Renungan Buatku dan Buatmu…

8 Nov

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Renungan Buatku dan Buatmu…

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Pembaca sekalian –semoga Allah merahmati kita semua-, Al Qur’an merupakan sebuah mukjizat terbesar Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi was sallam. Allah turunkan mukjizat terbesar ini dengan tujuan agar ummat NabiNya metadabburinya sehingga mereka dapat mengambil pelajaran darinya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آَيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Ini (Al Qur’an) adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu (Nabi Muhammad) penuh dengan berkah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”. (QS : Shood [38] : 29).

Oleh karena itulah sudah menjadi kewajiban dan bentuk syukur kita atas nikmat yang amat agung ini mempelajari isi kandungan Al Qur’an (tadabbur)  sehingga kita bisa mengambil pelajaran darinya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ . أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ . أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ . أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (Para Rosul), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (ketika mereka lalai dengan nikmat yang Allah berikan kepada mereka sebagai bentuk istdroj kemudian Allah datangkan adzab yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi “. (QS : Al A’rof [8] : 96-99).

Berikut tafsiran ringkas untuk ayat ini yang kami sarikan dari Kitab Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy rohimahullah[1].

Allah Subahanahu wa Ta’ala mengingatkan tatkala mengadzab orang-orang yang mendustakan para rosul[2] dengan Allah timpakan kepada mereka kesusahan sebagai bentuk peringatan kepada mereka. Demikian juga (terkadang) Allah berikan kepada mereka kelapangan dan kesenangan sebagai bentuk makar Allah dan istidroj kepada mereka.  Allah menyebutkan dalam ayat ini bahwa seandainya penduduk suatu negri beriman dengan iman yang benar (bukti benarnya iman adalah beramal), bertaqwa kepada Allah secara lahiriyah dan bathin dengan meninggalkan hal-hal yang Allah haramkan maka sungguh Allah akan bukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi mereka tidak (benar-benar) beriman dan bertaqwa. Sehingga Allah berfirman dalam lanjutan ayat,

فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Allah siksa mereka dengan siksaan berupa bala bencana, tidak berkahnya harta, dan banyaknya kematian. Hal-hal ini merupakan sebagian bentuk balasan dari perbuatan mereka, jika Allah balas semua perbuatan mereka maka sungguh takkan ada satu binatangpun yang mampu hidup di atas bumi ini[3].

Firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى

Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman….”.

Yang dimaksud dengan (أَهْلُ الْقُرَى) adalah para pendusta rosul-rosul. Firman Allah

أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ

“…..dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?

Maksudnya apakah mereka para pendusta rosul-rosul merasa aman dari kedatangan siksa/adzab Allah yang keras ketika mereka dalam keadaan lalai kepadaNya, puncak kejayaan mereka dan ketika mereka sedang beristirahat dan lapang. Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ

Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?

Maksudnya apakah diantara mereka ada yang merasa aman dari adzab Allah diantara kedua waktu tersebut[4] padahal mereka telah melakukan sebab-sebab yang dapat mendatangkan adzab Allah? Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

Maka apakah mereka merasa aman dari makar Allah (ketika mereka lalai dengan nikmat yang Allah berikan kepada mereka sebagai bentuk istdroj kemudian Allah datangkan adzab yang tidak terduga-duga)?Tiada yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi”.

Sesungguhnya barangsiapa yang merasa aman dari makar Allah maka ia adalah orang yang tidak beriman dengan adanya balasan atas perbuatan-perbuatan maksiat dan ia adalah orang yang tidak benar-benar beriman kepada para utusan Allah.

Ayat-ayat yang mulia ini mengandung hal-hal yang amat menakutkan sehingga tidaklah selayaknya seorang merasa aman dengan iman yang ada pada dirinya. Akan tetapi hendaklah ia senantiasa takut akan datangnya cobaan yang dapat merontokkan kadar imannya serta santiasa berdo’a dengan do’a,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku dalam agamamu (keta’atan kepadaMu[5])[6].

Demikian juga hendaklah seorang muslim beramal dan berusaha melakukan semua sebab yang dapat menyelamatkan dirinya dari adzab Allah (berupa amal keta’atan) ketika terjadi bencana dari Allah.

Diakhir tulisan ini kami nukilkan perkataan Al Hasan Al Bashri yang dicantumkan Ibnu Katsir Asy Syafi’i rohimahumallah dalam tafsirnya untuk ayat ini.

المُؤْمِنُ يَعْمَلُ بِالطَّاعَاتِ وَهُوَ مُشْفِقٌ وَجِلٌ خَائِفٌ، وَالْفَاجِرُ يَعْمَلُ بِالْمَعَاصِي وَهُوَ آمِنٌ.

Seorang mukmin (sejati) adalah orang yang beramal keta’atan dan ia takut dan khawatir (amalnya tidak diterma Allah dan takut dari makar Allah). Sedangkan orang yang fajir adalah orang yang berbuat maksiat dan ia merasa aman (dari makar Allah)[7].

Mudah-mudahan tulisan ini dapat membuka pintu hati kita sehingga kita termasuk orang yang dapat mengambil pelajaran dari musibah yang menimpa kita sebagaimana yang Allah firmankan,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena kemaksiatan dan dosa mereka, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar, taubat)”. (QS. Ar Ruum [30] : 41)

Dikumpulkan oleh

al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi,

Aditya Budiman

Menjelang Pagi, Selasa, 2 Dzul Hijjah/09 November 2010 M.


[1] Halaman 275-276 terbitan Dar Ibnu Hazm, Beirut.

[2] Ketahuilah sebesar besar bentuk kedustaan kepada mereka adalah mendustakan inti ajaran setiap rosul yaitu mentauhidkan Allah dalam ibadah, sebagaimana firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh benar-benar telah kami utus pada setiap ummat seorang rosul (untuk memerintahkan) sembahlah Allag semata dan jauhilah Toghut”. (QS : An Nahl [16] : 36).

Demikian juga firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Tidaklah kami mengutus seorang Rosul/utusan sebelummu (Wahai Muhammad) kecuali kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Aku (Allah) maka bertauhidlah pada Ku (Allah)”. (QS : Al Anbiya’  [21] : 25).

[3] Lihat tulisan kami yang berjudul “Musibah [Sebab, Obat dan Hikmahnya]” di www.alhijroh.com.

[4] Yaitu ketika tidur dan ketika matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain.

[5] Lihat Faidhul Qoodir Syarhul Jami’ Ash Shoghir oleh Muhammad Abdur Rouf Al Munawiy rohimahullah hal. 481/II, Asy Syamilah.

[6] HR. Tirmidzi no. 2140, dinilai shohih oleh Al Albani.

[7] Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir oleh Syaikh Musthofa Al Adawiy hafidzahullah hal. 152/II, terbitan Dar Ibnu Rojab, Kairo, Mesir

Tulisan Terkait

Leave a Reply