Letak Neraka

14 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Letak Neraka

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Ibnu Rojab Al Hambaliy Rohimahullah menyebutkan dalam Kitabnya At Takhwiif Min An Naar sebuah permasalahan yang layak dan menarik kita renungkan.

1

BAB KELIMA

Letak (Neraka) Jahannam[1]

2

روى عطية عن ابن عباس قال : الجنة في السماء السابعة و يجعلها الله حيث يشاء يوم القيامة و جهنم في الأرض السابعة أخرجه أبو نعيم

‘Athiyah Rohimahullah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma. Dia mengatakan, “Surga berada di langit ketujuh. Allah menjadikannya dimana yang dia mau ketika hari qiyamat. Sedangkan neraka jahannam berada di lapisan bumi yang ketujuh”. HR. Abu Nu’aim.

و خرج ابن مندة من حديث أبي يحيى القتات عن مجاهد قال : قلت لابن عباس : أين الجنة ؟ قال : فوق سبع سموات قلت : فأين النار ؟ قال : تحت سبع أبحر مطبقة

Ibnu Mandah Rohimahullah meriwayatkan hadits dari Abu Yahya Al Qottaat dari Mujahid. Mujahid mengatakan, ‘Aku bertanya kepada Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma, ‘Dimanakah letak surga ?’ Beliau Rodhiyallahu ‘anhuma menjawab, ‘Di atas tujuh langit’. Lalu aku bertanya lagi, ‘Dimanakah letak Neraka ?’ Beliau Rodhiyallahu ‘anhuma menjawab, ‘Di bawah tujuh lapis laut yang bertingkat-tingkat (bawah –ed.)’.

Al Baihaqi Rohimahullah meriwayatkan dengna sanad yang lemah dari Abu Az Za’ro’ dari Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu. Beliau Rodhiyallahu ‘anhu mengatakan, ‘Surga berada di langit ketujuh yang tertinggi sedangkan neraka berada di bumi lapisan ketujuh yang paling rendah’. Kemudian beliau Rodhiyallahu ‘anhu membaca Firman Allah Subhana wa Ta’ala,

إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ

“Sesungguhnya kitab orang-orang yang berbakti itu (tersimpan) dalam ‘Illiyyin[2]”. (QS. Al Muthoffifin [83] : 18)

Dan Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

“Sesungguhnya kitab orang-orang yangtersimpan dalam Sijjin[3]”. (QS. Al Muthoffifin [83] : 7)

Ibnu Mandah Rohimahullah juga meriwayatkan hadits ini dan dalam riwayatnya disebutkan,

فإذا كان يوم القيامة جعلها الله حيث شاء

“Jika saat Qiyamat sudah tiba maka Allah akan meletakkannya dimanapun yang Dia kehendaki”[4].

34

Muhammad bin ‘Abdullah bin Abu Ya’qub mengatakan dari Bisyr bin Syaghoof, dari ‘Abdullah bin Salaam. Dia mengatakan,

إن الجنة في السماء و إن النار في الأرض

‘Sesungguhnya surga di langit dan sesungguhnya neraka di bumi’. Hadits ini diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Abu Dunya[5].

Ibnu Abu Dunya meriwayatkan dengan sanadnya dari Qotadah. Beliau berkata,

كانوا يقولون : إن الجنة في السموات السبع و إن جهنم لفي الأرضين السبع

‘Dahulu mereka (Para Sahabat) berpendapat sesungguhnya surga berada di langit yang tujuh dan sesungguhnya jahannam itu sungguh berada di lapisan bumi yang tujuh’[6].

5

Warqo’ meriwayatkan dari Ibnu Abu Najih dari Mujahid, Firman Allah Subhana wa Ta’ala,

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ

“Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimudan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu”. (QS. Adz Dzariyat [51] : 22)

Beliau (Qotadah) Rohimahullah mengatakan, ‘Surga di langit’.

Sebagian dari mereka berdalil dengan firman Allah ini, bahwa sesungguhnya Allah Subhana wa Ta’ala telah mengabarkan bahwa orang-orang kafir diperlihatkan kepada mereka neraka pada waktu pagi hari dan sore hari –yaitu selama di alam barzakh-. Dan Dia (Allah) telah mengabarkan bahwa pintu-pintu langit tidak akan dibukakan kepada mereka. Maka hal ini menunjukkan bahwa neraka berada di bumi. Dan Firman Allah Subhana wa Ta’ala,

إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ

“Sesungguhnya kitab orang-orang yangtersimpan dalam Sijjin[7]”. (QS. Al Muthoffifin [83] : 7)

6

Di dalam hadits Al Barroo’ bin ‘Aazib dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ketika menyebutkan bagaimana dicabutnya ruh. (Para malaikat) berkata tentang rohnya orang kafir,

حتى ينتهوا بها السماء فيستفتحون فلا يفتح له

‘Hingga mereka dibawa sampai ke langit dunia kemudian mereka meminta dibukakan namun tidak dibukakan untuk mereka’.

Kemudian Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam membaca,

لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

“Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langitdan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum”. (QS. Al A’rof [7] : 40)

Kemudian beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

قال تعالى : اكتبوا كتابه في سجين في الأرض السفلى قال : فتطرح روحه طرحا

“Lalu Allah berfirman, “Catatlah kitabnya di sijjin yakni di bumi lapisan terbawah”. Kemudian ruhnya dilemparkan”[8].

78Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengenai bagaimana dicabutnya ruh. (Para malaikat) berkata tentang ruhnya orang-orang kafir,

فتخرج كأنتن ريح جيفة فينطلقون به إلى باب الأرض فيقولون : ما أنتن هذه الريح ! كلما أتوا على أرض قالوا ذلك حتى يأتوا به إلى أرواح الكفار

‘Lalu ruh tersebut keluar seperti bau bangkai yang sangat busuk. Lalu mereka membawanya ke pintu bumi. Mereka mengatakan, ‘Alangkah busuknya bau ini’. Ketika sampai di bumi mereka mengatakan hal yang sama. Sehingga mereka membawanya menuju ruh orang-orang yang kafir’[9].

[Dikutip dari Kitab At Takhwiif min An Naar oleh Ibnu Rojab dengan tahqiq Syaikh Bisyr Muhammad ‘Uyuun hal. 62-64 terbitan Maktabah Al Mu’ayyad, Thoif, KSA]

Mudah-mudahan bermanfaat.

Sigambal, selasa 29 Jumaadil Tsaniy 1435 H/ 29 April 2014 M

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-

 

[1]Di dalam catatakan kaki untuk kitab ini, Pentahqiq (Syaikh Basyir Muhammad ‘Uyun Rohimahullah) menyebutkan, ‘’Para ahli Bahasa ‘Arab berselisih pendapat mengenai apakah Jahannam itu nama ‘arab atau ‘ajam (non arab). Ada yang berpendapat Jahannam berasal dari Bahasa Arab dari kata Juhumah yang berarti sesuatu yang tidak sedap dipandang. Disebutkan dalam ungkapan meraka Bi’ru Jahannam yaitu sumur yang sangat dalam. Atas dasar inilah kata ini tidak diberi tanwin karena sebagai ‘alam/nama dan ta’nits. Sebagian ahli berpendapat bahwa Jahannam bukan berasal dari Bahasa ‘Arab dimasukkan ke dalam Bahasa Arab, dan sehingga tidak bisa ditanwin karena sebagai ‘alam/nama dan ‘ujmah (non Arab).

[2]Penulis Kitab Tafsir Jalalain Rohimahumallah mengatakan, “Disebutkan dalam salah satu pendapat bahwa ‘Illiyin adalah tempat yang ada di langit ke tujuh di bawah Arsy”. [hal. 599 terbitan Darus Salam] ed.

[3]Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan, ‘Sijjin adalah tempat di lapisan bumi terbawah dimana ditempatkan nereka –na’udzubillah minhaa-’. (Tafisr Juz ‘Amma hal. 98 terbitan Dar Tsuroya.) ed.

[4]HR. Al Baihaqi dalam Al Ba’ts wan Nusyur (455) dan Abu Nu’aim dalam Hilyahtul Auliya’ (VII/103). Sanad riwayat ini dhoif, sebagaimana dikatakan penulis.

[5]HR. Ibnu Abu Dunya dalam Shifah an Naar (178-179) dan HR. Al Baihaqi dalam Al Ba’ts wan Nusyur (449).

[6]HR. Ibnu Abu Dunya dalam Shifah An Naar (184).

[7]Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan, ‘Sijjin adalah tempat di lapisan bumi terbawah dimana ditempatkan nereka –na’udzubillah minhaa-’. (Tafisr Juz ‘Amma hal. 98 terbitan Dar Tsuroya.) ed.

[8]HR. Ahmad 287, 295, 296/IV, Abu Dawud no. 4753, An Nasa’i 101/IV dan Al Hakim 37-40/I. Hadits ini dishohihkan Ibnu Hibban. Hadits ini adalah hadits yang shohih.

[9]HR. Ibnu Hibban dalam Al Mawarid no. 733, Al Hakim 352-352/I. Ibnu Hibban dan Al Hakim menshohihkannya dan disetujui oleh Al Hakim Rohimahumullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tulisan Terkait

2 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. Asep
    Aug 26, 2015 @ 15:12:09

    Assalamualaikum…………
    sambung komentar benar dari Alloh kalu salah itu adalah pendapat pribadi.
    Dalam Al-Baqoroh 30 sewaktu akan diciptakan manusia, Allah berdialog dengan malaikat yang inti dialognya Allah akan menciptakan manusia untuk menjadi kholifah di bumi. Dari ayat ini dapt ditafsirkan bahwa Adam dan Hawa menghuhni bumi ini adalah manusia pertama sekaligus sebagi tujuan diciptakannya Adam dan Hawa adalah untuk menghuni bumi. Jadi Adam dan Hawa berada di Buni ini bukan karena kutukan atau akibat dosanya telah melanggar larangan memakan bua Huldi.!! sebagaimana banyak yg meyakini hal ini….
    Dalam Al-Baqoroh 35 ditegaskan pertama kali Adam dan Hawa ditempatkan di Surga. Kemudian Al-Baqoroh 36 menegaskan bahwa Adam dan Hawa dikeluarkan dari Surga yang penuh kenikmatan itu disertai ucapan murka Allah “Turunlah kalian….” yang kemudian mereka terpisahkan bertahun-tahun lamanya hingga kemudian Allah mempertemukannya lagi untuk beranak pinak…
    Dari ketiga Ayat tersebut dapat dimaknai bahwa Adam dan Hawa diciptakan pertamakali sebagai manusia penghuni bumi dan pertama kali bumi yang dia tempati adalah tempat yang indah penuh kenikmatan dan makanan dari buah-buahan yaiu disebut sorga. Ketika Adam dan Hawa melanggar larangan Allah karena tipu daya Iblis timbulah bencana besar seketika itu pakaian indah disurga itu terlepas terhempas karena dahasyatnya bencana dan mereka terbawa oleh bencana itu hingga keduanya terseret keluar dari tempat yang indah itu ketempat yg amat jauh dan keduanya terpisahkan, Inilah murka Allah pertama kepada manusia akibat melanggar larangan-Nya.
    Hanya Allah yang maha tau…………..

    Reply

Leave a Reply