa’u oleh Ibnul Qoyyim rohimahullah hal. 13 dengan pentahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.]

Tulisan Terkait

2 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. w Kassim
    Apr 16, 2010 @ 02:37:04

    Salam,

    Saya sepakat Islam merupakan agama ayang telah SEMPURNA dan ia juga adalah MUDAH. Oleh kerana mudahnya, maka pengikut-pengikut awal nabi, yang terdiri dari orang biasa bisa memahami Quran yang disampaikan oleh nabi. Mereka juga tidak punya dan tidak perlu sebarang kitab selain Quran untuk menjelaskan tentang agama islam.

    Soalnya, kalau Quran itu telah sempurna, kenapa sekarang manusia kelihatan berterusan bikin kitab-kitab untuk menyempurnakan islam (Quran) yang telah sempurna itu?

    Dan kalau Islam seperti yang diajarkan nabi itu mudah, apa perlunya orang membikin berbagai kaidah-kaidah yang kononnya untuk memudahkan islam yang memangnya sudah mudah itu? Sebenarnya kaidah-kaidah itu telah menjadikan islam yang mudah menjadi susah.

    Tentunya sesuatu yang sudah sempurna tidak memerlukan penyempurnaan, sebagaimana juga sesuatu yang mudah tidak memerlukan pemudahan/penjelasan.

    Reply

    • Aditya Budiman
      Jul 25, 2012 @ 05:01:55

      kalau anda ditanya apa hukumnya makan ikan nila ? cobalah jawab dengan hadits tanpa menggunakan kaidah yang disusun para ulama berdasarkan dalil dari al Qur’an dan Sunnah….

      Reply

Leave a Reply