Mendulang Faidah Wafatnya Sang Paman(I)

22 Nov

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mendulang Faidah Wafatnya Sang Paman (I)

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Pada perjalanan hidup para Nabi ‘alaihimussalam bersama ummatnya terdapat berbagai macam pelajaran. Ini sebagaimana yang ditegaskan Allah Tabaroka wa Ta’ala dalam firman Nya,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

 “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal”. (QS. Yusuf [12] : 111)

Demikian pula Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan potret pelaksanaan ajaran yang Islam yang sempurna. Di dalam berbagai kehidupannya terdapat hikmah yang dapat kita teladani dan jadikan pedoman dalam hidup. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak mengingat Allah”. (QS. Al Ahzab [33] : 21)

Pada kesempatan kali ini dan berikutnya insya Allah kita akan mencoba mengambil berbagai faidah dari kisah wafatnya Paman Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam Abu Tholib.

Hubungan Nasab Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dengan Sang Paman

Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan[1],

mendulang-faidah-wafatnya-sang-paman-i-1

“Abu Tholib adalah Abu Tholib bin ‘Abdul Muthollib, paman Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dari jalur ayah. Dia memelihara, mengasuh Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam setelah wafatnya kakeknya, ‘Abdul Muthollib. Abu Tholib tetap bersama beliau pada masa sebelum dan sesudah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam diangkat menjadi Nabi. Dia melindungi, menjaga beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam hingga tahun ke-8 setelah diangkat menjadi Nabi. Dia tidak pernah meningglkan Nabi dan senantiasa melindungi beliau dari gangguan kaumnya. Dia juga sabar dengan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam atas gangguan orang-orang musyrik. Dia juga mengorbankan banyak hal bersama Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Sehingga Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sangat menginginkan untuk memberikan petunjuk kepadanya. Ini merupakan salah satu bukti semangat dan sabarnya beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam untuk berdakwaah kepada Allah terutama pada keluarga dekatnya”.

Faidah :

Dari keterangan ringkas ini saja dapat kita ketahui bahwa Paman Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ini memiliki peran yang sangat besar dalam kehidupan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam baik setelah beliau diutus menjadi Nabi maupun sebelumnya. Artinya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memiliki ikatan kejiwaan yang sangat dalam dengan sang paman. Bahkan para ulama menyebutkan bahwa tahun dimana sang paman wafat merupakan tahun kesedihan (‘Aamul Hazn) bagi Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Syaikh Shofiyyur Rohman Al Mubarokfuri Hafizhahullah menyebutkan[2] bahwa Abu Tholib wafat pada Bulan Rojab tahun ke-10 dari kenabian. Namun ada juga yang menyebutkan bahwa dia wafat pada Bulan Romadhon tepatnya 3 hari sebelum istri Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam Khadijah Rodhiyallahu ‘anha wafat.

 

Diantara Jasa Abu Tholib Terhadap Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam

Syaikh Shofiyyur Rohman Al Mubarokfuri Hafizhahullah menyebutkan, “Setelah turunnya ayat tersebut (surat Asy Syu’aro : 214 -pen). Rosulllah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengundang keluarga dekat beliau dari kalangan Bani Hasyim. Yang hadir berjumlah sekitar 45 orang laki-laki. Tatkala Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam hendak berbicara Abu Lahab memotongnya dan bertutur, “Mereka yang hadir adalah paman dan sepupumu. Bicaralah dan tinggalkanlah agama barumu. Ketahuilah kamu tidak akan mampu melawan seluruh bangsa Arab dan aku (Abu Lahab) adalah orang yang paling pantas melarangmu”.

Ringkasnya kisah Abu Lahab terus menerus menghalangi beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam untuk berdakwah dan menakut-nakutinya.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun suatu ketika mulai bicara dan menyampaikan bahwa beliau adalah utusan Allah untuk mengajak manusia agar hanya menyembah Allah semata. Mendengarkan ucapan-ucapan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam maka Abu Tholib pun mengatakan,

mendulang-faidah-wafatnya-sang-paman-i-2

“Alangkah senangnya kami dapat membantumu, menerima nasihatmu dan sangat membenarkan ucapanmu. Mereka semua adalah suku dari ayahmu yang telah berkumpul. Sesungguhnya aku hanyalah salah seorang dari mereka namun aku adalah orang yang paling respon terhadap apa yang engkau inginkan. Oleh sebab itu, teruskanlah apa yang diperintkah kepadamu. Sungguh demi Allah, Aku akan senantiasa melindungi dan membelamu. Namun aku tidak dapat mena’atimu untuk berpisah dari agamanya Abdul Mutholib (kakek Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam).

Abu Lahab bersikeras dan mengatakan, “Demi Allah ini benar-benar keburukan. Cegahlah dia sebelum orang lain turun tangan mencegahnya”.

Namun Abu Tholib menimpali, “Sungguh aku akan selalu membelanya selama aku masih hidup[3].

 

Faidah :

Cukuplah ungkapan ringkas ini menjadi bukti bagi kita betapa besarnya perlindungan beliau kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Sayang seribu sayang keberanian beliau untuk menerima dan melaksanakan ajaran Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam terkalahkan ego kesukuan dan ego mempertahankan ajaran leluhur.

Namun sungguh sangat aneh, di zaman kita hidup ada orang yang mengaku Islam namun mati-matian membela ajaran kekafiran dan malah merendahkan Islam dan para ulamanya !!!!

Masih banyak jasa-jasa Abu Tholib kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan dakwah Islam yang tidak dapat kami ketengahkan di sini. Dalam rangka melaksanakan perintah Allah ‘Azza wa Jalla untuk berdakwah kepada kerabat, kedekatan nasab dan betapa besarnya jasa sang paman kepada Islam dan kaum muslimin inilah beberapa sebab yang mendorong Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam untuk mendakwahi sang paman agar masuk Islam. Sampai-sampai beliau ditegur langsung oleh Allah Tabaroka wa Ta’ala.

Insya Allah pada kesempatan berikutnya akan kami ketengahkan kisahnya.

 

15 Shofar 1438 H | 15 Nopember 2016 M

Ketika hendak berangkat mencari nafkah

 

 

 

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

Semoga Allah mengampuni dosa kami, kedua orang tua dan kakek nenek kami

[1] Lihat I’anatul Mustafid Syarh Kitab Tauhid hal. 341-342/I terbitan Darul ‘Ashomah, Riyadh,KSA.

[2] Lihat Rohiqil Makhtum hal. 103 terbitan Dar Ihya’ At Turots,

[3] Idem hal. 68-69.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply