Makna Asmaul Husna, Al Hayyu dan Al Qoyyum

9 Nov

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Asmaul Husna, Al Hayyu dan Al Qoyyum

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Kembali kita melanjutkan artikel seputar penjelasan ringkas makna dari Asma’ul Husna Allah ‘Azza wa Jalla. Pada kesempatan kali ini kita telah sampai pada makna  Al Hayyu dan Al Qoyyum. Kedua nama ini beberapa kali disebutkan pada satu kesempatan di dalam Al Qur’an.

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[1],

makna-asmaul-husna-al-hayyu-dan-al-qoyyum-1

“Kedua nama ini disebutkan secara bersamaan pada 3 kesempatan di dalam Al Qur’an.

Pertama,

اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ

 “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup lagi terus menerus mengurus (makhluk Nya)”. (QS. Al Baqoroh [2] : 255)

Kedua,

الم (1) اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ (2)

 “Alif Laam Miim, Allah adalah sesembahan yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Maha Hidup Hidup lagi terus menerus mengurus (makhluk Nya)”. (QS. Ali ‘Imon [3] 1-2:)

Ketiga,

وَعَنَتِ الْوُجُوهُ لِلْحَيِّ الْقَيُّومِ

“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Tuhan Yang Maha Hidup lagi senantiasa mengurus (makhluk Nya).”. (QS. Thoohaa [20] : 111)

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

makna-asmaul-husna-al-hayyu-dan-al-qoyyum-2

“Asma’ /nama-nama  Allah Ta’ala merupakan nama sekaligus shifat-shifat. Ditinjau dari Dzat yang ditunjukkannya. Demikian pula merupakan shifat ditinjau dari makna yang ditunjukkan nama tersebut”.

Artinya Al Hayyu dan Al Qoyyum merupakan 2 nama dari Nama-nama dan Shifat-shifat Allah yang mulia.

Oleh sebab itulah  Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[2],

makna-asmaul-husna-al-hayyu-dan-al-qoyyum-3

“Nama Allah Tabaroka wa Ta’ala Al Hayyu padanya terdapat penetapan shifat hayat/hidup bagi Allah, yaitu shifat hidup yang sempurna. Shifat hidup ini bukanlah shifat hidup yang diawali dari ketiadaan dan tidak pula disertai kehilangan atau kefanaan serta tidak terkandung padanya sedikit pun kekurangan dan aib”.

makna-asmaul-husna-al-hayyu-dan-al-qoyyum-4

“Shifat hidup Allah ini berkonsekwensi adanya kesempurnaan shifat lainnya berupa ilmu Nya, pendengaran Nya, penglihatan Nya, kemampuan Nya, kehendak Nya, rahmat Nya, melakukan apa saja yang diinginkan Nya dan shifat sempurna lainnya. Maka Dzat yang demikian kondisinyalah yang berhak disembah, ruku’ dan sujud kepada Nya. Hal tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

 “Dan bertaqwalah kepada Dzat Yang Maha Hidup dan Tidak Mati”.

(QS. Al Furqon [25] : 58)

Sedangkan sesuatu kehidupan yang ada matinya, atau mayyit yang tidak hidup atau benda mati yang tidak punya shifat hidup sama sekali maka semua itu tidak memiliki hak sama sekali untuk disembah/diibadahi. Sebab yang berhak diibadahi adalah Allah Dzat Yang Maha Hidup dan Tidak Mati.

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadah kepada Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam”. (QS. Al Mukmin [40] : 65)

makna-asmaul-husna-al-hayyu-dan-al-qoyyum-5

“Nama Allah Tabaroka wa Ta’ala Al Qoyyum terdapat faidah penetapan qoyyumiyah bagi Allah. Yaitu keadaan Allah Subhana wa Ta’ala yang mampu mengurusi diri Nya sendiri dan makhluk Nya. Al Qoyyum menunjukkan 2 hal :

Pertama, kesempurnaan kekayaan Allah Subhana wa Ta’ala. Maka dia adalah Dzat Yang Tegak/Mampu mengurusi diri Nya dan Makhluknya serta tidak membutuhkan makhluk Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

 “Wahai sekalian manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah. Dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji”. (QS. Fathir [35] : 15)

Termaktub dalam sebuah hadits qudsi,

إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضَرِّى فَتَضُرُّونِى وَلَنْ تَبْلُغُوا نَفْعِى فَتَنْفَعُونِى

“Sesungguhnya kalian tidak akan dapat menimpakan sedikitpun mara bahaya kepada Ku namun kalian merasa mampu melakukann. Kalian pun tidak dapat memberikan manfaat sedikitpun kepada Ku namun kalian merasa mampu melakukannya”[3].

makna-asmaul-husna-al-hayyu-dan-al-qoyyum-6

Kedua, Kesempurnaan kekuasaan dan pengaturan Allah terhadap makhluk-makhluk Nya. Dialah yang mengurusi makhluk-makhluk tersebut dengan kekuasaan Nya. Seluruh makhluk sangat membutuhkan Allah, mereka tidak akan pernah merasa tidak butuh kepada Allah walaupun sekejap mata. Arsy, kursiy, seluruh lapisan langit dan bumi, gunung-gunung, pepohonan, hewan dan manusia seluruhnya sangat membutuhkan Allah ‘Azza wa Jalla.

makna-asmaul-husna-al-hayyu-dan-al-qoyyum-7

“Berdasarkan pemaparan yang telah lalu dapat diketahui bahwa kedua nama ini yaitu Al Hayyu dan Al Qoyyum terkumpul padanya seluruh makna Asma’ul Husna. Makna Asmaul Husna berkisar pada kedua nama ini. Demikian pula seluruh makna Asmaul Husna pun merujuk kepada kedua nama ini. Sebab seluruh shifat Allah Subhana wa Ta’ala merujuk pada kedua nama ini”.

makna-asmaul-husna-al-hayyu-dan-al-qoyyum-8

“Maka Al Hayyu merupakan jami’/penghimpun shifat-shifat yang berkaitan dengan Dzat Allah. Sedangkan Al Qoyyum merupakan jami’/penghimpun shifat-shifat yang berkaitan dengan Perbuatan Allah. Sehingga shifat dzatiyah semisal mendengar, melihat, memiliki tangan, ilmu dan lain sebagainya merujuk kepada nama Allah Al Hayyu. Sedangkan shifat yang berkaitan dengan perbuatan semisal menciptakan, memberi rezki, menghidupkan, mematikan dan lain sebagainya merujuk kepada nama Allah Al Qoyyum”.

Kedua nama ini sering sekali disebutkan secara bersamaan. Oleh sebab itulah sebagian ulama berpendapat bahwa Al Hayyu dan Al Qoyyum merupakan dua nama Allah yang paling agung.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengajarkan kepada kita memohon kepada Allah dengan menggunakan nama ini agar permohonan kita dikabulkan. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh shahabat Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu,

أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّى ثُمَّ دَعَا اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ.فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- ) لَقَدْ دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِى إِذَا دُعِىَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى (.

“Sesungguhnya beliau (Anas) bersama Rosululloh shallallahu ‘alaihi was sallam suatu ketika duduk. Pada saat itu ada seorang laki-laki yang sholat lalu berdo’a (dengan do’a), “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada Mu (Dzat yang) bagi Mu lah seluruh pujian (yang disertai pengagungan seagung-agungnya dan perendahan diri kami serendah-rendahnya), Tiada Sesembahan yang benar disembah kecuali Engkau, Dzat Yang Maha Memberi, Pencipta Langit-langit dan Bumi, Wahai Dzat Yang Maha Mulia, Wahai Dzat Yang Maha Hidup dan Tidak Butuh Pertolongan”. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Sungguh engkau telah berdo’a dengan menggunakan Nama-Nama Allah Yang Agung yang jika seseorang berdo’a dengan menggunakannya (pasti) Allah terima do’anya dan jika ia memohon maka Allah berikan apa yang ia minta”[4].

 

Allahu a’lam

[Diringkas dari Kitab Fiqh Asma’ul Husna oleh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq hal. 107-111 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh]

 

Selepas ‘Isya, 7 Shofar 1438 H, 6 Nopember 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Fiqh Asma’ul Husna oleh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq hal. 107  terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh

[2] Idem.

[3] HR. Muslim no. 2577.

[4] HR. Abu Dawud no. 1495, An Nasa’i no. 1308, Ahmad no. 12632. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani rohimahullah dalam takhrij beliau untuk Sunan Abu Dawud.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply