Namanya, Menunjukkan Dahsyatnya

25 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Namanya, Menunjukkan Dahsyatnya

Para Pembaca, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa melimpahkan hidayah ilmu dan hidayah amal kepada kita. Hari qiyamat merupakan sebuah hal yang diakui oleh akal dan fitroh manusia, demikian juga ia merupakan hal yang dijelaskan oleh kitab suci yang Allah ‘azza wa jalla turunkan (kitab samawiyah). Ia juga merupakan hal yang didakwahkan para Nabi dan Rosul ‘alaihimush sholatu was salam[1].

Demikian menjadi sebuah keharusan bagi kaum mukminin untuk mengimani hari qiyamat bahkan ia adalah salah satu rukun iman yang disebutkan dalam hadits yang amat terkenal, yaitu hadits Jibril ‘alaihis salam ketika beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam tentang islam, iman ihsan dan hari akhir,

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِيمَانِ. قَالَ « أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ ». قَالَ صَدَقْتَ.

Jibril bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam, “Beritahukanlah aku apa itu iman? Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menjawab, “(Iman adalah) Engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para utusanNya, hari akhir (qiyamat) dan engkau beriman pada qodho’ dan qodar yang baik dan buruk”[2].

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan demikian banyak nama hari qiyamat untuk menunjukkan betapa agung/tingginya perkara tersebut sebagai peringatan kepada para hambaNya agar mereka takut akan datangnya hari tersebut[3]. Tentu saja takut yang dimaksudkan di sini adalah takut yang berbuah amal.

Maka untuk menambah pengetahuan kita akan hal yang amat penting ini kami nukilkan sebagian nama-nama hari qiyamat beserta dalilnya dan alasan yang dikemukan para ulama mengapa hari tersebut dinamakan dengan nama tersebut. Dengan harapan akan menambah iman kita dengan bertambahnya ilmu kita tentangnya dan amal kita untuk bertemu dengannya.

Diantara nama-nama[4] hari qiyamat adalah :

[1.]   As Sa’ah (السَاعَةُ  ), dalilnya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla ,

إِنَّ السَّاعَةَ لَآَتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya As Sa’ah (السَاعَةُ ) yaitu hari qiyamat[5] benar-benar akan terjadi, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman terhadapnya. (QS : Al Mukmin [40] :59).

Hari qiyamat disebut As Sa’ah (السَاعَةُ  ) karena singkat/cepatnya waktu terjadinya hisab pada hari itu atau karena hari qiyamat mandatangi manusia dengan tiba-tiba, ketika itu mahluk mati hanya dengan sekali tiupan (sangkakala)[6].

[2.]  Yaumul Ba’tsi (يَوْمُ الْبَعْثِ) yaitu Hari Bangkit, dalilnya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla ,

لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِي كِتَابِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ فَهَذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلَكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit. Maka inilah  Yaumul Ba’tsi (يَوْمُ الْبَعْثِ)/hari berbangkit itu yaitu hari qiyamat[7] akan tetapi kamu tidak meyakininya”. (QS : Ar Ruum [30] :56).

Hari qiyamat disebut Yaumul Ba’tsi (يَوْمُ الْبَعْثِ) karena pada hari itu dibangkitan dan dihidupkan kembali (mahluk Allah) setelah sebelumnya mati[8].

[3.]  Yaumud Diin (يَوْمُ الْدِيْنِ) yaitu hari pembalasan, dalilnya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla ,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Dialah Allah Dzat yang menguasai Yaumud Diin (يَوْمُ الْدِيْنِ)/hari pembalasan, yaitu hari qiyamat[9]”. (QS : Al Fatihah [1] : 3).

Hari qiyamat disebut Yaumud Diin (يَوْمُ الْدِيْنِ) karena pada hari itu manusia diberi balasan atas amal perbuatan mereka[10].

[4.] Yaumul Hasroh (يَوْمُ الْحَسْرَةِ) yaitu hari penyesalan, dalilnya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla ,

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ

“Dan peringatkanlah mereka akan Yaumul Hasroh (يَوْمُ الْحَسْرَةِ)/hari penyesalan yaitu hari qiyamat[11]”. (QS : Maryam [19] : 39).

Hari qiyamat disebut Yaumul Hasroh (يَوْمُ الْحَسْرَةِ) karena hari tersebut merupakan hari penyesalan/kesedihan orang-orang kafir[12]. Ada juga yang mengatakan disebut Yaumul Hasroh (يَوْمُ الْحَسْرَةِ) karena pada hari tersebut orang yang melakukan kejelekan menyesal/bersedih mengapa dahulu mereka ketika di dunia tidak melakukan kebaikan[13].

[5.]  Darul Akhiroh (دَارُ الْأَخِيْرَةِ) yaitu negri/kampung akhirat, dalilnya adalah firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

وَإِنَّ الدَّارَ الْآَخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan sesungguhnya Darul Akhiroh (دَارُ الْأَخِيْرَةِ) negri/kampung akhirat yaitu hari qiyamat[14] itu kehidupan yang sebenarnya”. (QS : Al Ankabut [29] : 64).

Hari qiyamat disebut Darul Akhiroh (دَارُ الْأَخِيْرَةِ) yaitu negri/kampung akhirat karena negri/kampung akhirat tersebut ada setelah negri/kampung dunia, ia adalah negri/kampung yang kekal yang tidak ada negri/kampung setelahnya[15].

[6.] Yaumut Tanaad (يَوْمُ التَّنَادِ) yaitu hari saling memanggil, dalilnya adalah firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِ

“Seseungguhnya aku (Musa) takut akan siksaan bagi kalian pada Yaumut Tanaad (يَوْمُ التَّنَادِ)/hari panggil memanggil yaitu hari qiyamat[16]”. (QS : Al Mukmin [40]: 32).

Hari qiyamat disebut sebagai Yaumut Tanaad (يَوْمُ التَّنَادِ) yaitu hari saling memanggil karena pada hari itu setiap manusia akan memanggil para pemimpin mereka, pendapat lain mengatakan disebut demikian karena pada hari itu para penduduk Al A’rof (yaitu sebuah tempat antara surga dan neraka atau tempat amal baik dan buruk)[17], pendapat lain lagi mengatakan disebut demikian karena pada hari itu ahli surga akan memanggil ahli neraka dan sebaliknya, demikian juga adanya panggilan keberhasilan/kebahagian bagi pemiliknya dan panggilan kesengsaraan bagi pemiliknya[18].

[7.]  Darul Qoror (دَارُ الْقَرَارِ) yaitu negri/kampung keabadian, dalilnya adalah firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

إِنَّ الْآَخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

“Sesungguhnya akhirat adalah Darul Qoror (دَارُ الْقَرَارِ)”. (QS : Al Mukmin [40]  : 39).

Hari qiyamat disebut sebagai Darul Qoror (دَارُ الْقَرَارِ) karena  ia adalah negri/kampung yang kekal tanpa ada kebinasaan/hancur dan tidak ada negri/kampung berikutnya[19].

[8.]  Yaumul Fashli (يَوْمُ الْفَصْلِ) hari pemisahan, dalilnya adalah firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

هَذَا يَوْمُ الْفَصْلِ الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ

“Ini adalah Yaumul Fashli (يَوْمُ الْفَصْلِ) hari pemisahan yaitu hari qiyamat yang kalian dustakan”. (QS : Ash Shoffat [37]  : 21).

Hari qiyamat disebut sebagai Yaumul Fashli (يَوْمُ الْفَصْلِ) karena pada hari itu terjadi pemisahan antara manusia dengan adil[20], pendapat lain mengatakan hari pemutusan keputusan berupa kewajiban antara sesama hamba, antara hamba dengan Rabbnya, dan antara hamba dengan sesama mahluk Allah[21].

[9.] Yaumul Jam’i (يَوْمُ الْجَمْعِ) hari berkumpul, dalilnya adalah firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

وَتُنْذِرَ يَوْمَ الْجَمْعِ لَا رَيْبَ فِيهِ

“Serta memberi peringatan (pula) tentang Yaumul Jam’i (يَوْمُ الْجَمْعِ)/hari berkumpul yaitu hari qiyamat[22] yang tidak ada keraguan padanya”. (QS : Asy Syroo [42]  : 7).

Hari qiyamat disebut sebagai Yaumul Jam’i (يَوْمُ الْجَمْعِ) karena pada hari itu manusia dikumpulkan dan diberi balasan[23]. Penjelasan lain adalah karena pada hari itu Allah kumpulkan (manusia) yang awal dan akhir[24].

[10.]          Yaumul Hisaab (يَوْمُ الْحِسَابِ) hari perhitungan,  dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِيَوْمِ الْحِسَابِ

“Inilah apa yang dijanjikan kepadamu pada Yaumul Hisaab (يَوْمُ الْحِسَابِ)/hari perhitungan yaitu qiyamat[25]”. (QS : Shood [38]  : 53).

Hari qiyamat disebut sebagai Yaumul Hisaab (يَوْمُ الْحِسَابِ) karena pada hari itu terjadi perhitungan amal (kebaikan dan keburukan) manusia yang mereka kerjakan semasa di dunia[26].

[11.]            Yaumul Wa’id (يَوْمُ الْوَعِيدِ) hari terlaksananya ancaman, dalilnya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَنُفِخَ فِي الصُّورِ ذَلِكَ يَوْمُ الْوَعِيدِ

“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah Yaumul Wa’id (يَوْمُ الْوَعِيدِ) hari terlaksananya ancaman yaitu hari qiyamat[27]”. (QS : Qoof [50]  : 20).

Hari qiyamat disebut sebagai Yaumul Wa’id (يَوْمُ الْوَعِيدِ) karena pada hari itu dilakasananlah ancaman Allah kepada orang-orang kafir[28]. Penjelasan yang lain lagi adalah karena pada hari itu akan diberikan janji buruk Allah berupa hukuman kepada orang-orang yang dholim dan janji baik Allah berupa pahala/balasan amal baik kepada orang-orang yangmukmin[29].

[12.]           Yaumul Khulud (يَوْمُ الْخُلُودِ) hari yang kekal, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ

“Masukilah surga itu dengan aman dari azab Allah, itulah Yaumul Khulud (يَوْمُ الْخُلُودِ) hari kekekalan yaitu hari qiyamat”. (QS : Qoof [50]  : 34).

Hari qiyamat disebut sebagai Yaumul Khulud (يَوْمُ الْخُلُودِ) karena kehidupan pada hari itu adalah kehidupan yang kekal dan abadi[30].

[13.]           Yaumul Khuruj (يَوْمُ الْخُرُوجِ) hari pangeluaran dari kubur, dalilnya adalah firman Allah Jalla wa ‘Alaa,

يَوْمَ يَسْمَعُونَ الصَّيْحَةَ بِالْحَقِّ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُرُوجِ

“Hari dimana mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya itulah Yaumul Khuruj (يَوْمُ الْخُرُوجِ)/hari ke luar dari kubur yaitu hari qiyamat”. (QS : Qoof [50]  : 42).

Hari qiyamat disebut sebagai Yaumul Khuruj (يَوْمُ الْخُرُوجِ) karena pada hari itu manusia dikeluarkan dari kubur mereka untuk dihidupkan pada kehidupan yang lain[31].

[14.]          Al Waqi’ah (الْوَاقِعَةُ) hari yang akan terjadi, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ

“Apabila terjadi Al Waqi’ah (الْوَاقِعَةُ) hari yang akan terjadi yaitu hari qiyamat[32]”. (QS : Al Waqi’ah [56]  : 1).

Hari qiyamat disebut sebagai Al Waqi’ah (الْوَاقِعَةُ) karena hari tersebut benar-benar akan terjadi[33] dan tidak keraguan tentang akan terjadinya[34].

[15.]           Al Haaqqoh (الْحَاقَّةُ) hari yang pasti terjadi, dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

الْحَاقَّةُ . مَا الْحَاقَّةُ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحَاقَّةُ

“Al Haaqqoh (الْحَاقَّةُ). Apakah Al Haaqqoh itu (الْحَاقَّةُ). Tahukah Kamu apa Al Haaqqoh itu (الْحَاقَّةُ) yaitu hari qiyamat[35]”. (QS : Al Haaqqoh [69]  : 1-3).

Hari qiyamat disebut sebagai Al Haaqqoh (الْحَاقَّةُ) karena pada hari tersebut akan dikalahkan semua pendebat yang terlalu dalam debatnya sehingga debatnya adalah debat yang bathil[36].

[16.]          At Thommatul Qubroo (الطَّامَّةُ الْكُبْرَى) hari malapetaka yang besar, dalilnya firman Allah ‘Azza wa Jalla,

فَإِذَا جَاءَتِ الطَّامَّةُ الْكُبْرَى

“Ketika datang At Thomatul Qubroo (الطَّامَّةُ الْكُبْرَى) yaitu hari qiyamat[37]”. (QS : An Nazi’at [79]  : 34).

Hari qiyamat disebut sebagai At Thomatul Qubroo (الطَّامَّةُ الْكُبْرَى) karena pada hari tersebut terjadi malapetaka yang kedahsyatannya melebihi atau mengalahkan seluruh malapetaka selainnya[38], artinya akan terjadi malapetaka yang amat besar.

[17.]           Ash Shookhkhoh (الصَّاخَّةُ) suara yang memekakkan, dalilnya adalah firman Allah Jalla Jalaluh,

فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ

“Ketika datang Ash Shookhkhoh (الصَّاخَّةُ)/ suara yang memekakkan yaitu hari qiyamat[39]”. (QS : Abasa [80]  : 33).

Hari qiyamat disebut sebagai Ash Shookhkhoh (الصَّاخَّةُ) karena pada hari tersebut terjadi suara/pekikan yang memakkan telinga hal ini disebabkan karena kerasnya suara tersebut[40].

[18.]          Al Aazifah (الْآَزِفَةُ) hari yang telah dekat, dalilnya adalah firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

أَزِفَتِ الْآَزِفَةُ

“Ketika telah dekat terjadinya Al Aazifah (الْآَزِفَةُ) yaitu hari qiyamat[41]”. (QS : An Nazm [53]  : 57).

Hari qiyamat disebut sebagai Al Aazifah (الْآَزِفَةُ) sebagai pertanda dekatnya waktu terjadinya jika dibandingkan dengan usia dunia[42]. Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy menambahkan disebut demikian karena telah dekat waktunya dan telah tampak tanda-tandanya[43].

[19.]          Al Qoori’ah (الْقَارِعَةُ) hari yang menggentarkan hati, dalilnya adalah firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

الْقَارِعَةُ . مَا الْقَارِعَةُ . وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ

Al Qoori’ah (الْقَارِعَةُ)/hari yang menggentarkan hati. Apakah Al Qoori’ah (الْقَارِعَةُ) itu. Tahukah Kamu apa itu Al Qoori’ah (الْقَارِعَةُ) yaitu hari qiyamat[44]”. (QS : Al Qoori’ah [101]  : 1-3).

Hari qiyamat disebut sebagai Al Qoori’ah (الْقَارِعَةُ) karena hari ia adalah hari dimana ketakukan dan teror mengetuk dengan keras/menggetarkan pendengaran dan hati[45].

Penutup

Sebagai penutup kembali kami ulangi apa yang telah kami sampaikan di awal tulisan ini yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyebutkan demikian banyak nama hari qiyamat untuk menunjukkan betapa agung/tingginya perkara tersebut sebagai peringatan kepada para hambaNya agar mereka takut akan datangnya hari tersebut[46]. Demikian juga apa yang kami nukilkan di sini bukanlah membatasi bahwa nama hari qiyamat itu hanya terbatas 19 nama saja akan tetapi sebagaimana apa yang dikatakan Syaikh Yusuf bin Abdullah Al Wabil bahwa Al Hafidz Ibnu Katsir rohimahullah telah mengumpulkan lebih dari 80 nama untuk hari qiyamat[47].

Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan ini berbuah amal bagi kami pribadi dan pembaca sekalian dalam rangka untuk mempersiapkan diri kita ketika dibangkitkan pada hari yang amat agung ini. Amin.

MahlukNya yang lemah,

Aditya Budiman


[1] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 260, terbitan Maktabah Darul Minhaj, Riyadh, KSA.

[2] HR. Muslim no. 8.

[3] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 262.

[4] Nama-nama ini kami nukil dari Asrothus Sa’ah oleh Syaikh Yusuf bin Abdullah Al Wabil hal 37-39, terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh. Kitab ini merupakan tesis beliau di Universitas Ummul Quroo dengan predikat cumlaude.

[5] Lihat Ma’alimul Tanjzil oleh Al Baghowiy rohimahullah hal. 474, tahqiq Syaikh Muhammad Abdullah An Namr, terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[6] Lihat Asrotus Sa’ah oleh Syaikh Yusuf bin Abdullah Al Wabil hal. 73-74.

[7] Lihat Aitsarut Tafaasir oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy hafidzahullah hal. 137/IV, terbitan Maktabah Al ‘Ulum wal Hikaam, Madinah, KSA.

[8] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 264.

[9] Lihat Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy rohimahullah, hal. 25, terbitan Dar Ibnu Hazm, Beirut, Lebanon.

[10] Lihat Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy rohimahullah hal. 25.

[11] Lihat Aitsarut Tafaasir oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy hafidzahullah hal. 239/III.

[12] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 265.

[13] Lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi dengan ta’liq dari Syaikh Shofiyurrohman Al Mubarokfuri hafidzahullah hal. 319 cet. Darus Salam, Riyadh, KSA.

[14] Lihat Ma’ani Al Qur’an oleh Abu Ja’far An Nuhaas, hal. 206/V, dengan tahqiq Muhammad ‘Ali Ash Shobuniy, terbitan Jami’ah Ummul Quroo, Mekkah, KSA.

[15] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 265.

[16] Lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi hal. 481.

[17] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 265.

[18] Lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi hal. 481.

[19] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 265,

[20] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 264.

[21] Lihat Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy rohimahullah, hal. 669.

[22] Lihat Aitsarut Tafaasir oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy hafidzahullah hal. 471/IV.

[23] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 264.

[24] Lihat Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy rohimahullah, hal. 720.

[25] Lihat Aitsarut Tafaasir oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy hafidzahullah hal. 357/IV.

[26] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 264.

[27] Lihat Tafsir Surat Qoof oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah, Asy Syamilah.

[28] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 265.

[29] Lihat Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy rohimahullah, hal. 770-771.

[30] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 265.

[31] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 264.

[32] Lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi hal. 545 dan lain-lain kitab tafsir.

[33] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 265, lihat juga Lihat Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy rohimahullah, hal. 796.

[34] Lihat Aitsarut Tafaasir oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy hafidzahullah hal. 185/V.

[35] Lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi hal. 577  dan lain-lain kitab tafsir.

[36] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 265.

[37] Lihat Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy rohimahullah, hal. 870 dan lain-lain kitab tafsir.

[38] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 265.

[39] Lihat Aitsarut Tafaasir oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy hafidzahullah hal. 412/V.

[40] Lihat Aitsarut Tafaasir oleh Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairiy hafidzahullah hal. 413/V.

[41] Lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi hal. 539 dan lain-lain kitab tafsir para ulama.

[42] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 265.

[43] Lihat Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy rohimahullah, hal. 787.

[44] Lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi hal. 611 dan lain-lain kitab tafsir para ulama.

[45] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 265, dan lain-lain kitab tafsir para ulama.

[46] Lihat Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 262.

[47] Lihat Asrothus Sa’ah oleh Syaikh Yusuf bin Abdullah Al Wabil hal 37.

Tulisan Terkait

3 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. ilham
    Sep 24, 2012 @ 01:25:28

    Assalamu’alaikum.wr.wb,

    mohon izin untuk menggunakanartikel sebagai bahan penagajaran.

    wasalam
    syukron

    Reply

  2. Alfina Hafadz
    Dec 08, 2013 @ 07:18:58

    Matur Nuwun. Mohon Izin untuk ngunduh Ngge
    Terima Kasih 🙂

    Reply

Leave a Reply