Penjelasan Singkat Bathilnya Berdzikir dengan Kata Mufrod

5 Jan

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Penjelasan Singkat Bathilnya Berdzikir dengan Kata Mufrod

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Dzikir merupakan sebuah ibadah yang agung di sisi Allah. Demikian agungnya dzikir tersebut sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dzikir merupakan ibadah yang dapat membuat hati pelakunya menjadi tenang, sebagaimana Allah sebutkan dalam firmanNya,

الَّذِينَ آَمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan berdzikir kepada Allah. Ingatlah, hanya dengan berdzikir kepada Allah lah hati menjadi tenteram”. (QS : Ar Ro’du [13] :28).

Demikian juga ibadah yang agung ini di mata para ulama memiliki kedudukan yang agung, sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah,

الذِّكْرُ لِلْقُلُبِ مِثْلُ الْمَاءِ لِلْسَّمَكِ فَكَيْفَ يَكُوْنُ حَالُ الْسَّمَكِ إِذَا فَارَقَ الْمَاءُ ؟

(kebutuhan akan) Dzikir bagi hati semisal kebutuhan ikan akan adanya air, maka bagaimanakah keadaan ikan jika terpisah dari air?[1].

Demikian juga masih banyak dalil-dalil dan perkataan para ulama’ yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan dzikir.

Namun segolongan orang dari kalangan sebagian kelompok sufiyah dalam dzikir-dzikir mereka yaitu berdzikir dengan isim mufrod, semisal mereka berdzikir dengan kalimat (الله,الله) Allah, Allah. Demikian mereka mengulang-ulang dzikir dengan isim mufrod tersebut. Bahkan sebagian mereka berdzikir dengan isim dhomir Dia, Dia (هُوَ,هُوَ). Bahkan yang lebih parah lagi mereka menyebutkan bahwa dzikir dengan kalimat tauhid () /Tiada Sesembahan yang Berhak  dengan Benar Disembah Selain Allah adalah dzikir untuk orang-orang yang masih awam atau masih dalam level mukmin, kalimat dzikir dengan menggunakan isim mufrod semisal (الله,الله) Allah, Allah adalah untuk orang-orang khusus sedangkan dzikir dengan isim dhomir semisal Dia, Dia (هُوَ,هُوَ) untuk orang terkhusus dari orang-orang yang khusus –na’udzu billah-. Padahal telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam banyak hadits yang menyebutkan dzikir dengan kalimat tauhid adalah seutama-utama dzikir,

يَا عَمِّ ، قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، كَلِمَةً أَشْهَدُ[2] لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

“Wahai Pamanku, ucapkanlah Laa Ilaaha Illallah, (dengan kalimat itulah) aku akan memberikan hujjah bagimu di sisi Allah kelak”[3].

Lihatlah saudaraku betapa seseorang tidaklah mewasiatkan untuk orang yang akan meninggal kecuali perkara yang amat penting dan dapat menyelamatkan dia di akhirat.

Demikian juga hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam yang menyebutkan dzikir yang paling afdhol adalah kalimat tauhid, hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam kitab Sunan dan lain-lain,

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

“Seutama-utama dzikir adalah لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ dan seuatama do’a adalah الْحَمْدُ لِلَّهِ[4].

Sedangkan dalil sebagian kelompok orang-orang sufi tersebut adalah dalil yang tidak bisa dijadikan dalil semisal hadits dhoif dan memotong ayat-ayat Al Qur’an tidak pada tempatnya. Diantaranya adalah sebagai berikut,

أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ لَقَّنَ عَلِيَ بْنَ أَبِيْ طَالِبٍ أَنْ يَقُوْلَ اللهُ اللهُ فَقَالَ لَهَا النَّبِيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ ثَلَاثًا أَمَرَ عَلِيًا فَقَالَ لَهَا ثَلَاثًا

Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi was sallam mengajarkan kepada ‘Ali bin Abi Tholib untuk mengatakan Allah, Allah, Nabi Shollallahu ‘alaihi was sallam mengatakannya sebanyak tiga kali kemudian memerintahkan ‘Ali untuk melakukannya kemudian ‘Ali melakukannya sebanyak tiga kali”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hadits ini merupakan hadits maudhu’/palsu dengan sepakat para ulama’ hadits[5].

Demikian juga sebagian dari kalangan sufiyah tersebut mendalili dzikir yang bathil ini dengan dalil yang shahih namun tidak ditempatkan pada tempatnya, semisal mereka mengklaim dalil mereka adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

“Katakanlah, “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya”. (QS : Al An’am [6] : 91).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah telah menjalaskan kepada kita betapa kelirunya pendapat mereka ini. Beliau mengatakan,

يَتَوَهَمُوْنَ أَنَّ الْمُرَادَ قَوْلُ هَذَا الْإِسْمِ فَخَطَأٌ وَاضِحٌ وَلَوْ تَدَبَّرُوْا مَا قَبْلَ هَذَا تَبَيَّنَ مُرَادُ الْآيَةِ فَإِنَّهُ سُبْحَانَهُ قَالَ وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آَبَاؤُكُمْ قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

أَىْ قُلْ اللهُ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِى جَاءَ بِهِ مُوْسَى فَهَذَا كَلَامٌ تَامٌ

“Mereka (sebagian orang-orang sufi) mengira bahwa yang diinginkan dari potongan surat Al An’am tersebut adalah perintah untuk mengatakan (berdzikir dengan) nama ini (yaitu Allah). Maka persangkaan mereka tersebut adalah sebuah kesalahan yang nyata dan jelas, sekiranya mereka mentadabburi ayat tersebut sebelum potongan ayat yang mereka jadikan dalil maka akan jelas apa yang diinginkan oleh ayat. Karena Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَى نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آَبَاؤُكُمْ قُلِ اللَّهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah, “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah, “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya”. (QS : Al An’am [6] : 91).

Maksud ayat adalah katakanlah bahwa yang menurunkan kitab kepada Musa adalah Allah. Maka dengan demikian kalimat yang sempurna inilah yang diinginkan ayat”….[6]

Maka dengan urain ringkas di atas jelaslah bagi kita bahwa bathilnya berdzikir dengan isim mufrod dan isim dhomir dan demikianlah kebiasaan ahlul bathil mereka berdalil dengan membuat hadits-hadits palsu atau dengan hadits-hadits dhoif atau dengan dalil-dalil shahih namun dengan pemahaman bathil. Allahu a’lam.

Mudah-Mudahan kita bisa mengambil faidah dari nukilan di atas.

Sigambal,

Ketika Matahari mulai memperlihatkan dirinya,

Aditya Budiman bin Usman

29 Muharrom 1431 H/ 4 Januari 2011 M.


[1] Lihat Al Wabilush Shoyyib oleh Ibnul Qoyyim rohimahullah hal. 85.

[2] Dalam redaksi lain أُحَاجُّ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ

[3] HR. Bukhori no. 1360, Muslim no. 141.

[4]HR. Tirmidzi no. 3711 dan dinyatakan hasan oleh Beliau, Ibnu Majah no. 3932, hadits ini juga dinyatakan hasan oleh Al Albani rohimahullah dalam takhrij Beliau untuk kedua kitab ini.

[5] Lihat Majmu’ Fatawa hal. 557/X.

[6] Lihat Majmu’ Fatawa hal. 559/X.

Tulisan Terkait

3 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. Ummu Aisyah
    Mar 16, 2012 @ 03:01:17

    masyaAllah…’ilman nafi’an,insyaAllah Ustadz…
    jazakumullahu khairan,’afwan ana ijin save artikel-artikelnya,barakallahu fiikum…

    Reply

  2. ramadhan
    Aug 08, 2012 @ 01:11:22

    Assalamu’alaikum, Akhi wa Ukhti.
    permisi, saya mau minta ijin, bolehkah saya Copas beberapa post yang Akhi wa Ukhti cantumkan ???
    Terimakasih atas perhatiannya 😀
    Wassalam

    Reply

    • Aditya Budiman
      Aug 08, 2012 @ 01:19:30

      alaikumussalam silakan, namun tlg tetap menjaga amanat ilmiah dengan mencantumkan sumber-sumbernya dan tidak merubah artikel tersebut.

      Reply

Leave a Reply