Memurnikan Tauhid, Solusi Permasalahan Ummat

7 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Memurnikan Tauhid, Solusi Permasalahan Ummat

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Bencana yang tidak kunjung berhentu dan krisis multi dimensi, rasanya kata inilah yang paling tepat menggambarkan apa yang terjadi di negeri kita Indonesia ini. Saat anda mengarahkan pandangan anda ke bawah. Maka anda akan melihat rakyat kecil di negeri yang kaya ini menjerit kesulitan ekonomi. Saat anda melihat ke atas maka anda akan melihat betapa menggelikannya tingkah orang yang katanya ‘pembesar negeri ini’. Ketika anda mengarahkan kedua mata anda ke kiri dan ke kanan, anda akan mendapati begitu banyak bencana yang melanda, hasil bumi tidak lagi berkah, korupsi dan penyelewengan dimana-mana. Ketika anda arahkan tangan anda ke dada anda sendiri maka anda akan hadapi begitu banyak maksiat yang sudah anda kerjakan.

Sebelum kita lanjutkan, kita sepakat bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mungkin salah, keliru dan out of date. Jika sudah kita sepakati maka mari simak firman Allah Ta’ala berikut,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar, taubat)”. (QS. Ar Ruum [30] : 41)

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Memurnikan Tauhid, Solusi Permasalahan Ummat 1a

Abul ‘Aliyah mengatakan, ‘Barangsiapa yang berbuat maksiat kepada Allah maka dia sungguh telah merusak bumi’. Karena baiknya bumi dan langit dengan melaksanakan keta’atan. Oleh sebab itulah terdapat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud,

لَحَدٌّ يُقَامُ فِيْ الأَرْضِ خَيْرٌ لِأَهْلِ الْأَرْضِ مِنْ أَنْ يُمْطَرُوا ثَلَاثِيْنَ صَبَاحًا

“Sungguh hukum hadd yang ditegakkan lebih baik bagi penduduk bumi daripada diturunkan hujan selama 30 hari”[1].

Berarti jelas permasalahan penyebab alam sudah tidak ramah adalah karena ulah tangan kita sendiri berupa maksiat dan sebesar-besar maksiat adalah kemusyrikan.

Jika tadi masalah alam tidak bersahabat dan hasil bumi yang tidak berkah. Selanjutnya permasalahan kita adalah rakyat yang tidak patuh, cenderung mencela dan meneriaki pemimpinnya, demo sana sini, tidak pernah merasa cukup dan yang semisal. Masalah tidak ada lagi amanah, korupsi, ketidakadilan pada penegakan hukum, hal baik dianggap buruk dan lain sebagainya.

Kalaulah kita mau duduk sebentar maka kita akan dapati bahwa permasalahan yang kita hadapi sebenarnya mengkerucut pada sebuah masalah yaitu kita belum mampu memurnikan tauhid pada diri kita, keluarga kita dan tetangga serta masyarkat kita. Jika kita termasuk orang yang sudah mulai sadar akan tauhid, maka sering kita lupa melaksanakan konsekwensi dari tauhid tersebut. Kita kurang memahami aqidah asma’ dan shifat Allah ‘Azza wa Jalla dan kurang menerapkan kandungan nama tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kalaulah boleh kita andaikan dengan sebuah permisalan. Jika ada sebuah benda yang dibuat untuk mengerjakan sebuah tugas yang sudah diprogramkan padanya. Lantas benda ini tidak dipergunakan sesuai tujuan pembuatan. Maka menurut anda apa yang terjadi ? Yap, benda tersebut akan rusak kawan. Jika benda itu sudah digunakan untuk tujuan yang dia dibuat untuk itu. Maka apakah perawatan dan caranya sudah mengikuti petunjuk penggunaan ? Nah ini mungkin kondisi saya dan anda.

Mari kita lihat kembali apa tujuan kita diciptakan (klik di sini). Satu ayat saja cukup menjelaskan kepada kita tentang ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepada Ku”. (QS. Adz Dzariyat [51] :56).

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Memurnikan Tauhid, Solusi Permasalahan Ummat 1

“Firman Allah Ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan untuk beribadah kepada Ku”. (QS. Adz Dzariyat [51] :56).

Maksudnya yaitu sesungguhnya Allah menciptakan mereka (jin dan manusia) hanyalah untuk beribadah kepada Ku, bukan karena kebutuhan Ku (Allah) terhadap mereka.

‘Ali bin Abu Tholhah mengatakan dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma, (إِلَّا لِيَعْبُدُونِ) yaitu melainkan agar mereka tunduk beribadah kepada Ku baik dalam keadaan senang ataupun susah. Inilah pendapat yang dipilih Ibnu Jarir Rohimahullah.

Ibnu Juraij mengatakan (إِلَّا لِيَعْبُدُونِ) yaitu agar mereka mengenal Aku. Ar Robi’ bin Anas mengatakan (إِلَّا لِيَعْبُدُونِ) yaitu melainkan untuk beribadah[2].

Memurnikan Tauhid, Solusi Permasalahan Ummat 2

“Makna ayat : Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan para hamba untuk beribadah kepada Nya semata dan tidak menyekutukannya sedikitpun dengan suatu apapun. Barangsiapa yang ta’at kepada Nya maka Allah akan balas dengan balasan yang paling sempurna. Sedangkan barangsiapa yang membangkang dengan berbuat maksiat maka Allah akan timpakan padanya adzab yang perih. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan bahwasanya Dia tidak butuh mereka. Bahkan merekalah yang sangat membutuhkan Nya dalam semua keadaan mereka. Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat yang menciptakan dan memberika mereka rizki”[3].

Demikian juga templete diri kita adalah bertauhid kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini terisyaratkan dalam hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam yang masyhur di telinga kita,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak yang lahir di lahirkan di atas fithroh. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nashrani”[4].

Dalam salah satu lafazh riwayat Muslim disebutkan,

مَا مِنْ مَوْلُودٍ يُولَدُ إِلاَّ وَهُوَ عَلَى الْمِلَّةِ

“Tidaklah bayi yang dilahirkan melainkan dia berada di atas Agama (Islam -pen)”[5].

Ayat dan hadits yang mulia ini menggambarkan kepada kita bahwa tujuan kita ada adalah untuk merealisasikan ibadah hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan itulah template kita dilahirkan. Maka pantaslah jika kita sudah lalai dari tujuan kita ada dan template diri kita, rusaklah diri kita, penyakit mewabah dimana-mana, musibah silih berganti dimana-mana. Keadaan sekitar kita tidak lagi nyaman. Semuanya karena kita lari dari tujuan dan basic kita diciptakan.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan[6],

Memurnikan Tauhid, Solusi Permasalahan Ummat 3

“Ini adalah ketentuan Allah terhadap hamba-hamba Nya. Tidak ada yang mampu mencegah kesulitan-kesulitan dunia yang semisal/lebih ampuh daripada tauhid. Oleh karena itulah do’a ketika dalam keadaan susah terkandung padanya kalimat tauhid. Demikian juga do’anya Dzun Nuun (Nabi Yunus) ‘alahissalam yang beliau berdo’a agar keluar dari kesulitan dengan do’a yang terkandung padanya kalimat tauhid”.

Memurnikan Tauhid, Solusi Permasalahan Ummat 4

Tidak ada yang mampu membawa seseorang kepada musibah yang luar biasa melainkan kemusyrikan. Tidak ada yang dapat menyelamatkan darinya melainkan tauhid. Maka tauhid adalah tempat perlindungan, menyelamatkan diri, benteng dan tempat mencari pertolongan bagi seluruh makhluk”.

Apa hubungan tauhid dengan masalah tersebut ?

Sebagai seorang rakyat bukankah kita seharusnya kita bertawakkal dengan sebenar-benarnya kepada Allah ? Bukanlah kita seharusnya lebih bekerja keras dan bekerja cerdas ? Bukankah seharusnya kita lebih qona’ah dan sabar atas rizki yang ada pada kita ? Bukankah seharusnya dalam bekerja kita musti amanah ? Bukankah seharusnya kita mendo’akan kebaikan buat kaum muslimin dan terlebih lagi penguasa ?

Sebagai seorang yang mendapat tanggung jawab terhadap orang lain, bukankah kita harusnya amanah ? Bukankah harusnya kita memikirkan derita orang yang kita pimpin, orang yang berada di bawah kita ? Bukankah setiap amanat yang berada di pundak kita akan ditanya Allah ‘Azza wa Jalla ? Belumkah kita paham tidak ada yang tersembunyi dari Allah ? Allah tidaklah lalai, siksa Allah amat sangat pedih.

Mungkinkah seseorang yang qona’ah, sabar, menjaga amanah, husnuzhon merupakan buah dari pengenalan seseorang terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Bahkan hal ini merupakan dampak dari tauhid yang benar. Bagaimana tidak, ketika dia benar-benar menyadari Allah lah yang menentukan rizkinya maka buat apa dia korupsi, buat apa dia tidak qona’ah, buat apa dia rakus dengan dunia ini, buat apa dia mengambil hak orang lain, buat apa dia suuzhon…

Mari berifikir arif, selamatkan diri anda, keluarga, tetangga anda dan bangsa kita dari kemusyrikan.

#thinkbig

Selesai Subuh, 15 Rojab 1436 H, 5 Mei 2015 M

Bersama putra tercinta, Hudzaifah

 

 

Aditya Budiman bin Usman.

[1] HR. Ibnu Majah no. 2538, Ahmad no. 8215. Syaikh Albani Rohimahumullah menilai hadits ini hasan.

[2] Lihat Tafsir Ibnu Katsir hal. 425/VII terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[3] Idem.

[4] HR. Bukhori no. 1293, Muslim no. 6929.

[5] HR. Muslim no. 6930

[6] Lihat Fawaidul Fawaid hal. 40-41 terbitan Dar Ibnul Jauziy, cet. Tahun 1429, Riyadh, KSA.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply