Makna Taqwa

6 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Taqwa

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Melanjutkan seri sebelumnya, pada kesempatan ini kita akan menghadirkan makna taqwa dan berbagai ungkapan para ulama seputar taqwa.

Ibnu Rojab Rohimahullah mengatakan[1],

Asal/ dasar taqwa adalah seorang hamba menjadikan adanya tameng antara dirinya dan hal yang ditakuti, diwaspainya. Sehingga taqwa seorang hamba kepada Robbnya adalah dia menjadikan adanya tameng antara dirinya dan hal yang dikhwatirkan, ditakutinya berupa marah, kemurkaan dan hukuman dari Robbnya yaitu dengan melakukan keta’atan kepada Nya dan menjauhi maksiat kepada Nya”.

Inilah makna taqwa dalam Firman Allah Subhana wa Ta’ala,

وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

 “Bertaqwalah kepada Allah yang hanya kepada Nyalah kamu akan dikumpulkan”.

(QS. Al Maidah [5] : 96)

Menjauhi kemusyrikan dan mengikhlaskan ibadah merupakan bagian utama dari ketaqwaan seorang hamba,

Mu’adz bin Jabal Rodhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘Akan dipanggil pada hari qiyamat, “Mana orang-orang yang bertaqwa ?” Maka mereka pun berdiri di lindungan/naungan Allah Ar Rohman. Dimana tidak ada penutup pada mereka dan mereka pun tidak tersembunyi. Mereka mengatakan kepada Nya, “Siapa itu orang-orang yang bertaqwa ?” Dia menjawab, “Mereka adalah kaum yang takut, menghindari syirik dan peribadatan terhadap berhala serta mengikhlaskan ibadah mereka hanya kepada Allah[2].

 

Membenarkan Al Qur’an dan Hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam serta mengamalkan ilmu merupakan bagian dari ketaqwaan.

Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang takut kepada Allah dan hukuman Nya karena meninggalkan ilmu yang sudah mereka ketahui. Mereka pun adalah orang-orang yang mengharapkan kasih sayang Nya terhadap pembenaran atas apa yang didatangkan Nya (berupa janji ganjaran yang berasal dari Al Qur’an dan hadits -pen)”.

 

Taqwa bukan hanya terbatas pada peribadatan semata.

Al Hasan Rohimahullah mengatakan, “Orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang meninggalkan seluruh yang yang diharamkan atas mereka dan menunaikan apa yang diwajibkan atas mereka”.

‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz Rohimahullah mengatakan, “Bukanlah orang yang bertaqwa kepada Allah (orang yang hanya –pen) puasa di siang hari dan qiyamul lail di malam hari dan hal-hal yang semisal itu. Namun taqwa keapda Allah (juga –pen) adalah dengan takut kepada Allah dengan meninggalkan semua yang Allah haramkan dan melaksanakan apa yang Allah wajibkan. Maka barang siapa yang dianugrahi rezki setelah itu maka itu adalah kebaikan di atas kebaikan”[3].

 

Beramal atau meninggalkan suatu perbuatan karena Allah dan atas dasar ilmu merupakan bagian dari ketaqwaan.

Tholq bin Habib Rohimahullah mengatakan, “Taqwa adalah engkau beramal, mengerjakan keta’atan kepada Allah di atas cahaya dari Allah (ilmu –pen) karena mengharap pahala dari Allah. Juga engkau meninggalkan maksiat kepada Allah di atas cahaya dari Allah (ilmu –pen) karena takut hukuman dari Allah[4].

Para ulama mengatakan bahwa inilah pengertian atau definisi taqwa yang paling lengkap. Sebab tercakup padanya adanya amal sholeh dan meninggalkan kemaksiatan atas dasar ilmu. Defenisi ini juga memuat adanya motif seorang hamba dalam beramal dan meninggalkan kemaksiatan yaitu berharap ganjaran dari Allah dan takut terhadap hukumannya.

 

Selanjutnya taqwa yang paling sempurna adalah taqwa yang melahirkan sikap waro’.

Al Hasan Rohimahullah mengatakan, “Taqwa akan selalu ada pada orang-orang yang bertaqwa sampai mereka meninggalkan banyak hal yang (sebenarnya –pen) halal karena takut terjatuh pada keharaman[5].

 

Ilmu merupakan pondasi bagi seseorang untuk benar-benar bertaqwa. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan Tholq bin Habib Rohimahullah di atas. Ibnu Rojab Rohimahullah menegaskan,

“Pondasi taqwa adalah seorang hamba berilmu, mengetahui sesuatu yang akan dia bertaqwa/takut terhadapnya”[6].

Ringkasnya taqwa merupakan sebuah kata yang mencakup perbuatan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi seluruh laranganNya ikhlas mengharapkan ridhoNya dan takut terhadap neraka Nya berdasarkan ilmu dari Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Allahu a’lam.

 

 

Waktu Dhuha 5 Rojab 1438 H |  4 April 2017 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam hal. 398/I terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut.

[2] Idem hal. 400/I.

[3] Idem.

[4] Idem.

[5] Idem hal. 401/I.

[6] Idem hal. 402/I.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply