Sebab-sebab Penyimpangan Aqidah

4 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sebab-sebab Penyimpangan Aqidah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Aqidah merupakan harta paling berharga seorang muslim. Dengannya dia terbedakan dari manusia secara umum. Dengannya diketahui mana manusia yang kafir dan mana yang mukmin. Dengannya pula diketahui mana mukmin yang ahlu sunnah wal jama’ah dan mana yang bukan.

Asalnya aqidah setiap muslim aqidah yang satu dari zaman ke zaman, sejak masa Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam hingga akhir zaman. Sebab sebagaimana telah kami sebutkan bahwa sumber aqidahnya sama yaitu Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana pemahaman para shahabat beserta orang-orang yang mengikuti jejak mereka (silakan klik di sini).

Namun dalam perjalanan masa, banyak diantara kaum muslimin yang aqidahnya menyimpang/ tersimpangkan menuju aqidah yang bathil, rusak bahkan kekufuran atau kemusyrikan. Kekeliruan dalam aqidah ini pun bertingkat-tingkat, ada yang mengeluarkan seseorang dari keyakinan ahlu sunnah wal jama’ah bahkan ada yang mengeluaran seseorang dari Islam. Wal ‘Iyadzu Billah.

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan[1],

“Penyimpangan dari aqidah yang benar memiliki beberapa sebab yang wajib diketahui, beberapa sebab yang paling berpangaruh diantaranya :

[1]. Ketidaktahuan/ jahil akan aqidah yang benar disebabkan berpaling dari mempelajari dan pengajaran yang disampaikan, kurangnya perhatian dan kurang menganggap penting permasalahan aqidah. Hingga muncullah generasi, masa dimana tidak dikenal lagi aqidah yang benar tersebut, atau tidak diketahui mana aqidah yang telah menyimpang dari aqidah yang benar. Sehingga seseorang menyakini sebuah kebenaran sebagai sebuah kebathilan dan kebathilan sebagai kebenaran. Sebagaimana ucapang ‘Umar bin Al Khothob Rodhiyallahu ‘anhu,

إنما تُنْقَضُ عُرى الإسلام عُرْوَةً عُرْوَةً إِذَا نَشَأَ فِيْ الإِسْلَامِ مَنْ لَا يَعْرِفُ الجَاهِلِيِةَ

 “Sesungguhnya ikatan-ikatan Islam itu akan lepas seutas demi seutas jika muncul orang-orang yang tidak kenal perkara-perkara jahiliyah”.

[2]. Fanatik buta dengan (keyakinan -pen) orang-orang tua dan nenek moyang, sangat memegang erat keyakinan tersebut walaupun sudah tahu salah, rela meninggalkan kebalikannya (kebenaran -pen) meskipun keyakinan itulah yang benar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آَبَاءَنَا أَوَلَوْ كَانَ آَبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

 “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (keyakianan -pen[2]) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk ?”. (QS. Al Baqoroh [2] : 170).

“[3]. Taqlid buta dengan mengambil, menjadikan apa kata orang dalam masalah aqidah tanpa tahu dalilnya, sejauh mana validitasnya. Sebagaimana hal ini terjadi pada kelompok-kelompok yang menyimpang dari kalangan jahmiyah, mu’tazilah, asy’ariyah, sufiyah dan lain-lain. Mereka taqlid buta dengan orang-orang sebelum mereka merupakan gembong kesesatan dan orang-orang yang menyimpang lainnya. Maka mereka pun tersesat dan dipalingkan dari aqidah/keyakinan yang benar”.

“[4]. Ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap para wali dan orang-orang sholeh. Sehingga menempatkan mereka di atas kedudukan mereka yang semestinya. Sehingga meyakini bahwa mereka ada sesuatu ‘kemampuan’ yang sebenarnya tidak dapat dilakukan kecuali Allah. Misalnya mendatangkan manfaat atau menolak marabahaya. Menjadikan mereka sebagai perantara antara para hamba dengan Allah dalam hal pengkabulan do’a. Bahkan boleh jadi kondisinya semakin parah dengan menjadikan mereka sebagai sesembahan selain Allah. Demikian pula bertaqorrub di kuburan mereka, bernadzar kepada mereka, berdo’a, beristighosah dan meminta pertolongan kepada mereka. Sebagaimana telah terjadi pada kaumnya Nabi Nuh terhadap orang-orang sholeh mereka, ketika mereka berkata (sebagaimana diabadikan Allah dalam Al Qur’an -pen),

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آَلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

 “Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) sesembahan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) kepada wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr”. (QS. Nuh [71] : 23).

Demikianlah yang terjadi pada para penyembah qubur di masa ini di berbagai penjuru negeri-negeri”.

“[5]. Lalai dari mentadabburi ayat-ayat Allah yang kauniyah (ciptaan Nya -pen) maupun ayat-ayat Allah di dalam Al Qur’an. Tenggelam dalam peradaban, pemikiran yang kebarat-baratan yang berorientasi materialistis. Hingga mereka mengira bahwa sesungguhnya itulah tujuan penciptaan manusia. Sehingga mereka demikian mengagungkan manusia hebat (yang dianggap punya banyak meteri/ maju) dan menyandarkan semua kenikmatan dunia berupa kemajuan teknologi/ peradaban ini semata-mata karena kehebatannya dan murni hasil usahanya. Sebagaimana ungkapan Qorun di masa lampau yang diabadikan dalam Al Qur’an,

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي

 “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”.

(QS. Al Qoshosh [28] : 78).

Sebagaimana yang dikatakan orang-orang (yang juga sombong -pen),

هَذَا لِي

 “Ini adalah hak milikku”. (QS. Fusshilat [41] : 50).

Dan,

إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ

 “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”.

(QS. Az Zumar [39] : 49).

“Mereka tidak memikirkan, merenungkan atas keagungan Dzat yang menciptakan semua itu, memendam berbagai macam keistimewaan yang luar biasa, penciptaan manusia, anugrahkan kepada manusia berupa kemampuan untuk menggali dan memanfaatkan keistimewaan-keistimewaan yang luar biasa ini. Firman Allah Ta’ala,

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ

“Ini adalah hak milikku”. (QS. Ash Shoffat [37] : 96).

“[6]. Umumnya rumah tangga saat ini kosong dari taujihat/arah keagamaan yang benar. Padahal Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

 “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan sesuai fithrohnya (dasar-dasar aqidah yang benar yaitu islam/ tauhid –pen). Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya yahudi, nashrani atau majusi”[3].

“[7]. Tidak/ kurang berfungsinya media pendidikan, pengajaran, sarana informasi keagamaan dalam menunaikankan kewajibannya dalam menyampaikan (kebaikan dan kebenaran –pen). Sungguh telah muncul berbagai metode pengajaran, pendidikan yang kurang atau bahkan tidak sama sekali memperhatikan sektor agama secara maksimal”.

Bahkan kita lihat sendiri, sarana atau kesempatan yang memang seharusnya diisi dengan taujihat, kajian, ulasan keagaman (misal mimbar/khutbah jum’at) berubah jadi ajang membuka borok penguasa, mencela dan menjadikan kaum muslimin/ rakyat benci terhadap pemimpinnya. Jadilah wahana ini berubah menjadi kuliah singkat membedah isu koran. Allahul musta’an.

 

Jika kita renungkan apa yang disampaikan Syaikh Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah ini benar adanya dan tidak mengada-ada.

Sigambal,

Selesai hujan, 6 Sya’ban 1438 H, 21 April 2018 M

 

 

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] Lihat Aqidatu Tauhid hal. 14-16 terbitan Darul Minhaj, KSA.

[2] Berupa penyembahan terhadap berhala. Silakan lihat Tafsiran Jalalain.

[3] HR. Bukhori no. 1385 dan Muslim no. 6697.

 

 

Tulisan Terkait

One Comment ( ikut berdiskusi? )

Leave a Reply