Menolak Kebenaran Dengan Alasan Yang Tidak Benar

1 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menolak Kebenaran Dengan Alasan Yang Tidak Benar

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Kebenaran, Ajaran Islam, Mentauhidkan Allah, Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pada dasarnya merupakan sesuatu yang sangat mudah diterima. Karena semua hal tersebut merupakan templatenya manusia. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

“Tidaklah setiap (anak) yang lahir melainkan dilahirkan di atas fithroh”[1].

Dalam redaksi yang lain,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ عَلَى هَذِهِ الْمِلَّةِ

“Tidaklah setiap (anak) yang lahir melainkan dilahirkan di atas agama ini (yaitu Islam)”[2].

 

Demikian juga hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

عَشْرٌ مِنْ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الْأَظْفَارِ وَغَسْلُ الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الْإِبِطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ قَالَ زَكَرِيَّاءُ قَالَ مُصْعَبٌ وَنَسِيتُ الْعَاشِرَةَ إِلَّا أَنْ تَكُونَ الْمَضْمَضَةَ

“Ada sepuluh hal yang sesuai dengan fitroh : memotong kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq[3], memotong kuku, membasuh ruas-ruas jari, mencabut bulu ketiak, memotong bulu kemaluan, istinja’ dan Mush’ab berkata dan yang kesepuluh saya lupa, tetapi mesti berkumur-kumur”[4].

Maka demikianlah seluruh ajaran Islam, pada dasarnya sangat mudah diterima hati kita yang masih belum terkotori dengan penyakit hati. Namun mungkin ada sebagian dari kaum muslimin yang membenci atau bahkan fobia terhadap sebagian ajaran Islam semisal syari’at memelihara jenggot. Pada berdasarkan hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam di atas jelas disebutkan bahwa hal itu termasuk fitroh manusia. Sebagaimana anda tidak suka membiarkan kuku dan kumis anda panjang dan tidak beraturan, harusnya demikian pulalah anda seharusnya senang dan tidak benci untuk memelihara jenggot anda.

Okelah atau tarohlah (dalam bahasa di daerah kami) jika syariat jenggot ini anda belum dapat menerimanya. Atau ada yang beralasan hal tersebutkan bukan pokok ajaran Islam. Namun yang lebih parah lagi tak jarang sebagian kita menemukan, menjumpai sebagian muslim membenci atau tidak suka dengan tauhid, membenci orang yang mendakwahkan tauhid. Padahal tauhid merupakan fondasi agama Islam. Atau ada sebagian yang mengatakan, ‘Kami gak paham dengan apa yang anda sebutkan tentang tauhid’ atau ‘Kami sudah muslim masa masih perlu belajar tauhid, pelajaran tauhid itu hanya untuk orang yang belum Islam’ atau ‘Hati kami belum terpanggil untuk mengikuti apa yang anda sampaikan’.

Maka ketauhilah wahai saudaraku, beginilah jawaban, alasan orang-orang yang menolak dakwah para Nabi ‘alaihimussalam. Bahkan model kalimat yang terakhir ini termasuk perkara yang menjadi faktor orang-orang di masa jahiliyah menolak dakwah Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

 

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab Rohimahullah mengatakan,

المسائل الخامسة عشرة : اعتذارهم عن إتباع ما آتاهم الله بعدم الفهم

“Perkara Jahiliyah Kelima Belas,

Mereka beralasan tidak paham untuk tidak mau mengikuti apa yang Allah perintahkan”[5].

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafidzahullah menjelaskan,

Menolak Kebenaran 01

“Yaitu mereka beralasan untuk tidak mau menerima kebenaran dengan alasan bahwa mereka tidak paham, sebagaimana Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan tentang orang-orang yahudi ketika Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah masuk ke dalam Islam.

قَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ بَلْ لَعَنَهُمُ اللَّهُ بِكُفْرِهِمْ

“Mereka mengatakan, “Hati kami terkunci, Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka karena keingkaran mereka”. (QS. Al Baqoroh [2] : 88)[6].

 

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Menolak Kebenaran 02

Muhammad bin Ishaq Rohimahullah mengatakan, ‘Muhammad bin Abu Muhammad menceritakan kepada kami dari ‘Ikrimah atau Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma,

(قَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ) yaitu padanya ada penutup.

Ali bin Abu Tholhah Rohimahullah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma,

(قَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ) yaitu tidak memahami.

Al Aufa Rohimahullah mengatakan dari dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma,

(قَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ) yaitu itulah hati yang telah terkunci.

Mujahid Rohimahullah mengatakan,

(قَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ) yaitu padanya ada penutup.

Ikrimah Rohimahullah mengatakan, ‘Padanya ada pengunci’.

Abul ‘Aliyah Rohimahullah mengatakan, ‘(hati mereka) Tidak dapat memahami’.

