Menelisik Perayaan Tahun Baru

30 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menelisik Perayaan Tahun Baru

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosu lillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Sama sepeti tulisan pada edisi pekan lalu. Tulisan ini bukan mengetengahkan fatwa ulama seputar terompet atau atribut perayaan tahun baru lainnya. Bukan juga mengetengahkan fatwa ulama berkaitan dengan hukum merayakan tahun baru. Namun kali ini kita akan mengetengahkannya dalam bentuk lain insya Allah.

Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman,

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang hilal. Katakanlah, “Bulan hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”. (QS. Al Baqoroh [2] : 189)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

Menelisik Perayaan Tahun Baru1

“Firman Allah Ta’ala (يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ) ‘Mereka bertanya kepadamu tentang hilal’. (الْأَهِلَّةِ) merupakan bentuk jama’ dari hilal. Yaitu bulan (sabit) yang dengannya ditandai awal bulan. Hilal disebut dengan hilal karena dia terlihat. Diantara makna hilal adalah (الْاسْتِهْلَالُ) sedangkan makna (الْإهْلَالُ) adalah suara yang kuat[1].

Beliau melanjutkan,

Menelisik Perayaan Tahun Baru2

“Firman Allah Ta’ala (قُلْ هِيَ) ‘Katakan hilal itu’ (مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ) ‘adalah tanda-tanda waktu bagi manusia’. (مَوَاقِيتُ) merupakan bentuk jamak dari (مِيْقَاتُ) yaitu sesuatu yang dengannya diatur amal-amal mereka yang membutuhkan pengaturan dengan bulan. Misalnya masa ‘iddah wanita yang ditinggal mati suaminya yaitu 4 bulan 10 hari. Masa ‘iddah wanita yang dicerai setelah ‘dukhul’ jika dia tidak haid yaitu selama 3 bulan. Tenggang waktu hutang, transaksi ijaroh dan selainnya”[2].

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimallah mengatakan diantara faidah yang dapat disimpulkan dari ayat ini adalah :

Menelisik Perayaan Tahun Baru3

“Sesungguhnya hikmah/tujuan adanya hilal adalah sebagai waktu bagi manusia yang dengannya diatur urusan agama dan dunia mereka. Berdasarkan firman Allah Ta’ala (مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ) ‘tanda-tanda waktu bagi manusia’”[3].

Beliau Rohimallah melanjutkan,

Menelisik Perayaan Tahun Baru4

“Sesungguhnya waktu yang ditentukan untuk seluruh ummat adalah apa yang telah Allah Subhana wa Ta’ala tetapkan bagi mereka yaitu hilal. Sehingga hilal (seharusnya -pen) merupakan penentuan waktu secara global. Berdasarkan firman Allah ta’ala Ta’ala (مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ) ‘tanda-tanda waktu bagi manusia’. Adapun pengaturan waktu/penanggalan yang muncul belakangan ini yaitu penanggalan orang-orang eropa (masehi) maka tidak ada dasarnya secara inderawi, akal dan syari’at. Oleh karena itulah kita akan dapati pada penanggalan tersebut bilangan hari yang berbeda-beda, ada yang 28 hari, 30 hari dan 31 hari. Tanpa adanya sebab yang dapat diketahui untuk membeda-bedakan bilangan hari tersebut. Sesungguhnya tidak terdapat tanda yang dapat diindera yang dapat dijadikan manusia sebagai patokan untuk menentukan waktu tersebut. Berbeda dengan penentuan bulan secara hilal (hijriyah), sesungguhnya pada penanggalan ini terdapat tanda yang dapat diindera yang (memungkinkan -pen) diketahui semua orang”.

Nah berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bagi kita bahwa sistem penanggalan yang diperuntukkan Allah ‘Azza wa Jalla bagi kita dan seluruh manusia sebenarnya adalah sistem penanggalan berdasarkan hilal atau yang dikenal dengan sistem penanggalan Hijriyah bukan masehi. Jika sebuah hal yang tidak diperuntukkan Allah Tabaroka wa Ta’ala bagi kita dan seluruh manusia, pantaskah kita merayakannya ??!!! Pantaskah Ummat Islam ikut-ikutan dengan hal yang tidak diperuntukkan Allah Subhana wa Ta’ala untuk mereka ???!!!!

 

Mari berfikir cerdas………

Mari berperilaku cerdas………..

Mari bertindak cerdas…………..

 

 

Sigambal, Setelah subuh ditemani teh dari istri tercinta,

 

8 Robi’ul Awwal 1436 H/ 30 Desember 2014 M.

Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Tafsir Surat Al Baqoroh oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimallah hal. 367/II terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[2] Idem hal. 367-268/II.

[3] Idem hal. 371/II.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply