Poros Iman Dan Penyokongnya

17 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Poros Iman Dan Penyokongnya

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Poros merupakan pusat perputaran sesuatu. Sedangkan penyokong merupakan sesuatu yang difungsikan untuk menyangga agar tetap pada posisi yang tepat. Demikian pulalah iman. Dia memiliki poros dan penyokong.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan[1],

Poros Iman Dan Penyokongnya 1

“Mengikuti petunjuk Allah yang berdiri diatasnya perkara berikut yaitu membenarkan khabar dari Allah tanpa terhalangi syubhat yang dapat mencemari kemurnian pembenarannya dan melaksanakan perintahnya tanpa terhalangi syahwat yang mencegah pelaksanaan perintah tersebut”.

Poros Iman Dan Penyokongnya 2

Poros keimanan berada di atas kedua hal ini. Yaitu membenarkan khabar (dari Allah dan Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) dan ta’at terhadap perintah. Kedua perkara ini diikuti dua perkara lainnya. Yaitu meniadakan syubhat bathil yang mengikutinya dan mencegah kesempurnaan pelaksanaan (pembenaran) dan pembenarannya tidak tercakar oleh syubhat tersebut. (Kedua) mencegah syahwat menyimpang yang menyertainya, yang mampu mencegah kesempurnaan pelaksanaan perintah”.

Poros Iman Dan Penyokongnya 3

“Di sini terdapat 4 perkara :

Pertama, membenarkan khabar.

Kedua, mengerahkn seluruh kemampuan untuk menolak syubhat yang ditiupkan syaithon dari kalangan jin dan manusia ketika hendak merintangi pembenaran.

Ketiga, ta’at atas perintah.

Keempat, bersungguh-sungguh memaksa jiwa untuk mencegah syubhat yang merusak antara seorang hamba dan kesempurnaan keta’atan”.

 

Ringkasnya:

  1. Poros iman ada pada dua hal yaitu pembenaran khabar dari Allah dan Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan ta’at atas perintah keduanya.
  2. Penyokong stabilnya poros iman ada pada dua hal yaitu mencegah syubhat dan mengatur penyaluran syahwat pada hal yang halal serta tidak berlebihan dalam penyalurannya.

Allahu a’lam.

Mudah-mudahan bermanfaat

 

Setelah subuh, 6 Jumadil Akhir 1437 H, 15 Maret 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Miftah Daris Sa’adah hal. 195-196/I terbitan Dar Ibnu Affan.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply