Makna Asmaul Husna, Al Ahad dan Al Wahid

2 Sep

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makna Asmaul Husna, Al Ahad dan Al Wahid

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Kembali kita melanjutkan artikel yang sudah sangat lama tidak berlanjut yaitu seputar penjelasan ringkas makna dari Asma’ul Husna Allah ‘Azza wa Jalla. Silakan klik di sini untuk melihat pembahasan sebelumnya. Pada kesempatan kali ini kita telah sampai pada makna Al Ahad dan Al Wahid.

Makna Al Ahad dan Al Wahid Secara Bahasa

Syaikh DR. Muhammad Hamud An Najdi Hafizhahullah mengatakan[1],

“(أَحَدٌ) maknany satu, yaitu permulaan angka. Engkau boleh berkata, satu dan dua, sebelas (satu pertama setelah sepuluh –pen).

Al Jujaz mengatakan (الوَاحِدُ) merupakan kata yang digunakan dalam Bahasa Arab untuk sesuatu yang tidak ada duanya atau yang lebih banyak dari dua.

Sebagian para ahli bahasa berpendapat perbedaan antara (الوَاحِدُ)   dan (الأَحَدُ) adalah :

(الوَاحِدُ)   memberikan makna tunggal secara dzatnya sedangkan (الأَحَدُ) memberikan makna tunggal secara dzat dan makna”.

“Abu Hatim mengatakatan dalam kitabnya Az Zinah, “(أَحَدٌ) merupakan isim yang lebih sempurna dibandingkan (الوَاحِدُ). Tidakkah anda melihat bila anda mengatakan, “Si fulan 1 orang tidak dapat menggantikannya’. Maknanya boleh jadi maksudnya boleh 2 atau lebih banyak. Ini berbeda dengan ungkapan, ‘Tidak ada seorang pun yang mampu menggantikannya’.

(الأَحَدُ) memiliki tambahan makna yang tidak ada pada kata (الوَاحِدُ).

Beliau juga mengatakan, “Terkadang (الأَحَدُ) digunakan dalam Bahasa Arab dengan makna pertama dan satu. Sehingga (الأَحَدُ) digunakan dalam konteks penetapan dan peniadaan. Seperti dalam Firman Allah Ta’ala,

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

“Katakanlah, “Dia lah Allah, Yang Maha Esa (dan Maha Awal dari segala sesuatu -pen)”.

(QS. Al Ikhlas [112] : 1).

Maknanya Dzat Yang Maha Esa/Tunggal dan Maha Pertama/Awal Segala Sesuatu.

(الأَحَدُ) terlarang, tidak boleh ada padanya yang semisal, berbilang, berbagi dan lain sebagainya, berbeda dengan (الوَاحِدُ)”.

 

Makna Al Ahad dan Al Wahid Terkait dengan Hak Allah

Syaikh DR. Muhammad Hamud An Najdi Hafizhahullah mengatakan,

“Al Khothobi Rohimahullah mengatakan, (الوَاحِدُ) adalah tunggal yang senantiasa satu, satu yang tidak akan bersamanya selainnya.

Ada juga yang berpendapat maknanya adalah sesuatu yang tidak punya qorin/pendamping, ditiadakan darinya serikat dan sesuatu yang serupa/semisal dengannya.

(Nama Allah ini -pen) bukan seperti bagian penyusun sesuatu. Sebab sesuau selain Allah boleh jadi jika dipandang dari satu sisi maka dia satu/tunggal. Namun jika dilihat dari sisi yang lain dia bukanlah sesuatu yang tunggal.

Sedangkan Allah Subhana wa Ta’ala merupakan Dzat Yang Maha Esa yang tidak ada sesuatu pun yang semisal dengannya”.

“Beliau mengatakan, “Perbedaan antara (الوَاحِدُ) dan (الأَحَدُ), sesungguhnya (الوَاحِدُ) adalah sesuatu yang tunggal secara dzatnya dan tidak disusun dari selainnya.

Sedangkan (الأَحَدُ) adalah tunggal yang bermakna tidak ada satu pun (sama sekali –pen) yang bersekutu dengannya dengannya. Oleh sebab itulah disebutkan kepada sesuatu yang merupakan puncak dari ilmu ‘tunggal dari yang satu’”[2].

Ringkasnya : Makna (الأَحَدُ) tekandung padanya makna Kemahaesaan Allah yang lebih khusus dibandingkan makna Kemahaesaan yang ada pada (الوَاحِدُ). Allahu a’lam

 

Penyebutan kedua nama ini di Al Qur’an dan Sunnah

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[3],

“Nama Allah Tabaroka wa Ta’ala (الأَحَدُ) terpadat penyebutannya pada satu tempat di dalam Al Qur’an yaitu pada surat Al Ikhlash :

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah, “Dia lah Allah, Yang Maha Esa (dan Maha Awal dari segala sesuatu -pen). Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan. dan tidak ada seorangpun yang setara/semisal dengan Dia”.

(QS. Al Ikhlas [112] : 1-4).

Surat ini merupakan surat yang sangat agung. Disebutkan dalam hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bahwa surat ini merupakan sepertiganya Al Qur’an. Sebab surat ini merupakan ringkasan/inti sari dari penjelasan nama-nama Allah dan shifat-shifatnya yang maha tinggi.

Sedangkan nama Allah (الوَاحِدُ) maka terdapat penyebutannya di beberapa tempat dalam Al Qur’an . Diantaranya :

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

“Dan Sesembahanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada Sesembahan yang benar melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Baqoroh [2] : 163).

Dalam ayat yang lain,

أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS. Yusuf [12] : 39).

Dalam ayat yang lain,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا مُنْذِرٌ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Katakanlah (ya Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan, dan sekali-kali tidak ada Sesembahan yang benar selain Allah Yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan”. (QS. Shood [38] : 65).

Dalam ayat yang lain,

قُلِ اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Katakanlah, “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS. Ar Ro’du [13] : 16).

Nama Allah Ta’ala ini juga disebutkan dalam Surat An Nisa ayat 171, Ibrohim ayat 48 dan 52, Ash Shoffat ayat 4-5, Az Zumar ayat 4 dan Ghofir ayat 16 dan masih banyak lagi.

Adapaun penyebutan nama Allah Subhana wa Ta’ala ini di dalam Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam diantaranya :

Hadits Qudsi yang diriwayatkan dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu,

قَالَ اللَّهُ كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ لَنْ يُعِيدَنِي كَمَا بَدَأَنِي وَلَيْسَ أَوَّلُ الْخَلْقِ بِأَهْوَنَ عَلَيَّ مِنْ إِعَادَتِهِ وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا وَأَنَا الْأَحَدُ الصَّمَدُ لَمْ أَلِدْ وَلَمْ أُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لِي كُفْئًا أَحَدٌ

Allah Ta’ala berfirman “Anak keturunan Adam telah mendustakan Ku, padahal dia tidak pantas/ punya alasan untuk itu. Anak keturunan Adam pun telah mencela Ku, padahal dia tidak pantas/ punya alasan untuk itu. Adapun dustanya kepada Ku dengan ucapannya, “Dia (Allah) tidak akan mengembalikanku padahal bukankah penciptaan pertama tidak lebih mudah dibandingkan sekedar mengembalikannya. Adapun celaannya kepada Ku dengan ucapannya, “Allah punya anak padahal Aku adalah (الْأَحَدُ) Dzat Yang Maha Esa dan (الصَّمَدُ) Dzat Yang Segala Sesuatu Bergantung Kepada Nya. Aku tidak beranak dan tidak pula diperanakkan serta tidak ada yang semisal dengan Aku”[4].

Hadits lainnya diriwayatkan dari shahabat Buraidah Rodhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

سَمِعَ اَلنَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – رَجُلاً يَقُولُ: اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اَللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, اَلْأَحَدُ اَلصَّمَدُ, اَلَّذِي لَمْ يَلِدْ, وَلَمْ يُولَدْ, وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. فَقَالَ” لَقَدْ سَأَلْتَ اَللَّهَ بِالإسْمِ اَلَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ أَعْطَى, وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ

“Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mendengar ada seorang lelaki yang mengatakan, “

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اَللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, اَلْأَحَدُ اَلصَّمَدُ, اَلَّذِي لَمْ يَلِدْ, وَلَمْ يُولَدْ, وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

‘Yaa Allah sesungguhnya aku meminta/bertawassul kepada Mu dengan bersyahadat bahwasanya Engkau adalah Allah yang tidak ada sesembahan yang benar disembah kecuali Engkau. Dzat Yang Maha Esa, Dzat Yang Segala Sesuatu Bergantung Kepada Nya, Yang Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan, Yang Tidak Ada Satupun Yang Semisal/Sebanding Dengan Nya’

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada lelaki itu, “Sungguh Engkau telah meminta kepada Allah yang jika diminta pasti memberi, yang jika berdo’a kepada Nya pasti akan dikabulkan”[5].

 

Penjelasan ringkas tentang kedua nama ini

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[6],

“Kedua nama ini menunjukkan Kemahaesaan Allah. Sesungguhnya Allah Subhana wa Ta’ala merupakan Dzat Yang Maha Esa dalam shifat-shifat muliaNya, Dia Maha Esa dalam keagungan, kesombongan dan keindahan Nya. Maka Dia adalah Allah Yang Maha Esa dzat Nya, tidak ada menyerupai Nya. Dia Maha Esa pada shifat-shifat Nya, tidak ada yang semisal dengan Nya. Dia Maha Esa dalam perbuatan-perbuatannya tidak ada sekutu dan pembantu bagi Nya. Dia Maha Esa dalam hal uluhiyahnya sehingga tidak ada sekutu bagi Nya dalam hal kecintaan, pengagungan, merendah diri dan tunduk. Dia adalah Dzat Yang Maha Esa shifatNya sehingga Dia Maha Esa dalam seluruh shifat-shifat sempurna. Seluruh makhluk tidak ada yang mampu meliputi (mengetahui hakikat shifat Nya -pen). Lebih lebih lagi ada yang mampu menyerupai sekecil apapun dari salah satu dari shifat-shifat Nya”.

 

Faidah yang dapat dipetik dari memahami kedua nama ini

Pertama : Wajibnya mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dan mengikhlaskan ibadah kepadanya

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[7],

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang penetapan Kemahaesaan Nya dan wajibnya mengikhlaskan ibadah kepada Nya,

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ

“Dan sesembahanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.

(QS. Al Baqoroh [2] : 163).

 Syaikh DR. Muhammad Hamud An Najdi Hafizhahullah mengatakan[8],

“Allah menjelaskan bahwa Dia tidaklah memerintahkan kecuali untuk hanya menyembah Nya semata dan menunggalkan/mengesakan Nya dalam peribatan. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ

“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia”.(QS. At Taubah [9] : 31).

Beliau juga mengatakan[9],

“Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Dzat Yang Esa, yang tidak boleh dipalingkan ibadah kepada selain Nya. Sebab Dialah Dzat Yang Benar Disembah sedangkan yang selainnya merupakan sesembahan yang bathil. Maka hamba-hamba Nya tidak boleh menyembah, beribadah dengan bentuk peribadan apapun kepada selain Pencipta mereka, baik sholat, menyembelih, nadzar, tawakkal, roja’, khouf, khusyu’ maupun khudu’. Namun hendaklah mereka menjadi hamba sebagaimana apa yang Nabi kita Shollallahu ‘alaihi wa Sallam diperintahkan untuk mengikrarkannya,

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (162) لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.

(QS. Al An’am [6] : 162-163).

Kedua : Batilnya aqidahnya orang-orang kafir dan musyrikin.

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[10],

“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman ketika membantah aqidah/ keyakinan kaum musyrikin,

وَقَالَ اللَّهُ لَا تَتَّخِذُوا إِلَهَيْنِ اثْنَيْنِ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَإِيَّايَ فَارْهَبُونِ

“Allah berfirman, “Janganlah kamu menyembah dua sesembahan. Sesungguhnya Dialah Sesembahan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada Ku saja kamu takut”.

(QS. An Nahl [16] : 51).

Demikian juga,

أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Manakah yang baik, sesembahan-sesembahan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (QS. Yusuf [12] : 39).

Ketiga : Allah itu Maha Esa Dzat, Shifat-shifat dan Perbuatan-perbuatan Nya, tidak serupa dengan makhluk Nya

Syaikh DR. Muhammad Hamud An Najdi Hafizhahullah mengatakan[11],

“Allah Jalla Tsanauhu adalah Sesembahan Yang Esa, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia semata, tidak ada sekutu bagi Nya dalam hal Dzat, Shifat-shifat dan Perbuatan-perbuatan Nya. Sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada yang semisal dengan Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

(QS. Asy Syuro [42] : 11).

Dia juga berfirman,

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama/semisal dengan Dia (yang patut disembah) ?” (QS. Maryam [19] : 65).

Demikian juga,

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tidak ada seorangpun yang setara/semisal dengan Dia”. (QS. Al Ikhlas [112] : 4).

“Maka tidak boleh menyerupakan Robb kita Allah Ta’ala dengan sesuatu apapun dari makhluk-makhluk Nya. Sebab Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang diri Nya kepada kita dan Dia adalah yang paling tahu tentang diri Nya. Sesungguhnya dia tidak seperti makhluk Nya sedikit pun. Oleh karena itu setiap yang muncul, terlintas di pikiran anda (Allah seperti makhluk Nya -pen) maka Allah Ta’ala tidaklah demikian. Dia adalah Dzat Yang Maha Esa, tidak ada yang sekutu dan yang semisal dengannya. Demikian pula tidak sesuatu yang sama dan menyerupai Nya”.

 

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan terkait faidah dari kedua Nama Allah ini[12],

“Peniadaan permisalan, tandingan, sekutu dari segala aspeknya dari Allah Ta’ala. Sebab Allah Tabaroka wa Ta’ala adalah Dzat Yang Maha Esa, yang tidak ada yang semisal dengan Nya. Dia berfirman,

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama/semisal dengan Dia (yang patut disembah) ?” (QS. Maryam [19] : 65

Demikian juga,

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Dan tidak ada seorangpun yang setara/semisal dengan Dia”. (QS. Al Ikhlas [112] : 4).

Juga,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada yang semisal dengan Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

(QS. Asy Syuro [42] : 11).

Keempat : Penepatan bahwa seluruh shifat-shifat kesempurnaan hanya milik Allah Tabaroka wa Ta’ala.

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan terkait faidah dari kedua Nama Allah ini[13],

“Adanya penetapan seluruh shifat yang sempurna yang menunjukkan kemuliaan, keesaan, yang tidak ada kekurangan padanya sedikutpun dari segala aspeknya tanpa terkecuali hanya milik Allah.

Bahwa sesungguhnya bagi Nya lah seluruh puncak kemuliaan shifat-shifat itu sebagaimana firman Nya,

وَأَنَّ إِلَى رَبِّكَ الْمُنْتَهَى

“Dan bahwasanya kepada Tuhanmu lah puncak (segala sesuatu)”. (QS. An Najm [53] : 42).

Maka milikNya lah pendengaran yang tersempurna, milikNya lah penglihatan yang tersempurna. Demikian pula seluruh shifat yang paling sempurna hanyalah milik Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى

“Dan milik Allah lah shifat yang paling tinggi (sempurna -pen)”. (QS. An Nahl [16] : 60).

Allahu Ta’ala A’lam

 

 

Menjelang maghrib,

Selasa 21 Rojab 1438 H, 7 April 2018 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat An Nahjul Asma hal. 367-368 (secara ringkas) terbitan Maktabah Adz Dzhabiy, Kuwait, UEA.

[2] Idem hal. 370 (secara ringkas)

[3] Lihat Fiqh Asma’ul Husna oleh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq hal. 131 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh

[4] HR. Bukhori no. 4974. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhori dari sahahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma dengan no. 4482.

[5] HR. Abu Dawud no. 1493, Tirmidzi no. 1493, Ibnu Majah no. 3857 dan Ibnu Hibban no. 1493. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani.

[6] Lihat Fiqh Asma’ul Husna oleh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq hal. 132 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh

[7] Idem hal. 133.

[8] Lihat An Nahjul Asma hal. 371(secara ringkas)

[9] Idem hal. 373.

[10] Hal. 133-134 secara ringkas.

[11] Lihat An Nahjul Asma hal. 371.

[12] Lihat Fiqh Asma’ul Husna hal. 134.

[13] Idem hal. 135.

Tulisan Terkait

Leave a Reply