Mengapa Meminta Perlindungan Dari Fitnah Dajjal

29 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mengapa Meminta Perlindungan Dari Fitnah Dajjal

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Jika salah seorang dari kalian (selesai –pen) tasyahud maka hendaklah dia memohon perlindungan kepada Allah dari 4 hal dengan mengucapkan,

(اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ)

“Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari ‘adzab jahannam, ‘adzab qubur, fitnah/cobaan kehidupan dan kematian dan dari keburukan fitnah al masih ad dajjal”[1].

Hadits ini Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sebutkan untuk kita amalkan. Setiap kita sangat mungkin mengalami 3 hal yang Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sebutkan di atas. Namun tidak setiap kita akan bertemu dengan dajjal karena dia muncul kelak di akhir usia dunia. Lantas mengapa kita diperintahkan untuk berlindung darinya ?

Maka mari simak tanya jawab berikut.

Pertanyaan

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah pernah ditanya[2],

Mengapa Meminta Perlindungan Dari Fitnah Dajjal 1

“Tentang Dajjal, mengapa para Nabi memperingatkan kaumnya dari Dajjal padahal Dajjal tidaklah keluar melainkan pada akhir zaman saja ?”

Jawaban :

Mengapa Meminta Perlindungan Dari Fitnah Dajjal 2

Fitnah/ujian terbesar di muka bumi sejak penciptaan Nabi Adam ‘alaihissalam hingga tegaknya hari qiyamat adalah fitnah dajjal sebagaimana yang disabdakan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Oleh karena itulah tidaklah seorang Nabi sejak zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam hingga Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melainkan mereka akan memperingatkan kaumnya dari fitnah Dajjal ini karena keluarbiasaan kondisinya, betapa bahaya fitnah tersebut dan sebagai peringatan darinya. Padahal Allah Subhana wa Ta’ala juga mengetahui bahwa dia tidak akan keluar kecuali pada akhir zaman”.

Mengapa Meminta Perlindungan Dari Fitnah Dajjal 3

“Namun para Rosul diperintahkan untuk memperingatkan kaumnya dari fitnah Dajjal ini dengan tujuan untuk menjelaskan betapa dahsyatnya dan beratnya fitnahnya. Telah dirawayatkan secara valid dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيكُمْ فَأَنَا حَجِيجُهُ دُونَكُمْ ، وَإِنْ يَخْرُجْ مِنْ بَعْدِي ، فَاللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى خَلِيفَتِي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

“Jika saat Dajjal muncul dan aku (Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) masih bersama kalian maka akulah yang akan melindungi kalian darinya. Allah Ta’ala adalah pelindungku dan setiap muslim”[3].

Sebaik-baik pelindung adalah Robb kita ‘Azza wa Jalla.

Inilah Dajjal fitnahnya luar biasa bahkan dialah fitnah terbesar semenjak penciptaan Adam hingga hari qiyamat ditegakkan sebagaimana terdapat dalam hadits. Oleh sebab itu sudah sepantasnya untuk mengkhususkan permohonan perlindungan dari fitnahnya dan fitnah kehidupan pada akhir sholat (setelah tasyahud akhir -pen) dengan membaca,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Yaa Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari ‘adzab jahannam, ‘adzab qubur, fitnah/cobaan kehidupan dan kematian dan dari keburukan fitnah al masih ad dajjal”[4].

Mengapa Meminta Perlindungan Dari Fitnah Dajjal 4

“Adapun Dajjal maka maknanya berasal dari Ad Dajlu yaitu At Tamwih (tipuan, penyamaran). Karena dia adalah tipuan yang paling luar biasa dan dialah manusia yang paling luar biasa penipu”.

 

 

Setelah ‘Isya, 14 Robi’ul Awwal 1437 H, 24 Desember 2015 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] HR. Bukhori no. 5376 dan Muslim no. 588.

[2] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 13-14/II Terbitan Darul Wathon, Riyadh, KSA.

[3] HR. Muslim no. 2137.

[4] HR. Bukhori no. 5376 dan Muslim no. 588.

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply