Manfaatkah Amalam Orang Hidup Bagi Yang Telah Meninggal [?]

15 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Manfaatkah Amalam Orang Hidup Bagi Yang Telah Meninggal [?]

Segala puji kita haturkan kepada Allah Subhana wa Ta’ala Dzat Yang Maha Hikmah dan ilmuNya meliputi segala sesuatu. Sholawat serta salam semoga senantiasa terhatur kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kepada, istri-istri, keluarga, sahabat dan umat beliau.

Ada sebuah permasalahan atau lebih enak jika dikatakan sebagai pembahasan fiqhiyah namun terkandung juga masalah aqidah di dalamnya. Yang kami maksudkan adalah pembahasan apakah amalan orang yang masih hidup bermanfaat bagi orang yang sudah tiada (wafat/meninggal).

Pada kesempatan kali ini kami akan mencoba mengetengahkan pembahasan yang sederhana dan sistematis agar lebih mudah dipahami insya Allah.

Pertama, para ulama ahlu sunnah sepakat bahwa amal seseorang yang masih hidup akan memberikan manfaat bagi orang yang sudah meninggal dalam dua hal[1].

[1]. Amalan yang mayit ketika masih hidup menjadi sebabnya. Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan hafidzahullah mengatakan, “…. Semisal sedekah jariyah, wakaf untuk masjid atau wakaf untuk madrasah yang masih diajarkan (ilmu agama) di dalamnya. Maka selama wakaf yang dia berikan masih memberikan manfaat maka selama itu pula pahalanya akan bermanfaat bagi mayit”[2].

[2]. Doa kaum muslimin, permohonan ampunan dari mereka kepada mayit, sedekah, haji (walaupun dalam masalah haji ada perselisihan tentangnya).

 

Kedua, para ulama berselisih pendapat tentang ibadah badaniyah, seperti puasa, sholat, qiro’ah (bacaan) Al Qur’an dan dzikir. Abu Hanifah, Ahmad dan Jumhur Salaf berpendapat sampainya. Sedangkan pendapat yang mashur dari Mazhab Syafi’i dan Malik menyatakan tidak sampai.

Ketiga, adapun pendapat yang mengatakan bahwa tidak sampainya sama sekali merupakan pendapatnya sebagian ahlu bid’ah dari kalangan ahli kalam. Dan pendapat ini adalah pendapat yang bathil berdasarkan dalil dari Al Qur’an dan Sunnah (yang insya Allah akan dipaparkan selanjutnya)

Setelah kita sampaikan hal di atas maka selanjutnya kita akan memaparkan dalil-dalil yang mendasarinya.

Pertama, dalil yang menujukkan bermanfaatnya amalan yang mayit ketika masih hidup menjadi sebabnya adalah Al Qur’an, Sunnah, ijma’ dan qiyas yang benar.

Firman Allah Subhana wa Ta’ala,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. (QS. An Najm [53] : 39).

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang manusia meninggal maka putuslah darinya amalnya kecuali tiga, sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan atau anak yang sholeh yang mendo’akannya”[3].

Adapun dalil yang menunjukkan bermanfaatnya permohonan ampunan dari yang hidup kepada mayit dan termasuk di dalamnya do’a adalah firman Allah Subhana wa Ta’ala,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami”. (QS. Al Hasyr [59] : 10).

Sisi pendalilannya adalah Allah ‘Azza wa Jalla memuji permohonan ampun mereka untuk orang-orang mukmin sebelum mereka. Maka hal itu menunjukkan bermanfaatnya permohonan ampun orang yang hidup bagi orang yang telah meninggal.

Adapun dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dapat kita lihat dalam doa-doa yang sudah ma’ruf ketika sholat jenazah.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ

“Ya Allah ampunilah dia, sayangilah dia ……”[4].

Adapun dalil sedekah adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana diriwayatkan dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha,

أَنَّ رَجُلاً أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّىَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ ».

Ada seorang laki-laki yang mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian dia bertanya, ‘Wahai Rosulullah sesungguhnya ibuku meninggal tiba-tiba dan ia belum sempat memberikan wasiat. Menurutku apabila ia sempat berkata-kata (berwasiat) maka dia akan (berwasiat untuk) bersedekah. Apakah ada pahala baginya jika aku bersedekah untuknya ?’ Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ya”[5].

Dalil puasa adalah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang mati sedangkan ia memiliki kewajiban puasa[6] maka walinyalah yang mempuasakannya”[7].

Walaupun dalam masalah ini para ulama berselisih pendapat, Imam Abu Hanifah Rohimahullah mengatakan yang wajib bagi orang semisal ini adalah memberi makan bukan mempuasakannya.

Dalil haji adalah sabda Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّيْ نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجْ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجَّ عَنْهَا ؟ قَالَ ( نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضَيَتِهِ ؟ اقْضُوا اللهَ فَاللهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

Sesungguhnya ada seorang wanita dari Juhainah datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan mengatakan, ‘Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji namun dia belum melaksanakannya hingga wafat, apakah aku boleh menghajikannya ?’ Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ya hajikanlah dia, bukankah jika ibumu punya hutang maka akan engkau menunaikannya ? Maka hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan”[8].

Kedua, adapun ibadah yang diperselisihkan para ulama apakah bermanfaat bagi orang yang sudah meninggal diantaranya adalah bacaan Al Qur’an. Agar lebih mudah maka kita bagi hal ini menjadi dua bagian,

[1]. Bacaan Al Qur’an dari orang yang diberi upah untuk membacanya. Maka amalan semisal ini tidak pernah ada yang melakukannya baik dari kalangan para sahabat, imam-imam dalam Islam dan tidak ada yang membolehkannya. Maka hal demikian ini tidaklah boleh dilakukan. Mukhtar bin Mahmud Az Zahidi Al Ghuzamaini Rohimahullah mengatakan, “Seandainya ada orang yang berwasiat agar sebagian dari hartanya diberikan untuk upah bagi orang yang membacakan Al Qur’an di kuburnya maka wasiat semisal ini adalah wasiat yang bathil”.

[2]. Adapun bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan orang yang tidak diberi upah kepada yang membacakannya maka ulama berselisih pendapat tentangnya. Sebagaian ada yang berpendapat sampainya berdasarkan qiyas dengan sampainya pahala ibadah haji dan puasa. Sebagian lain menganjurkannya sedangkan sebagian lainnya menganggap hal itu termasuk perbuatan bid’ah karena para sahabat tidak pernah melakukannya, yang artinya pahalanya tidak sampai.

Al Imam Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء، ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة، رضي الله عنهم، ولو كان خيرا لسبقونا إليه، وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء،

 “Berdasarkan ayat yang mulia ini Imam Syafi’i dan orang-orang yang mengikuti beliau berpendapat bahwa pahala membacakan Al Qur’an bagi orang yang sudah wafat tidak sampai karena hal itu bukan merupakan amal usahanya sendiri oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak menganjurkan ummat untuk melakukannya, tidak juga menuntunkannya kepada ummatnya. Hal itu tidak juga dinukil dari salah seorang sahabatpun. Sehingga seandainya hal itu baik tentulah para sahabat lebih dahulu melakukannya. Dan qiyas dan akal semata tidak berlaku dalam masalah qurbah semisal ini…”[9].

Allahu a’lam pendapat terakhir inilah yang lebih menenangkan hati, sebagaimana yang dipilih Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz Rohimahullah.

Kesimpulannya :

[1]. Amalan yang mayit ketika masih hidup menjadi sebabnya, doa, permohonan ampunan dari mereka kepada mayit, sedekah, haji dapat memberikan manfaat bagi orang yang telah wafat.

[2]. Adapun ibadah semisal sholat bacaan Al Qur’an dan dzikir maka para ulama berselisih pendapat tentangnya dan yang lebih kuat –Allahu a’lam- adalah pendapat yang mengatakan tidak sampai.

Mudah-mudahan bermanfaat bagi kami sebagai tambahan amal dan pembaca sebagai tambahan ilmu dan amal.

[terinspirasi dari Syarh Al Aqidah  Ath Thohawiyah oleh Ibnu Abi Al Izz hal. 683-693/II terbitan Mu’asasah Risalah]

Aditya Budiman bin Usman (Semoga Allah menjauhkan kami dari api neraka)

Murajaah : Aris Munandar Hafidzahullah (http://ustadzaris.com/)



[1] Lihat Syarh Al Aqidah  Ath Thohawiyah oleh Ibnu Abi Al Izz hal. 683-684/II terbitan Mu’asasah Risalah.

[2] Lihat At Ta’liqot Al Mukhtashoroh ‘ala Al Aqidah  Ath Thohawiyah hal. 215, terbitan Dar ‘Ashimah, Riyadh, KSA.

[3] HR. Muslim no. 1631.

[4] HR. Muslim no. 2276.

[5] HR. Bukhori no. 1388 dan Muslim no. 1004.

[6] Puasa yang dimaksud di sini adalah puasa nadzar, sebagaimana disampaikan Oleh Syaikh Al Albani Rohimahullah dalam Ahkamul Janaiz hal. 213.

[7] HR. Bukhori no. 2756 dan Muslim no. 1638

[8] HR. Bukhori no. 1852

[9] Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir hal. 320/IV terbitan Dar Ibnu Rojab, Mesir.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply