Punya Kesaktian Namun Tidak Taat Nabi

7 Nov

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Punya Kesaktian Namun Tidak Taat Nabi

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Sering sekali kita temukan iklan atau reklame yang isinya fulan mampu menyembuhkan segala macam penyakit dalam waktu yang hampir mustahil secara medis. Demikian pula Fulan dapat menyembuhkan suatu penyakit tanpa operasi. Padahal penyakit tersebut merupakan penyakit yang notabene memerlukan operasi.

Atau ada lagi orang yang mengklaim bahwa dirinya mengetahui barang hilang. Bisa terbang, tidak mempan dibacok dan seterusnya. Kemampuan-kemampuan tersebut bukan merupakan kemampuan manusia sebagaimana biasanya. Nah, isitilah para ulama untuk kemampuan yang demikian adalah khowariqul adah (خَوَارِقُ العَادَاتِ) dan mukasyafat (المُكَاشَفَاتُ).

Lantas bagaimana kita menyikapinya ?

Berikut kami nukilkan kaidah penting bagi kita untuk menyikapi orang yang demikian.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) Rohimahullah mengatakan[1],

punya-kesaktian-namun-tidak-taat-nabi-1

“Tentang kelompok-kelompok orang-orang musyrik diantara kaum musyrikin Arab, India, Turki, Yunani dan lain-lain yang pada diri mereka ada kesungguhan terhadap ilmu, kezhuhudan dan ibadah. Namun mereka tidak mau mengikuti ajaran para Rosul. Mereka pun tidak beriman atas apa yang dibawa para Rosul. Mereka pun tidak membenarkan khabar yang dibawa para Rosul. Mereka pun tidak menta’ati apa yang diperintahkan para Rosul. Maka mereka itu bukanlah termasuk orang-orang yang beriman. Mereka pun tidak termasuk wali Allah. Namun mereka adalah orang-orang yang syaithon menyertai mereka, syaithon hinggap pada diri mereka. Kemudian mereka pun mampu menyingkap tabir beberapa perkara. Mereka pun memiliki kemampuan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa/sakti yang mirip sihir. Mereka itu termasuk golongan dukun, tukang sihir yang syaithon menghinggapi mereka. Allah Ta’ala berfirman,

هَلْ أُنَبِّئُكُمْ عَلَى مَنْ تَنَزَّلُ الشَّيَاطِينُ (221) تَنَزَّلُ عَلَى كُلِّ أَفَّاكٍ أَثِيمٍ (222) يُلْقُونَ السَّمْعَ وَأَكْثَرُهُمْ كَاذِبُونَ (223) وَالشُّعَرَاءُ يَتَّبِعُهُمُ الْغَاوُونَ (224) أَلَمْ تَرَ أَنَّهُمْ فِي كُلِّ وَادٍ يَهِيمُونَ (225)

 “Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa syaithon – syaithon itu turun ? Mereka turun kepada tiap-tiap pendusta lagi yang banyak dosa. Mereka menghadapkan pendengaran (kepada syaithon) itu, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang pendusta. Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah”. (QS. Asy Syu’aro [26] : 221-225)

Kemudian beliau melanjutkan,

punya-kesaktian-namun-tidak-taat-nabi-2

Mereka semuanya yang menisbatkan diri bahwa mereka memiliki mukasyafat dan khowariqul ‘adah, jika mereka tidak menjadi orang yang mengikuti (ajaran) para Rosul maka wajib didustakan dan syaithon-syaithon mereka pun mendustakan mereka. Sudah barang tentu pada amal perbuatan mereka ada perbuatan dosa dan perbuatan keji semisal syirik, kezholiman, perbuatan keji (mis. perzinahan/cabul -pen), berlebih-lebihan dalam agama yang tidak ada tuntunannya atau menambah-nambahi aturan baru dalam ibadah (bid’ah). Oleh sebab itulah syaithon-syaithon mereka hinggap pada diri mereka dan selalu menyertai mereka. Sehingga jadilah mereka termasuk wali syaithon bukan Waliyur Rohman (wali Allah)”[2].

Kesimpulannya :

  1. Jika ada orang yang mampu, mengiklankan dirinya, disebut orang lain punya kemampuan yang tidak dimiliki manusia lain pada umumnya maka lihatlah sejauh mana dia mengikuti ajaran Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.
  2. Lihat pula sejauh mana dia melaksanakan ajaran Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Misalnya ada seseorang mampu menyembuhkan suatu penyakit yang dia sebutkan bahwa itu merupakan karomah dari Allah maka lihatlah apakah orang tersebut orang yang sholat 5 waktu di mesjid ? Atau apakah dia mau melanggar aturan Allah dalam melaksanakan prakteknya ? Lihat pula bagaimana pengetahuannya tentang ajaran Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ? Jika tidak baik maka pastikan dia mendapatkan itu dari syaithon. Allahu a’lam.

Setelah subuh, 05 Shofar 1438 H – 05 Nopember 2016  M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Al Furqon Baina Auliya Ar Rohman wa Auliya Asy Syaithon hal. 42 terbitan Maktabah Ar Rusyd, Riyadh, KSA

[2] Idem.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply