Makna Shifat Allah Istiwa’ di atas ‘Arsy

12 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Shifat Allah Istiwa’ di atas ‘Arsy

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Telah disampaikan pada artikel sebelumnya (klik di sini) seputar keyakinan Ahlu Sunnah wal Jama’ah bahwa Allah Subhana wa Ta’ala berada di atas langit dan beristiwa’ di atas ‘Arsynya.

Lantas apa makna dari shifat istiwa’ tersebut ? Mari simak keterangan berikut.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan[1],

“Ahlu Sunnah wal Jama’ah mengimani bahwasanya Allah Ta’ala beristiwa di atas ‘Arsynya dengan istiwa’ yang layak dengan keagungan Allah, tidak semisal/sebagaimana istiwa’nya para makhluk.

Jika ada yang bertanya kepada anda, ‘Apa makna istiwa’ ?’ Maka maknanya adalah tinggi dan tetap/menetap”.

“Terdapat riwayat dari para salaf tentang tafsir istiwa’ pada 4 makna, Pertama : ‘Alaa/ tinggi, Kedua : Irtafa’a /Naik, Ketiga : Sho’ada/ Naik dan Keempat : Istaqorro/ menetap.

Namun makna ‘alaa dan irtafa’a serta sho’ada maknanya sama sedangkan makna istaqorro berbeda (dari ketiganya)”.

Syaikh Sholeh Alu Syaikh Hafizhahullah mengatakan[2],

“Misalnya kata istiwa’ secara bahasa maknanya diketahui yaitu ‘uluw dan irtifa’a (tinggi)”.

Syaikh DR. Muhammad bin Musa Alu Nashr Hafizhahullah mengatakan[3],

“Istiwa’ memiliki 4 makna yang semuanya diriwayatkan dari generasi salaf dan makna secara Bahasa ‘Arab. Yaitu, ‘alaa/ tinggi, irtafa’a/ tinggi, sho’ada/ naik dan istaqorro/ menetap. Semua maknanya sama kecuali istaqorro yang memiliki makna tambahan dari makna tinggi”.

Kemudian beliau membawakan salah satu riwayat berikut,

“Dari Abul ‘Aliyah Ar Royahiy (wafat tahun 90 H) dan Mujahid bin Jabr (wafat tahun 102 H) Rohimahumallah tentang tafsir Istiwaa’ : ‘alaa dan irtafa’a (tingg)[4].

 

Intinya makna Istiwa’ secara Bahasa Arab dan Riwayat yang terdapat dari generasi salaf adalah tinggi dan menetap. Inilah makna yang benar dan tidak membutuhkan takwil (penyelewengan makna) dari riwayat yang telah ada maknanya dalam Bahasa Arab yang fasih. Allahu a’lam.

 

Sigambal, Hendak berangkat kerja

12 Sya’ban 1438 H, 8 Mei 2017 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Syarh ‘Aqidah Washitiyah hal. 242 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA (cet. khusus untuk luar KSA).

[2] Syarh ‘Aqidah Washitiyah hal. 507 terbitan Dar ‘Ashomah Riyadh, KSA.

[3] Lihat Al Intishor Syarh ‘Aqidah Aimmah Al Amshor hal. 170-171 terbitan Darul Atsariyah, ‘Amman, Yordania.

[4] Lihat Shohih Bukhori Bab Wa Kaana ‘Arsyuhu ‘alaal Ma’ atau Fathul Bari hal. 390/XVII terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply