(Lagi) Diantara Hikmah Mengimani Allah Berada di Atas Langit

30 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

(Lagi) Diantara Hikmah Mengimani Allah Berada di Atas Langit

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Melanjutkan tulisan tentang hikmah mengimani Allah Subhana wa Ta’ala berada di atas langit. Untuk melihat tulisan tentang ini yang sebelumnya kami persilakan klik di sini.

 

Pertama :

Al Imam Adz Dzahabi (wafat tahun 738 H) Rohimahullah mencantumkan hadits berikut dalam kitab khususnya yang membahas tentang Kemahatinggian Allah ‘Azza wa Jalla,

‘Dari ‘Abdullah bin ‘Amr Rodhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, ‘Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “(Sesungguhnya –sebagaimana terdapat dalam riwayat lain) Tali silaturohim itu bergantung di ‘Arsy. Bukanlah orang yang menyambung tali silaturohim itu hanya mukafi (orang yang menyambung tali silaturohim dengan orang yang memulai menyambungnya/ membalas apa yang sudah disambung orang lain -pen). Akan tetapi yang namanya orang yang menyambung tali silaturohim adalah orang yang menyambung kembali apa yang sudah diputus oleh saudaranya”. Sanadnya kuat.

Syaikh Al Albani Rohimahullah mengatakan, “Sanadnya shohih sesuai syarat Imam Bukhori”.

 

Faidahnya :

Seseorang yang betul-betul mengimani Allah Subhana wa Ta’ala berada di atas ‘Arsy Nya tentu akan sangat memuliakan dan memperhatikan hubungan kekerabatan karena adanya hubungan tali rahim. Sebab dia mengimani sebagaimana yang Kekasihnya kabarkan bahwa tali silaturohim itu terikat, bergantung dengan Makhluk Allah ‘Azza wa Jalla yang demikian besar, yaitu ‘Arsy. Jika demikian tentulah Allah Tabaroka wa Ta’ala juga sangat memperhatikan siapa saja dari para hambanya yang mau menyambung, menjaga dan memperbaiki hubungan tali silaturohim. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

أَنَا الرَّحْمَنُ وَأَنَا خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنْ اسْمِيْ فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

 “Sesungguhnya Aku adalah Ar Rohman (Dzat Yang Maha Pengasih) dan Aku benar-benar telah menciptakan tali rahim dan namanya pun Aku jadikan namanya turunan kata dari nama Ku. Barangsiapa yang menyambungnya maka aku akan menyambungnya. Dan barangsiapa yang memutusnya maka Aku akan memutusnya”[1].

Penulis Rosyul Barod[2] Hafizhahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan (وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ) ‘Barangsiapa yang menyambungnya maka aku akan menyambungnya’ yaitu menyambungnya menuju rahmat Ku dan kemuliaan Ku. Sedangkan maksud (بَتَتُّهُ) ‘Aku akan memutusnya dari rahmat Ku yang shifatnya khusus”.

 

Kedua :

Al Imam Adz Dzahabi (wafat tahun 738 H) Rohimahullah mencantumkan,

‘Dari Salman Al Farisi Rodhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, ‘Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Robb kalian Maha Hidup dan Maha Mulia/ Pemurah. Dia malu kepada para hamba Nya jika hamba Nya menengadahkan tangannya kepada Nya dan Dia mengembalikannya dengan tangan kosong”.

 

Syaikh Al Albani Rohimahullah mengatakan hadits ini shohih sebagaimana juga diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1337 (1488).

 

Faidahnya :

Seseorang hamba, sesuai dengan fitrohnya meyakini Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas langit. Oleh sebab itulah dia menengadahkan tangannya ke atas memohon kepada Robb nya yang berada di atas ‘Arsy. Dengan keimanannya ini dia pun mantap mengimani bahwasanya Allah Tabaroka wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan apa yang dia perbuat dalam do’anya. Sebab dia mengimani Robbnya yang Maha Tinggi juga adalah Robb Yang Maha Hidup dan Maha Mulia/Dermawan, yang tidak akan membiarkan hamba Nya meminta dan tidak diberikan apa-apa atau kembali dengan tangan hampa. Bila apa yang dia minta belum dikabulkan dia pun mengingat sabda Kekasihnya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو اللهَ بِدُعَاءٍ إِلَّا استُجِيْبَ لَهُ ، فَإِمَّا أَنْ يُعَجَّلَ لَهُ فِيْ الدُّنْيَا ، وَإِمَّا أَنْ يُدَّخَرَ لَهُ فِيْ الآخِرَةِ ، وَإمَّا أَنْ يُكَفَّرَ عَنْهُ مِنْ ذُنُوبِهِ ، بِقَدْرِ مَا دَعَا ، مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ ، أَوْ قَطِيْعَةِ رَحِّمٍ ، أَوْ يَسْتَعْجِلْ ، قَالُوا : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، وَكَيْفَ يَسْتَعْجِلُ ؟ قَالَ : يَقُوْلُ : دَعَوْتُ رَبِّيْ فَمَا اسْتَجَابَ لِيْ

 “Tidaklah seorang laki-laki yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa melainkan Allah akan kabulkan untuknya. Boleh jadi disegerakan apa yang dia minta di dunia, boleh jadi Allah tunda (menjadi tabungannya) di akhirat, boleh jadi juga Allah akan hapuskan dosa-dosa darinya sesuai kadar yang dia minta di dalam do’anya, selama yang dia minta bukan perbuatan dosa, memutus tali silaturohim atau tergesa-gesa dalam berdoa”. Para shahabat bertanya, “Wahai Rosulullah bagaimana tergesa-gesa itu ?” Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Dia mengatakan, ‘Aku telah berdo’a kepada Tuhan namun dia tidak mengabulkannya untukku”[3].

 

Allahu a’lam.

 

[Terinspirasi dari Kitab Mukhtashor Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil ‘Azhim hal. 22 dan 24 terbitan Al Maktab Al Islami, Beirut, Lebanon] silakan rujuk dan baca lanjutan kitab tersebut Insya Allah anda akan menyelami luasnya samudra ilmu tentang Kemahatinggian Allah.

 

Wahai orang yang masih sombong menerima kebenaran nyata, tidakkah engkau bertaubat dari kesombonganmu ??!!!!

 

 

Sigambal Menjelang Tidur, 28 Jumadil Akhir 1439 H / 15 Maret 2018 M.

 

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] HR. Ahmad 194/III, Tirmidzi no. 1907, Bukhori dalam Adabul Mufrod. Hadits dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah shohih lighoirihi.

[2] Hal. 47.

[3] HR. Tirmidzi no. 3604. Dinilai sohih oleh Al Albani Rohimahullah.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply