Mendulang Faidah Wafatnya Sang Paman (4) End

22 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mendulang Faidah Wafatnya Sang Paman (4) End

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah. Pada seri sebelumnya kita telah mengetahui betapa semangatnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mendakwahkan tauhid kepada sang paman, Abu Tholib. Pada kesempatan kali ini kita akan melanjutkan kisah dan beberapa faidah dari wafatnya sang Paman, Abu Tholib.

Bahayanya Berteman Dekat Dengan Bukan Orang Sholeh

Dalam kelanjutan hadits ketika Abu Tholib akan menghadapi kematian. Kedua kawannya mengatakan ketika Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menawarkan berulang kali kalimat Tauhid Laa Ilaaha Illallah,

يَا عَمِّ قُلْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ. كَلِمَةً أَشْهَدُ لَكَ بِهَا عِنْدَ اللَّهِ. فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِى أُمَيَّةَ يَا أَبَا طَالِبٍ أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

 “Wahai pamanku, ucapkanlah Laa Ilaaha Illallah. Sebuah kalimat yang akan aku jadikan sebagai pembela untukmu di Sisi Allah”. Lalu Abu Jahal dan ‘Abdullah bin Abi Umayyah pun menimpali, “Wahai Abu Tholib, apakah engkau benci dengan agamanya ‘Abdul Muthollib (agama ayahnya –pen) ?”[1].

 Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan, “Bahanyanya shahabat, teman dengan yang buruk bagi diri seseorang. Maksudnya kalaulah kedua lelaki tersebut tidak ada boleh jadi Abu Tholib akan mengikuti tawaran Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun kedua orang tersebut –wal iyyadzu billah- menyebut-nyebut ucapan kefanatikan jahiliyah. Bahayanya teman dekat yang buruk tidak semata-mata hanya pada hal kesyirikan bahkan pada seluruh keadaan seseorang. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah membuat permisalan kepada kita tentang teman dekat seorang pandai besi. Boleh jadi baju anda akan terbakar apinya atau paling tidak anda akan mendapatkan aroma asap yang tidak sedap[2][3].   Faidah : Lihat betapa pentingnya berteman dengan orang-orang sholeh. Salah satu manfaat terbesarnya adalah boleh jadi anda terhindar dari su’ul khotimah dengan sebab talqin darinya. Adapun ketika anda berteman dengan orang-orang fasiq nan durjana maka anda tidak akan pernah tahu apakah anda dapat menjaga diri dari pengaruh buruk mereka. Yang lebih ditakutkan lagi boleh jadi ketika malaikat maut hendak mencabut nyawa anda, anda malah sedang asyik melihat, menonton atau bahkan bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla bersama mereka.

Mempertahankan Tradisi/ Adat Kesyirikan Berbuah Fatal

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan, “(Ungkapan kedua teman dekat Abu Tholib ini) merupakan bagian dari membangkitkan kefanatikan terhadap tradisi jahiliyah yaitu fanatik buta dan kebencian. Kedua orang ini mendatangkan alasan yang terlaknat yaitu apa yang disebutkan dalam Firman Allah Ta’ala,

إِنَّا وَجَدْنَا آَبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ

“Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama (tradisi –pen)”. [QS. Az Zukhruf (43) : 22]

Inilah hujjah/alasan orang-orang musyrik. Jika datang kepada mereka Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam maka mereka akan mengakatan, ‘Kami mendapati orang-orang tua kami di atas hal ini (kemusyrikan –pen). Kami tidak mampu meninggalkan kepercayaan mereka dan mengikuti kalian”[4].   Faidah : Ini jugalah alasan banyak orang untuk menolak kebenaran dari Al Qur’an dan Hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam serta pemahaman para shahabat Rodhiyallahu ‘anhu. Mereka menolaknya dengan alasan sudah menjadi kebiasaan dan tradisi orang-orang tua sejak zaman dulu. Alasan ini juga melahirkan keburukan berikutnya yaitu fanatik buta dan menolak kebenaran apapun cara dan dalil yang dibawakan. Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan Hafizhahullah juga mengatakan, “Pada hadits ini terdapat peringatan terhadap sikap fanatik buta kepada kepercayaan orang-orang tua jika bertentangan dengan apa yang dibawa para Rosul. Sebab faktor pendorong Abu Tholib adalah fanatik buta terhadap agama orang tuanya Abdul Muthollib dan itulah sebab su’ul khotimahnya –wal iyyadzu billah-. Oleh sebab itu hendaklah seorang muslim berhati-hati terhadap hal ini. Wajib bagi seorang muslim menerima kebenaran walaupun kebenaran tersebut menyelisihi, bertentangan dengan kepercayaan orang-orang tuanya. Adapun jika kepercayaan orang-orang tuanya sesuai dengan kebenaran (sesuai Islam –pen) maka mengikuti mereka benar/diperbolehkan. Lihatlah Nabi Yusuf ‘’alaihissalam, وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آَبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ذَلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ “Dan aku pengikut agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya)”. [QS. Yusuf (13) : 38] Maka mengikuti orang-orang tua yang di atas kebenaran merupakan sebuah hal yang disyari’atkan[5].   Faidah : Jadi Islam datang bukan menghancurkan semua kebiasaan orang tua terdahulu. Jika sesuai dengan ajaran para Rosul maka diikuti. Namun jika bertentangan apalagi mengandung unsur kesyirikan maka harus ditinggalkan dan dibuang jauh-jauh.

Orang Sholeh Tidak Punya Hak Atas Kekhususan Allah

Dalam hadits ini Allah Subhana wa Ta’ala menurunkan firman Nya kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam perihal Sang Paman, Abu Tholib.

إِنَّكَ لاَ تَهْدِى مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِى مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang layak menerima petunjuk”.  (QS. Al Qoshosh [28] : 56)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan, “(Ayat tersebut –pen) menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya jika Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam semasa hidupnya saja tidak punya kemampuan untuk memberikan hidayah taufiq kepada seseorang lantas bagaimana orang (wali –istilah mereka) yang sudah mati mampu memberikan hidayah taufiq ? Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam adalah manusia sebagaimana Allah berfirman tentang kedudukan beliau,

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا

 “Katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak kuasa/mampu mendatangkan sesuatu kemudharatan apapun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan apapun”.  (QS. Al Jin [72] : 21)

Faidah : Kalaulah Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam saja diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla untuk memberitahukan kepada ummatnya bahwa beliau tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan kemanfaatan baik berupa hidayah taufiq, larisnya dagangan dan seterusnya, lantas bagaimana mungkin ada orang selain beliau yang mampu ???!!! Demikian pula, kalaulah Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam saja diperintahkan Allah ‘Azza wa Jalla untuk memberitahukan kepada ummatnya bahwa beliau tidak memiliki kemampuan untuk mencegah kemudhorotan sedikitpun, lantas bagaimana mungkin orang selain beliau mengklaim dirinya mampu mencegah kemiskinan, penyakit, bala bencana, hujan dan lain sebagainya ???!!!!

Apa yang Didapatkan Abu Tholib Bukanlah Kezholiman Allah Padanya

Sering kita mendengar ungkapan orang yang meremehkan keimanan pada shahabat, ‘Kalaulah saya bertemu dengan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam atau bertemu dengannya maka saya juga akan mampu mengimbangi imannya para shahabat’. Ucapan ini sekilas indah namun rusak parah pada hakikatnya. Kenapa ? Tidakkah anda melihat akhir hidupnya Abu Tholib di atas kekafiran padahal orang yang mendakwahinya adalah keponakan yang diasuhnya sejak belia ? Bukankah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengerahkan seluruh kemampuan beliau untuk mendakwahi sang paman ?! Katakan pada orang yang punya ucapan demikian, ‘Apakah anda dapat menjamin bahwa anda tidak akan menjadi orang semisal Abu Tholib atau bahkan Abu Jahal ?!!! Allah Subhana wa Ta’ala telah mendatangkan sebab hidayah bagi Abu Tholib, yaitu dakwah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam kepadanya. Namun dia lebih kekafiran dibandingkan iman. Sehingga akhir ucapannya sebagaimana disebutkan dalam hadits,

عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ

“(Aku ) tetap berada di atas agamanya ‘Abdul Muthollib”.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan. Mudah-mudahan kita dapat mengambil faidah sebanyak-banyaknya dari kisah ini selanjutnya dapat berbuah amal yang lebih baik dari sebelumnya. Amin..

Setelah Subuh 19 Robi’ul Awwal 1438 H | 19 Desember 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir –Semoga Allah mengampuni dosa kami, kedua orang tua dan kakek nenek kami

[1] HR. Bukhori no. 1360, Muslim no. 24.

[2] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori No. 5534 dan Muslim no. 2628 dari Shahabat Abu Musa Al Asy’ari Rodhiyallahu ‘anhu.

[3] Lihat Al Qoulul Mufid hal. 358-359/I.

[4] Lihat I’anatul Mustafid Syarh Kitab Tauhid hal. 343/I.

[5] Idem hal. 350/I.

Tulisan Terkait

Leave a Reply