As Sudiy Rohimahullah mengatakan, ‘Mereka mengatakan pada hati mereka ada penutup’.

‘Abdur Rozzaq Rohimahullah mengatakan dari Ma’mar Rohimahullah dari Qotadah Rohimahullah

(قَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ) yaitu semisal Firman Allah (وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ) “Mereka berkata, ‘Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya’. (QS. Fushilat [41] : 5).

‘Abdur Rohman bin Zaid bin Aslam Rohimahullah mengatakan,

(غُلْفٌ) seseorang mengatakan, ‘Pada hatiku ada penutup sehingga tidak akan sampai apa yang engkau katakan’. Kemudian beliau membaca Firman Allah (وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ).

Inilah pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir. Tafsir ini diperkuat dengan hadits ‘Amr bin Murroh Al Jamli dari Abu Al Bukhtari dari Hudzaifah, beliau mengatakan, “Hati ada empat jenis”. Kemudian beliau menyampaikan salah satunya yaitu hati yang dimurkai itulah hatinya orang-orang yang kafir”[7].

 

Beliau menyimpulkan,

Menolak Kebenaran 03

“Hal ini kembali kepada makna yang telah kami sebutkan, yaitu tidak sucinya hati mereka dan sesungguhnya hati mereka dijauhkan dari kabaikan/kebenaran[8].

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafidzahullah mengatakan,

Menolak Kebenaran 04

“Makna lain (kedua) dari Firman Allah,

قَالُوا قُلُوبُنَا غُلْفٌ

Yaitu sesungguhnya hati kami telah dipenuhi ilmu sehingga kami tidak membutuhkan perkataan siapapun. Mereka tidak membutuhkan perkataan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam”.

 

Beliau melanjutkan,

Menolak Kebenaran 05

“Allah ‘Azza wa Jalla menjelaskan sesungguhnya sebabnya bukanlah seperti yang mereka katakan. Bahkan penyebabnya adalah Allah telah melaknat mereka disebakan keingkaran mereka terhadap kebenaran. Yaitu mereka diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah. Sehingga mereka menjadi tidak menerima kebenaran disebabkan keingkaran mereka. Huruf ba pada ayat ini merupakan huruf ba yang menunjukkan sebab. Sehingga mereka menjadi orang-orang yang tidak faham perkataan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam karena mereka tidak mau memperhatikan dan mengabaikannya. Allah palingkan mereka dari kebenaran sebagai hukuman bagi mereka. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ

“Tatkala mereka berpaling (dari kebenaran),maka Allah memalingkan hati mereka”.

(QS. Shof [61] : 5)

Barangsiapa yang tidak mau menerima kebenaran maka Allah akan tenggelamkan di dalam kabathilan. Sehingga setelah itu dia tidak akan menerima kebenaran karena dia telah merusak hatinya”[9].

Menolak Kebenaran 06

“Sehingga alasan mereka bahwa pada hati mereka ada penutup tidaklah benar. Sesungguhnya Allah memalingkan hati mereka dari kebenaran hanyalah sebagai hukuman bagi mereka. Karena hati pada dasarnya berada di atas fithroh/kebenaran/Islam yang menerima kebenaran. Namun jika fithroh telah rusak jadilah hati tidak akan menerima kebenaran. Sebagaimana tanah, apabila tanah telah rusak maka dia akan menjadi tandus dan tidak dapat menumbuhkan tanaman”[10].

 

Sungguh benar firman Alla ‘Azza wa Jalla. Kenyataan terpampang di depan mata kita, ketika seseorang beralasan dengan alasan yang tidak benar ketika disampaikan kepadanya kebenaran maka jadilah setelah itu dia laksana orang yang pendengaran dan hatinya tertutup, tidak mau menerima kebenaran walaupun telah disampaikan dengan jelas dan cara yang hikmah. Allahul Musta’an.

 

Kesimpulannya

Menolak Kebenaran 07

Sesungguhnya barangsiapa yang menyombongkan dirinya dari kebenaran, tidak mau menerimanya ketika telah sampai kepadanya. Maka sesungguhnya dia akan ditimpakan musibah berupa rusakny hati sebagai hukuman terhadapnya[11].

Allahu a’lam.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga hati kita di atas kebenaran.

 

 

Sigambal

Setelah Isya’ 28 Muharrom 1436 H/ 20 Nopember 2014 M.

Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Bukhori no. 1292, Muslim no. 6926.

[2] HR. Muslim no. 6930.

[3] Memasukkan air ke hidung ketika berwudhu.

[4] HR. Muslim no. 384.

[5] Lihat Syarh Masail Jahiliyah Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hal. 60 cet. Darul Bashiroh, Mesir.

[6] Idem.

[7] Lihat Tafsir Qur’anil Azhim hal. 324/I Terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[8] Idem.

[9] Lihat Syarh Masail Jahiliyah hal. 60.

[10] Idem hal. 61.

[11]

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply