Makna Asmaul Husna, Al Kholiq, Al Baari dan Al Mushowwir

20 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Asmaul Husna, Al Kholiq, Al Baari dan Al Mushowwir

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Kembali kita melanjutkan artikel seputar penjelasan ringkas makna dari Asma’ul Husna Allah ‘Azza wa Jalla. Pada kesempatan kali ini kita telah sampai pada makna  Al Kholiq, Al Baari dan Al Mushowwir.

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[1],

“Allah telah menggabungkan penyebutan ketiga nama ini pada firman Nya Subhana wa Ta’ala,

هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

 “Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al Hasyr [59] : 24)

Yaitu Dia esa dalam hal penciptaan seluruh makhluk. Dia menciptakan seluruh ciptaan dengan shifat hikmahNya. Dia pula yang membentuk rupa dengan shifat kesempurnaan pengaturanNya. Dia menjadikan indah seluruh ciptaanNya. Maka Dia menciptakan, memulai penciptaan tanpa ada contoh sebelumnya, Dia memunculkan ciptaanNya pada waktu yang sesuai. Dia menentukan bentuk ciptaanNya dengan sebaik-baik bentuk. Dia menciptakannya secara proporsional. Memberikannya petunjuk untuk kemashlahatannya. Dia memberikan segala sesuatu sesuai dengan haknya yang pantas. Lalu dia dia memberikan mereka petunjuk kepada sesuatu yang dia diciptakan untuknya”.

“Al Kholiq/ Pencipta adalah Dzat yang menentukan atas segala sesuatu sesuai dengan shifat hikmahNya. Al Barii adalah Dzat yang mengadakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada. Sedangkan Al Mushowwir adalah Dzat yang menciptakan bentuk seluruh makhluk dan segala sesuatu sesuai yang dikehendaki Nya. Maka Nama Allah Al Barii dan Mushowwir keduanya merupakan rincian dari makna Nama Allah Sang Pencipta (Al Kholiq), sebagaimana ungkapan Ibnul Qoyyim Rohimahullah[2]. Maka Allah ‘Azza wa Jalla jika Dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu maka Dia menentukan/menakdirkan sesuai dengan ilmu dan hikmah Nya. Kemudian Allah Subhana wa Ta’ala mengadakannya sesuai ketentuan/ takdirNya serta pada bentuk yang Dia inginkan/ kehendaki”.

Beliau Hafizhahullah juga mengatakan[3],

“Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ

“Sesungguh Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu”. (QS. Al A’rof  [7] : 11)

Maka proses penciptaan terlebih dahulu kemudian pembentukan tubuh. Sebagaimana penciptaan dahulu kemudian mengadakan sesuatu yang sebelumnya belum ada. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ خَلَقْنَاكُمْ ثُمَّ صَوَّرْنَاكُمْ

“Sesungguh Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu”. (QS. Al A’rof  [7] : 11)

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. (QS. Al Hadid [57] : 22)

“Hasil ciptaan yang sebelumnya belum ada adalah makhluk. Allah telah menciptakan makhluk, diantara mereka ada yang kafir dan ada pula yang mukmin sebagaimana firman Nya Subhana wa Ta’ala,

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

 “Dia-lah yang menciptakan kamu maka di antara kamu ada yang kafir dan di antaramu ada yang mukmin. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

(QS. At Taghobun [64] : 2)

Barangsiapa diantara mereka yang beriman maka merekalah sebaik-baik ciptaan. Dan barangsiapa yang kafir dan musyrik maka merekalah seburuk-buruk penciptaan. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ (6) إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ (7) جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ذَلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya ”.

(QS. Al Bayyinah [98] : 6-8).

“Pada kesempatan ini sudah sepantasnya kami mengingatkan sesungguhnya syirik mereka yang menjadikan peribadahan kepada selain Allah bersama dengan Nya. Padahal yang menciptakan mereka dari tidak ada hanyalah Allah semata. Maka inilah puncak kedunguan dan kesesatan. Bahkan itu merupakan sebuah kezholiman yang paling parah dan kejahatan yang terbesar. Oleh sebab itulah Bani Isro’il itu dicela peribadatan mereka kepada anak sapi. Mereka menjadikannya sebagai tandingan Allah. Padahal anak sapi adalah hewan yang tidak memiliki apapun atas dirinya sendiri baik berupa kebaikan maupun keburukan. Lebih jauh lagi dari memiliki kebaikan atau kemanfaatan apapun itu bagi selain dirinya. Perbuatan mereka ini kezholiman di atas kezholiman. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَى بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ عِنْدَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak sapi (sebagai  sembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Baqoroh [2] : 54).

Pada 2 ayat sebelum ayat ini Allah berfirman,

ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَنْتُمْ ظَالِمُونَ

“Lalu kamu menjadikan anak sapi (sebagai sembahan) sepeninggalnya dan kamu adalah orang-orang yang zholim”. (QS. Al Baqoroh [2] : 51).

Kesyirikan merupakan bentuk zholiman yang paling keji dan mengerikan. Sebab bagaimana mungkin disamakan antara makhluk yang serba kurang dengan Dzat yang mengadakan/menciptakan seluruh makhluk. Maha Suci Allah dari apa yang mereka sekutukan”.

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[4],

“Kenyataan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Pencipta merupakan bukti nyata wajibnya mentauhidkan, menunggalkan Allah dalam ibadah. Demikian pula kenyataan bahwa Allah satu-satunya Dzat Yang Membuat Bentuk merupakan bukti atas wajibnya bertauhid dan ikhlas dalam beragama/beramal kepada Nya”.

Dalam banyak ayat Allah Subhana wa Ta’ala berhujjah bahwa Dia lah satu-satunya Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, oleh sebab itulah hanya Dia lah satu-satunya Dzat yang layak disembah dan diberikan beribadahan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ قَرَارًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَصَوَّرَكُمْ فَأَحْسَنَ صُوَرَكُمْ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَتَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (64) هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam. Dialah Yang hidup kekal, tiada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”. (QS. Ghofir [40] : 64-65).

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Dialah yang membentuk (memberikan bentuk) kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya. Tak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Ali ‘Imron [3] : 6).

Dalam ayat yang mulia ini Allah Subhana wa Ta’ala menegaskan kepada kita bahwa Dialah yang membentuk rupa kita. Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,

“Oleh sebab itulah Allah Subhana wa Ta’ala mengharamkan bagi para hamba Nya menggambar, membuat rupa makhluk Nya yang memiliki ruh/nyawa karena pada yang demikian itu ada unsur menyaingi Allah dalam hal penciptaan Nya. Demikian pula yang demikian itu merupakan pembuka pintu kemusyrikan[5] dan kesesatan”[6].

Beliau Hafizhahullah menyebutkan beberapa dalil terkait masalah ini diantaranya :

Hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu,

إِنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمُصَوِّرُونَ

“Sesungguhnya manusia yang paling berat siksanya di sisi Allah pada hari qiyamat adalah orang-orang yang menggambar/membuat rupa (makhluk bernyawa -pen)”[7].

Hadits lainnya yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha,

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ

“Manusia yang paling berat siksanya di sisi Allah pada hari qiyamat adalah orang-orang yang membuat sesuatu yang menyerupai ciptaan Allah”[8].

Hadits lainnya dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma,

إنَّ الَّذِينَ يَصْنَعُونَ الصُّوَرَ يُعَذَّبُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ لَهُمْ أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ

“Sesungguhnya orang yang membuat gambar makhluk bernyawa akan diajab pada hari kiamat dengan dikatakan kepada mereka”. Maka terdengar suara yang mengatakan, “Hidupkahlah apa yang telah kamu buat”[9].

Beliau Hafizhahullah mengatakan[10],

“Pada hadits yang terakhir ini dijelaskan bagaimana bentuk adzab bagi orang-orang yang menggambar makhluk bernyawa pada hari qiyamat. Mereka dibebani peniupan ruh kepada objek yang mereka gambar. Mereka tidak akan mampu melakukan hal tersebut sehingga adzab bagi mereka akan terus menerus”.

“Selanjutnya ketiga Nama Allah ini terbagi menjadi 2. Al Baari merupakan nama yang khusus milik Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak boleh digunakan secara muthlaq pada selain Allah apapun keadaanya. Sebab Al Baari adalah Dzat yang mempu mengadakan sesuatu yang sebelumnya belum ada. Hal ini merupakan kekhususan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Dialah Al Baari yang mampu menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ada. Adapun Al Kholiq dan Al Mushowwir merupakan dua nama yang jika keduanya digunakan secara muthlaq tanpa adanya taqyid maka tidak boleh digunakan kecuali hanya kepada Allah. Hal ini sebagaimana Firman Allah Ta’ala,

الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ

“Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa”. (QS. Al Hasyr [59] : 24)

Namun jika keduanya digunakan secara muqoyyad maka boleh digunakan untuk hamba. Sebagaimana disebutkan kepada orang yang mampu membuat sesuatu, ‘dialah pencipta nya (sesuatu benda)’[11].

“Barangsiapa yang tidak mengetahui rincian ini maka dia akan keliru pada permasalahan ini. Boleh jadi keliru dengan meniadakan secara mutlak pencitaan dan pembentuk rupa bagi makhluk. Atau boleh jadi dia keliru dengan menetapkan bagi makhluk sesuatu yang khusus pencipataannya hanya milik/hak Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebab Dialah satu-satunya yang mampu menciptakan dan mengadakan seluruh makhluk baik yang kecil maupun yang besar”.

Allahu a’lam

[Diringkas dari Kitab Fiqh Asma’ul Husna oleh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq hal. 117-121 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh]

 

Dini hari,

Kamis 17 Jumadil Akhiroh 1438 H, 16 Maret 2017 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Fiqh Asma’ul Husna oleh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq hal. 117 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh

[2] Lihat Syifa’ul ‘Alil hal 366/I.

[3] Lihat Fiqh Asma’ul Husna hal 118-119.

[4] Idem hal. 119 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh

[5] silakan baca tulisan kami berikut ini (klik di sini).

[6] Lihat Fiqh Asma’ul Husna hal 120.

[7] HR. Bukhori no. 5606, Muslim no. 2109.

[8] HR. Bukhori no. 5954, Muslim no. 2107.

[9] HR. Bukhori no. 5607, Muslim no. 2108..

[10] Lihat Fiqh Asma’ul Husna hal 120.

[11] Idem hal. 120-121. Misalnya si fulan adalah pencipta pesawat ini.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply