Makna Asmaul Husna, Ash Shomad

7 Sep

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Asmaul Husna, Ash Shomad

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Kembali kita melanjutkan artikel yang sudah sangat lama tidak berlanjut yaitu seputar penjelasan ringkas makna dari Asma’ul Husna Allah ‘Azza wa Jalla. Silakan klik di sini untuk melihat pembahasan sebelumnya. Pada kesempatan kali ini kita telah sampai pada makna  Ash Shomad.

Penyebutan Ash Shomad dalam Al Qur’an dan Sunnah

Nama Allah Ash Shomad ini hanya disebutkan sekali dalam Al Qur’an,

اللَّهُ الصَّمَدُ

 “Allah adalah Ash Shomad”. (QS. Al Ikhlas [112] : 2).

Sedangkan di dalam hadits, setidaknya nama ini disebutkan dalam hadits ‘Abdullah bin Buraidah Rodhiyalahu ‘anhuma dari ayahnya,

سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. فَقَالَ: قَدْ سَأَلَ اللَّهَ بِاسْمِ اللَّهِ الْأَعْظَمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى، وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam mendengar seorang lelaki berdoa,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

(Ya Allah, sesungguhnya aku meminta karena aku bersaksi bahwasanya Engkau adalah Allah, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Dzat Yang Maha Esa, Ash Shomad, Dzat yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, Dzat yang tiada yang semisal dengan-Nya). Maka Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh engkau telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang paling mulia, bila meminta dengan nama itu maka pasti diberi dan bila berdoa dengannya pasti dikabulkan”[1].

Makna Ash Shomad dalam Bahasa Arab

Syaikh DR. Muhammad Hamud An Najdi Hafizhahullah mengatakan[2],

“(صمده – يصمده – صمدا) maknanya menujunya, berpagang padanya.

(الصمد) adalah pemimpin yang dita’atati, tidak ada perintah yang terlaksana kecuali perintah-Nya”.

“(الصمد) secara bahasa yaitu sesuatu yang tidak punya perut. Ada juga yang menyebutkan, (الصمد) itu maknanya tempat yang tinggi di atas bumi”.

Makna Nama Allah Ash Shomad

Ibnu Jarir Ath Thobari Rohimahullah menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan makna Ash Shomad terkait nama Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu beliau menukilkan berbagai riwayat pendapat tersebut. Diantaranya,

Mujahid berpendapat bahwa Ash Shomad adalah Dzat yang tidak memiliki lambung.

Demikian pula ini pendapatnya Al Hasan dan ‘Ikrimah. Asy Sya’bi berpendapat bahwa Ash Shomad maknanya adalah Dzat yang memakan makanan”.

’Ikrimah juga mengatakan bahwa Ash Shomad maknanya Dzat yang tidak keluar darinya sesuatu apa pun, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan”.

“Abu Wail mengatakan, “Ash Shomad maknanya adalah pemimpin yang kedudukannya paling puncak. Al Hasan dan Qotadah berpendapat, “Maknanya adalah Dzat yang kekal setelah hancurnya ciptaan-Nya”. Dia (Abu Wail) mengatakan, “Surat ini (Al Ikhlas) merupakan surat yang murni (tentang Allah –pen) tidak ada padanya penyebutan perkara dunia maupun akhirat”. Qotadah mengatakan, “(الصمد) adalah Dzat yang senantiasa ada”.

“Abu Ja’far mengatakan, “(الصمد) menurut Bahasa Arab adalah pemimpin yang ditujukan kepadanya (seluruh perkara), sesuatu yang tidak ada seorang pun di atasnya. Oleh karena itulah disebut orang yang paling mulia dengan (صمد)”.

Pendapat ini juga merupakan pendapatnya Abu Ubaidah dan Al Juzaj Rohimahumullah.

[Selesai kutipan.]

Syaikh Prof. DR. ‘Abdurrozzaq Hafizhahullah mengutip,

Ibnu Jarir Ath Thobari Rohimahullah meriwatkan dalam tafsirnya, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan, “(الصمد) adalah Pemimpin yang sempurna kepemimpinannya, Dzat yang maha mulia yang sempurna kemuliaan-Nya. Dzat yang maha agung yang sempurna keagungan-Nya. Dzat yang maha santun yang sempurna kesantunan-Nya. Dzat yang maha kaya yang sempurna kekayaan-Nya. Dzat yang maha perkasa yang sempurna keperkasaan-Nya. Dzat yang maha mengetahui yang sempurna ilmu-Nya. Dzat yang maha hikmah yang sempurna hikmah-Nya. Dialah Dzat yang sempurna seluruh shifat kemuliaan dan kepemimpinan-Nya. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Inilah shifat-Nya, yang tidak layak memiliki shifat ini selain Dia”[3].

Beliau juga mengatakan,

“Oleh karena itulah Al Hafizh Ibnu Katsir menukil dari Abul Qosim Ath Thobroni dalam kitabnya yang berjudul As Sunnah, setelah beliau membawakan banyak riwayat tentang berbagai pendapat seputar tafsir makna Ash Shomad. Beliaupun bertutur, “Semua pendapat ini benar, Ash Shomad merupakan bagian dari shifat – shifat Robb kita ‘Azza wa Jalla. Dialah Dzat yang ditujukan kepada-Nya seluruh hajat/kebutuhan,  Dialah Dzat yang sempurna kepemimpinan-Nya, Dialah Dzat yang tidak memiliki lambung, tidak butuh makan dan minum, Dialah Dzat yang kekal setelah hancurnya ciptaan-Nya”[4].

Beliapun mengutip,

Al Baghowi Rohimahullah mengatakan, “Yang paling tepat, lafazh Ash Shomad ini dibawakan pada seluruh pendapat yang telah disebutkan. Sebab makna-makna tersebut dimungkinkan. Oleh karena itu sebagai konsekwensinya maka tidak ada sesuatu apapun yang pantas menyandang shifat-shifat ini selain Allah Ta’ala[5].

Inilah pendapat yang tepat Insya Allah, Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Berdasarkan pendapat-pendapat ini maka makna menyeluruh dari Nama Allah, Ash Shomad adalah Dzat Maha Sempurnya shifat-shifat-Nya, yang seluruh makhluk butuh kepadanya”[6].

Atsar dari Beriman dengan Nama Allah, Ash Shomad

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Nashir Al Jalil Hafizhahullah mengatakan[7],

“Setiap makna dari makna-makna Nama Allah Ash Shomad akan membuahkan pengaruh keimanan di dalam dada seorang mukmin, diantaranya :

Pertama : Menncintai Allah ‘Azza wa Jalla yang kepada-Nya bergantung seluruh hajat seluruh makhluk. Dia juga yang menunaikan hajat semua makhluk-Nya, Dia pula yang menghilangkan kesusahan mereka. Sebab Dia adalah Al Qodir yaitu Dzat Yang Mampu atas segala sesuatu. Dia pula Al Lathif (Dzat Yang Maha Lembut) dan Ar Rohim (Dzat Yang Maha Penyayang).  Allah Ta’ala berfirman,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Fathir [35] : 2).

Konsekwensi kecintaan ini adalah seorang hamba hanya akan beribadah kepada Allah semata, tidak mensekutukan sama sekali, berlepas diri dari kesyirikan dan ahlinya, menunggalkan Allah dalam menyukai dan menakuti sesuatu. Karena milik Allah sematalah nama-nama yang indah dan shifat-shifat yang terpuji, yang memiliki berbagai keutamaan”.

Kedua : menunggalkan/mentauhidkan Allah semata dalam ketawakkalan, menggantungkan, menyerahkan seluruh urusan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Serta percaya dengan sepenuh hati akan kekuatan dan kemampuan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebab Dia adalah Ash Shomad, Dzat yang diharapkan seluruh hamba-Nya dalam menunaikan berbagai kebutuhan mereka:”.

Syaikh DR. Muhammad Hamud An Najdi Hafizhahullah mengatakan[8],

“Jika demikianlah shifat Robb kita maka wajib bagi seluruh hamba Allah untuk tidak bergantung kecuali hanya kepada-Nya, tidak meminta kecuali kepada-Nya. Karena Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala Dzat Sempurna Kepemimpinan-Nya, Dzat Yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu. Dzat yang tidak ada sesuatu apapun yang berada di atas-Nya, Dzat yang di tangan-Nya lah seluruh kebaikan. Dialah Dzat Yang Mampu atas segala sesuatu”.

Ketiga : mengagungkan dan memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Sempurna Kepemimpinan-Nya. Dimana ini merupakan salah satu nama dari Nama-Nama Allah Ta’ala. Hal ini menuntut konsekwensi hanya takut dan mengharapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Seorang hamba akan berusaha mengambil berbagai sebab yang diridhoi-Nya dan meninggalkan seluruh sebab yang membuat marah dan murka Allah ‘Azza wa Jalla.”.

Keempat : berdo’a dan bertawassul dengan menggunakan nama ini. Sebab nama ini mengandung berbagai kemuliaan dan keindahan. Oleh karena itulah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam menyetujui do’a seorang pria yang berdoa dengan menggunakan nama ini dlkanan mengabarkan kepadanya bahwa jika dia berdo’a dengan doa tersebut yang di dalamnya terdapat Nama Allah yang paling mulia maka doanya akan dikabulkan[9].

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ. الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ أَنْ تَغْفِرَ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتُكَفِّرَ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا إِنَّكَ أَنْتَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta karena aku bersaksi bahwasanya Engkau adalah Allah, yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau. Dzat Yang Maha Esa, Dzat yang segala sesuatu bergantung pada-Nya, Dzat yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, Dzat yang tiada yang semisal dengan-Nya, agar Engkau mengampuni dosa-dosa kami dan menghapuskan kesalahan-kesalahan kami karena sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.

Allahu Ta’ala A’lam

Menunggu istri di pajak,

Sabtu, Hari Arofah , 10 Agustus 2019 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] HR. Ahmad no. 22965, Abu Dawud no. 1493, Tirmidzi no. 3542, Ibnu Majah 3857 dan lain-lain. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani dan Al Arnauth Rohimahumullah.

[2] Lihat An Nahjul Asma hal. 375-377 (dengan ringkas) terbitan Maktabah Adz Dzhabiy, Kuwait, UEA.

[3] Hal. 736/XXIV, via Fiqh Asmaul Husna hal. 138 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[4] Tafsir Ibnu Katsir hal. 548/VIII via Fiqh Asmaul Husna hal. 139.

[5] Ma’alimut Tanzil hal. 321/VII, via Fiqh Asmaul Husna hal. 140.

[6] Lihat Tafsir Juzz ‘Amma hal. 354 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[7] Lihat Wa Lillahil Asmaul Husna hal. 493-494 terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[8] Lihat An Nahjul Asma hal. 382.

[9] HR. Ahmad no. 22965, Abu Dawud no. 1493, Tirmidzi no. 3542, Ibnu Majah 3857 dan lain-lain. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani dan Al Arnauth Rohimahumullah.

Tulisan Terkait

Leave a Reply