Pengajian Sesat Hanya Karena Orang Yang Hadir Kebanyakan Miskin ??

26 Nov

Share

 

Pengajian Sesat Hanya Karena Orang Yang Hadir Kebanyakan Miskin ??

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.
Artikel kali ini masih erat sekali hubungannya dengan artikel sebelumnya (klik di sini). Judul di atas merupakan kaidah berfikir sebagian orang di zaman kita ini. Mereka menilai jika sebuah pengajian, taklim atau ceramah keagamaan jika mad’unya/orang yang menghadirinya kebanyakan dari kalangan yang lemah secara ekonomi (baca : faqir dan miskin), orang-orang yang tingkat pendidikan formalnya rendah maka ada semacam cap, image (baca : pandangan) bahwa pengajian atau ceramah tersebut adalah pengajian atau ceramah yang patut dicurigai sesat.

Jika demikianlah cara berfikir kita, maka sungguh fikiran kita masih belum mengikuti peradaban sesungguhnya walaupun gadget yang anda miliki dan lain sebagainya telah sedemikian canggih. Bahkan ini adalah cara berfikirnya orang-orang jahiliyah.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab Rohimahullah mengatakan,

المسائل الثامنة : الاستلال على بطلان الشيء بأنه لم يتبعه إلا الضعفاء

“Perkara Jahiliyah Kedelapan

Berdalil, beralasan bahwa bathilnya sesuatu karena tidaklah orang yang mengikutinya melainkan orang-orang yang lemah[1].

Inilah cara berfikirnya orang-orang kafir, penentang dakwah para Nabi ‘alaihimussalam dan orang-orang di masa jahiliyah.

Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hafidzahullah mengatakan,

Pengajian sesat 1

Mereka (orang-orang kafir –ed.) beralasan bahwa orang-orang yang lemah tidak berada di atas kebenaran seandainya mereka di atas kebenaran tentulah mereka tidak dijadikan sebagai orang-orang yang lemah. Inilah mizan, tolak ukur, cara berfikir orang-orang jahiliyah untuk menentukan, membedakan kebenaran dengan kebathilan. Mereka tidak mengetahui bahwasanya kekuatan dan kelemahan ada di Tangan Allah Subhana wa Ta’ala. sesungguhnya orang-orang yang lemah boleh jadi berada di atas kebenaran dan orang-orang yang kuat, mapan berada di atas kebathilan”[2].

Kaidah inilah yang dikatakan kaumnya Nabi Nuh ‘alaihissalam ketika beliau mengajak mereka untuk menyembah Allah ‘Azza wa Jalla semata. Allah Subhana wa Ta’ala mengabadikan ucapan mereka dalam Al Qur’an.

قَالُوا أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ

“Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal orang-orang yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina ?” (QS. Asy Syu’aro [26] : 111)

Seolah-olah mereka ingin mengatakan kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam, “Seandainya engkau berada di atas kebenaran maka tentulah orang-orang yang mengikutimu adalah orang-orang yang kuat dan mapan”.

Dalam ayat yang lain mereka mengatakan ketika Nabi Nuh ‘alaihissalam mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla.

فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaum (Nabi Nuh), “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami mengita bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. (QS. Huud [11] : 27).

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Untitled

“Firman Allah (فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ) ‘Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir’ yaitu pemimpin dan pembesar dari kalangan orang-orang yang kafir. Firman Allah (مَا نَرَاكَ إِلَّا بَشَرًا مِثْلَنَا) ‘Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami’ yaitu engkau bukan raja namun hanya orang biasa. Maka bagaimana mungkin engkau di beri wahyu sedangkan kami tidak ? Kemudian kami tidaklah melihat orang-orang yang hina seperti pedagang, tukang tenun dan orang-orang semisal dengannya. Sedangkan orang-orang yang mulia dan pimpinan kami tidak mengikutimu. Kemudian orang-orang yang mengikutimu merupakan orang-orang yang tidak punya pertimbangan dan daya fikir yang matang. Bahkan mereka adalah orang-orang yang ketika engkau ajak (dakwahi) langsung mengikutimu. Oleh karena itulah Allah Subhana wa Ta’ala melanjutkan (وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلَّا الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ) ‘kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja’. Terlebih lagi orang-orang yang fikiran tidak panjang[3]. Firman Allah Subhana wa Ta’ala (وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ) ‘dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami’. Mereka mengatakan ‘kami tidak melihat pada dirimu kelebihan berupa bentuk tubuh dan tingkah laku dibandingkan kami, demikian pula harta dan keadaan ketika engkau telah menganut agamamu ini’. Firman Allah ‘Azza wa Jalla Ta’ala (بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ) ‘bahkan kami mengira bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta’ atas hal yang kamu serukan berupa kebaikan, kesholehan, ibadah dan kebahagiaan di negeri akhirat ketika engkau menjelaskannya”[4].

Beliau Rohimahullah melanjutkan,

Pengajian sesat 2

“Inilah alasan orang-orang kafir kepada Nuh ‘alaihissalam dan para pengikutnya. Ini merupakan bukti yang menunjukkan kebodohan dan dangkalnya ilmu serta akal mereka. Karena sesungguhnya bukanlah merupakan aib jika orang yang mengikuti kebenaran adalah orang-orang yang hina. Karena kebenaran pada dasarnya adalah sesuatu yang sah/benar. Sama saja apakah pengikutnya dari kalangan orang yang mulia ataupun hina. Bahkan kebenaran yang tidak perlu ada keraguan lagi bahwa orang yang mengikuti kebenaran adalah orang yang benar-benar mulia walaupun dia miskin. Sedangkan orang-orang yang mengabaikan dakwah yang benar adalah orang-orang yang sombong walaupun kaya. Kemudian kenyataannya secara umum bahwa orang-orang yang mengikuti kebenaran kebanyakannya adalah orang-orang yang lemah. Kebalikannya umummnya orang-orang yang memiliki kemulian status dan para pembesar adalah orang-orang yang menentang dakwah yang benar. Sebagaimana firman Allah Subhana wa Ta’ala,

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak- bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka”.(QS. Az Zukhruf [43] : 23)”[5].

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah mengatakan,

Pengajian sesat 3

Demikian jugalah keadaan berfikir orang-orang musyrik di zaman Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka menyombongkan diri dari orang-orang yang lemah dari kalangan kaum mukminin, semisal Bilal, Salman, Ammar bin Yasir, Ayahnya dan ibunya. Mereka orang-orang musyrik mengejek para shahabat yang lemah. Hingga sebagian mereka ada yang mengatakan kepada Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘Kami tidak akan mau duduk bersamamu jika engkau bersama mereka. Oleh karena itu buatkan dulu majelis khusus untuk kami sehingga kami saling mengerti denganmu”[6].

Wahai saudaraku sesama muslim, mari kita ubah mindset (pola fikir) kita. Jangan sampai kita masih mewarisi pola pikir jahiliyah yang sudah usang ini. Mari kita upgrade pola fikir kita sebagaimana kita upgrade gadget kita.

Jangan sampai kita termasuk dalam hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka”[7].

Bukanlah kami justifikasi orang yang punya pola fikir semacam ini langsung kafir karena memiliki keserupaan dengan orang kafir. Namun orang yang demikian memiliki keserupaan dengan orang kafir dalam masalah ini. Allahu Ta’ala a’lam.

 

Setelah ‘Isya 22 Muharrom 1436 H/ 14 Nopember 2014 M. Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Syarh Masail Jahiliyah Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hal. 48 cet. Darul Bashiroh, Mesir.

[2] Idem.

[3]Artinya orang-orang yang mengikutimu tanpa memerlukan pertimbangan dan perenungan yang panjang. (idem).

[4] Lihat Tafsir Qur’anil Azhim oleh Ibnu Katsir hal. 316/IV terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA

[5] Idem.

[6] Lihat Syarh Masail Jahiliyah hal. 48.

[7] HR. Ahmad no. 6875 dan lain-lain. Sanad hadits ini dinilai shohih secara marfu’ oleh Syaikh Syua’aib Al Arnauth Rohimahullah.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply