Pentingnya Mempelajari Tauhid Asma’ dan Shifat

7 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pentingnya Mempelajari Tauhid Asma’ dan Shifat

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Beberapa hal yang menjadi keutamaan mempelajari Tauhid Asma dan Shifat Allah Ta’ala.

Merupakan tanda terbesar Allah ‘Azza wa Jalla mengingikan kebaikan untuk seseorang

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[1],

“Sesungguhnya kefakihan, kefahaman, ilmu terkait Tauhid Al ‘Asma wa Shifat Allah yang husna merupakan sebuah pembahasan ilmu yang sangat mulia. Bahkan hal ini merupakan fikhul akbar (fikih yang paling besar). Pemahaman dan ilmu tentang inilah yang pertama sekali, paling utama, terdepan terkait sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُفَقِّهْهُ في الدِّينِ

“Siapa saja yang Allah inginkan kebaikan yang sangat banyak baginya maka Allah akan memahamkan, memfakihkan kepadanya urusan agama”[2].

Artinya tanda bahwsanya Allah Subhana wa Ta’ala menginginkan kebaikan untuk kita baik kebaikan di dunia dan akhirat adalah Dia menjadikan kita paham tentang agama kita. Pemahaman terhadap agama yang paling penting adalah pemahaman seseorang tetang tujuan penciptaannya yaitu tauhid. Tauhid yang menjadi pembeda antara seorang muslim dan bukan muslim adalah tauhid uluhiyah. Sedangkan tauhid yang menjadi pembeda besar antara Ahlu Sunnah dan yang bukan adalah tauhid Asma dan Shifat Nya.

Merupakan pondasi agar keislaman seseorang kokoh

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[3],

“Sebagaimana setiap bangunan harus dibangun di atas pondasi. Sesungguhnya pondasi agama adalah iman kepada Allah Subhana wa Ta’ala, ‘Asma dan Shifat Nya. Semakin kokoh pondasi ini maka dia akan kuat menopang bangunan, terselamatkan dari kegoyahan dan keruntuhan”.

Ibnu Qoyyim Rohimahullah megatakan,

مَنْ أَرَادَ عُلُوَّ بُنْيَانَهُ فَعَلَيْهِ بِتَوْثِيْقِ أَسَاسِهِ وإِحْكَامِهِ وَشِدَّةِ الاِعْتِنَاءِ بِهِ

 فَإِنَّ عُلُوَّ البُنْيَانَ عَلَى قَدْرِ تَوْثِيْقِ الأَسَاسِ وَإِحْكَامِهِ. فَالْأَعْمَالُ وَالدَّرَجَاتُ بُنْيَانٌ وَأَسَاسُهَا الإِيْمَانِ

“Siapa saja yang ingin meninggikan bangunannya maka wajib baginya dia memperkokoh  fondasinya, betul-betul memperhatikan akurasi kekuatan, dan ketepatannya. Sebab ketinggian bangunan itu sesuai kekuatan dan akurasi fondasinya. Amal-amal dan derajat ketinggian itu merupakan sebuah bangunan sedangkan fondasinya adalah iman”[4].

Cara agar menjadi hamba Allah yang sempurna dalam peribadatannya

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan[5],

“Kedudukannya (Tauhid Asma dan Shifat) dalam agama sangat tinggi demikian pula dengan tingkat kepentingannya sangat agung. Seseorang tidak mungkin dapat menyembah Allah secara sempurna hingga di dia menyembah Allah di atas pengetahuan yang benar tentang Asma Allah Ta’ala dan Shifat Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا

 “Milik Allah Asmaul Husna maka beribadahlah/berdo’alah kepada Nya dengannya (Asmaul Husna -pen)”. (QS. Al A’rof [7] : 180)

Doa di sini mencakup do’a mas’alah dan do’a ibadah.

“Do’a masalah adalah anda menghadapkan diri kepada Allah, meminta kepadanya apa yang anda inginkan dengan menggunakan Nama-nama Allah yang sesuai dengan permintan anda. Misalnya anda mengatakan, “Yaa Ghofuur Ighfirli” (Wahai Dzat Yang Maha Pengampun ampunilah aku). “Yaa Rohiim irhamni” (Wahai Dzat Yang Maha Pengasih sayangilah/kasihilah aku). “Yaa Hafiidz Ihfadzni” (wahai Dzat Yang Maha Menjaga Segala Sesuatu jagalah aku)”.

“Sedangkan doa ibadah adalah engkau menghambakan diri/ beribadah kepada Allah Ta’ala dengan konsekwensi dari Asmul Husna. Sehingga anda melaksanakan taubat kepada Nya karena Dia adalah At Tawwab (Yang Maha Menerima Taubat). Engkau berdzikir dengan lisanmu karena Dia adalah As Samii’ (Dzat Yang Maha Mendengar). Engkau beribadah dengan anggota badanmu karena Dia adalah Al Bashiir (Dzat Yang Maha Melihat). Engkau takut kepada Nya ketika sendirian karena Dia adalah Al Lathif Al Khobir (Dzat Yang Mengetahui Semua Rahasia, Apa Yang Ada di Dalam Hati). Demikian seterusnya”.

Cara agar kita masuk surga

Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

 “Sesungguhnya milik Allah 99 nama. Barangsiapa yang meng ihso’ nya maka dia pasti masuk surga”[6].

Ibnu Hajar Al Asqolani Rohimahullah menukil dalam kitabnya Fathul Bari[7],

“Abu Nu’aim Al Ashfahani mengatakan, “Ihsho’ yang disebutkan dalam hadits bukanlah (semata) menghitung-hitung jumlahnya. Namun sesungguhnya maksudnya adalah beramal dengan nama-nama tersebut, memikirkan makna-maknanya serta beriman dengannya”.

Para ulama menafsirkan makna isho’ dalam hadits ini dengan beragam penafsiran. Diantaranya ada yang menafsirkan dengan menghafal, berdo’a dengan nya demikian seterusnya. Insya Allah, penafsiran mereka bukanlah penafsiran yang saling bertentangan bahkan saling melengkapi. Allahu a’lam.

Sigambal, 11 Robi’ul Akhir 1439 H / 29 Desember 2017 M.

 

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] Fiqh Al Asmaul Husna hal. 11 terbitan Dar Ibn Al Jauziy, Riyadh, KSA.

[2] HR. Bukhori no. 71, Muslim no. 1037.

[3] Fiqh Al Asmaul Husna hal. 11.

[4] Lihat Al Fawaid hal. 175.

[5] Lihat Syarh Al Qowaidul Mutsla hal. 20-22 terbitan Darul Atsar, Kairo, Mesir.

[6] HR. Bukhori no. 2736 dan Muslim no. 2677.

[7] Hal. 485/XIV terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply