Punya ‘Kehebatan’ Belum Tentu Wali

20 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Punya ‘Kehebatan’ Belum Tentu Wali

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Tak jarang kita temui orang yang beranggapan bahwa seseorang yang memiliki karomah maka dialah wali Allah yang sesungguhnya. Ketika kita dengarkan penuturan mereka selanjutnya, kita pun sadar bahwa karomah yang mereka maksudkan adalah sesuatu yang mereka anggap sebagai ‘kehebatan’ si Fulan. Kehebatan yang diluar akal dan kebiasaan manusia pada umumnya.

Lantas mestikah yang demikian itu benar bernilai karomah ? Atau malah sejatinya hanyalah tipu daya syaithon untuk menyesatkan manusia ?

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan,

Keluarbiasaan/ kehebatan semata tidaklah cukup (untuk mengatakan si Fulan adalah wali Allah) sampai terlihat bagaimana amalanya sehari-hari. Jika amalnya sholeh maka keluarbiasaan itu adalah karomah. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

 “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa”. (QS. Yunus [10] : 62-63).

Sehingga bila mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa maka kehebatan tersebut merupakan karomah dari Allah ‘Azza wa Jalla. Namun bukanlah sebuah keharusan bahwa setiap wali Allah harus ada padanya karomah (keluarbiasaaan). Bahkan yang benar, karomah tersebut boleh jadi terjadi (boleh jadi tidak terjadi –pen).

Adapun bila amalnya buruk, misalnya menelantarkan sholat, melanggar berbagai keharaman dalam agama. Maka kehebatan yang muncul pada diri orang tersebut adalah keluarbiasaan yang berasal dari syaithon (jin –pen) dan tiak termasuk karomah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala”[1].

Beliau melanjutkan,

“Maka mereka (orang yang mengklaim dirinya wali namun amalnya bukan amal sholeh –pen) mengelabui manusia dalam hal ini. Mereka menjadikan wali syaithon sebagai wali Allah dengan alasan pada diri mereka terdapat kehebatan tanpa menilik amalan mereka dan apa yang ada pada diri mereka.

Maka ini tidak diragukan lagi merupakan sebuah penyesatan yang amat berbahaya. Melalui cara ini banyak orang akan tersesat. Sehingga mereka menyembah orang-orang yang sholeh baik yang masih hidup ataupun yang sudah mati dengan alasan bahwa mereka adalah wali Allah dan mereka memiliki kehebatan tanpa melihat amal yang biasa mereka kerjakan”[2].

Kesimpulan dari uraian Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah :

  1. Titik penentu apakah seseorang itu wali Allah atau wali syaithon adalah amal sholenya.
  2. Karomah hanya Allah berikan kepada orang-orang yang beriman dan bertaqwa.
  3. Bukanlah syarat menjadi wali Allah harus punya karomah.
  4. Kekaguman pada kehebatan yang muncul pada diri seseorang (yang berasal dari syaithon) merupakan salah satu sebab kesesatan banyak orang.

Menjelang terbit matahari pagi,

6 Jumadil Awwal 1440 H, 12Januari 2019 M

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] Lihat At Ta’liq wal Bayan ‘ala Kitab Al Furqon hal. 10 terbitan Maktabah Asadiyah, Mekah Al Mukarromah, KSA.

[2] Idem hal. 11.

Tulisan Terkait

Leave a Reply