Kesempurnaan Islam

27 Oct

Share

Segala puji hanya milik Allah subhanahu wa Ta’ala. Semoga sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita, Nabi akhir zaman Muhammad  Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Para pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, merupakan hal yang sudah terpatri dalam akal manusia bahwa sesuatu yang sempurna adalah suatu yang sangat layak untuk dijadikan pilihan. Maka, demikian jugalah dalam beragama. Sudah menjadi suatu pilihan yang tepat memilih Islam sebagai agama karena ia berasal dari  Dzat Yang Maha Mulia, Maha Mengetahui dan Maha Hikmah, yang Dia telah menyempurnakan Islam sebagai agama bagi kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam kitabNya yang mulia :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kusempurnakan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu.”

(QS : Al Maidah [5] : 3).

Ayat di atas turun kepada Nabi  Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ketika hari Jumat sore bertepatan dengan hari Arofah, sebagaimana riwayat dari ‘Umar bin Khattab Rodhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim melalui jalan Thoriq bin Syihaab dalam kitab Shahih keduanya:

جَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْيَهُودِ إِلَى عُمَرَ فَقَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا نَزَلَتْ مَعْشَرَ الْيَهُودِ لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا قَالَ وَأَيُّ آيَةٍ قَالَ

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي لَأَعْلَمُ الْيَوْمَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ وَالْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ

Seorang laki-laki dari kalangan yahudi datang kepada ‘Umar. Kemudian, dia berkaata, “Wahai Amirul Mu’minin, ada sebuah ayat dalam kitab kalian dan kalian membacanya, sekiranya ayat itu turun kepada kami orang-orang yahudi sungguh akan kami jadikan hari dimana ayat itu turun sebagai hari ‘ied”. Umar bertanya kepadanya, “Ayat manakah yang engkau maksudkan?” Orang yahudi tersebut mengatakan,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku sempurnakan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu.[1]

Maka, ‘Umar mengatakan, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui hari dan tempat ketika ayat itu turun kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu ketika hari jumat bertepatan dengan hari Arofah”.[2]

Makna Ayat :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ : kesempurnaan dien (agama) yang dimaksudkan dalam ayat ini mencakup perkara aqidah, syari’at[3]nya, sumbernya yang berupa Al-Kitab dan As-Sunnah, dan apa yang ditunjukkan oleh Al Kitab dan As Sunnah[4]. Dengan kata lain, seluruh bagian dari ajaran Islam telah Allah  ‘Azza wa Jalla sempurnakan. Hal ini merupakan kelebihan yang hanya ada pada Islam. Umat-umat agama terdahulu pun memiliki kewajiban untuk mengikuti agama Islam yang dibawa Nabi kita, Muhammad  shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekiranya mereka menemui beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan telah diangkat menjadi Nabi, mereka tidaklah dikatakan Islam alias kekal dalam neraka kecuali dengan mengakui kerasulan Nabi Muhammad. Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam,

« وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ»

“Demi  Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, tidaklah salah seorang dari umat ini yang mendengar ajaranku, baik ia yahudi maupun nashrani[5], kemudian ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus untuknya melainkan ia termasuk ke dalam penghuni neraka”.[6]

Kemudian, firman Allah  ‘Azza wa Jalla dalam ayat berikutnya:

وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي : Nikmat ini adalah nikmat yang terbesar dan yang paling patut untuk kita syukuri bahkan ia adalah nikmat terbesar yang Allah  ‘azza wa jalla berikan dan sempurnakan bagi umat Islam ini. Nikmat  mencakup nikmat diniyah berupa jelasnya jalan bagi orang yang ingin mencari kebenaran dan nikmat duniawiyah berupa janji kehidupan yang baik (hayyatan thoyyiban) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada orang yang berpegang teguh dengan Islam, sebagaimana firman Allah  ‘azza wa jalla :

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَة

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[7]”.

(QS : An Nahl [16] : 97).

Kehidupan yang baik di dunia mencakup ketenangan di dunia, rasa aman, lapangnya rizki, ridho dan lain-lain yang tidak akan terwujud kehidupan yang baik kecuali dengannya[8].

Kemudian firman Allah  ‘Azza wa Jalla dalam lanjutan ayat,

وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا : Allah Subhanahu wa Ta’ala ridho kepada orang yang menjadikan Islam sebagai agamanya dan yang istiqomah di dalamnya. Ridho Allah kepada mereka, yaitu orang-orang Islam, berupa taufik dan kebersamaan yang khusus dari Allah ‘Azza wa Jalla. Kata-kata وَرَضِيتُ لَكُمُ “Allah ridho kepada mereka dalam ayat ini menunjukkan bahwa yang Islam yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Islam yang khusus yaitu Islam yang dibawa Nabi kita Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Demikian juga, Islam yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah Islam yang tercakup di dalamnya islam, iman dan ihsan[9].

Kandungan Ayat :

Ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa sempurnanya syari’at Islam telah mencukupi apa yang dibutuhkan oleh seorang hamba untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Ini sebagaimana yang dapat kita ketahui dari firman Allah yang mulia:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami ciptakan seluruh jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu”.

(QS : Adz Dzariyat  [51] : 56).[10]

Karena kesempurnaan Islam tersebut, Islam tidak membutuhkan tambahan dan pengurangan. Ibnu Katsir Asy Syafi’i Rohimahullah berkata dalam kitab tafsirnya, “Ayat ini merupakan kenikmatan terbesar yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan kepada umat ini. Allah telah sempurnakan bagi mereka agamanya sehingga mereka tidak membutuhkan agama dan nabi  yang lain. Oleh karena itu, Allah menjadikan Rasul kita -shollallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai penutup para Nabi yang diutus kepada seluruh manusia dan jin. Maka, tidaklah ada suatu yang halal kecuali apa yang beliau halalkan, tidaklah ada suatu yang haram kecuali yang telah beliau haramkan, dan tidaklah ada agama kecuali yang beliau syari’atkan”[11].

Ayat yang mulia ini merupakan dalil yang sangat tegas yang menunjukkan haramnya bid’ah bahkan bisa jadi ia kafir jika meyakini belum sempurnanya ajaran Islam dengan mendustakan ayat ini. Maka, ayat ini merupakan penutup segala jalan bagi bid’ah dan merupakan hujjah (argumentasi-ed) yang nyata bagi para pelaku bid’ah karena tidaklah ada suatu hal yang merupakan kebaikan dalam agama yang belum diajarkan oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, padahal Allah ‘Azza wa Jalla telah sempurnakan Islam baginya dan umatnya, ditambah lagi lisan beliau yang mulia sendirilah yang mengatakan,

« إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ »

“Sesungguhnya tidak ada Nabi sebelumku kecuali wajib bagi mereka menunjukkan kebaikan yang ia ketahui pada umatnya dan memperingatkan keburukan yang ia yang ia ketahui kepada mereka”[12].

Jika demikian keadaan para nabi sebelum beliau shollallahu ‘alaihi wa sallam, tentulah beliau lebih utama untuk melakukannya karena Dzat Yang Maha Hikmah telah mengabarkan kepada kita melalui firmanNya :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan hidayah[13] bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang[14] terhadap orang-orang mukmin”.

(QS : At taubah  [9] : 128).

Hal ini dipertegas lagi dalam sabda Beliau shollallahu ‘alaihi wa Sallam:

« مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقْرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَ يُبَاعِدُ مِنَ الْنَّارِ إِلاَّ وَ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ »

“Tidaklah tersisa suatu perkara yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan diri dari neraka kecuali telah dijelaskan (oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ) kepada kalian”[15]

Maka, lisan siapakah yang berani lancang mengatakan bahwa ada suatu kebaikan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan menjauhkan diri dari neraka yang belum disampaikan Nabi kepada kita? Apakah ada manfaat yang akan didapatkan dari menyibukkan diri dengan perkara yang bukan bagian dari agama yang malah mendatangkan dosa?

Penutup

Marilah kita perhatikan apa yang dikatakan Imam Malik Rohimahullah,

مَنْ ابْتَدَعَ فِيْ الإِسْلاَمِ بِدْعَةً يَرَاهَ حَسَنَةً, فَقَدْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَانَ الرِّسَالَةَ, لأَِنَّ اللهَ يَقُوْلُ : الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا  فَمَا لَمْ يَكُنْ يَوْمَئِذٍ دِيْنَا, فَلاَ يَكُوْنُ اليَوْمَ دِيْنَا.

“Barangsiapa mengadakan suatu perbuatan bid’ah (baru) dalam Islam yang ia anggap suatu kebaikan, ia telah menyangka bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyembunyikan risalah, karena Allah telah berfirman, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kusempurnakan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu[16]”. Apa saja yang pada hari itu tidak termasuk bagian dari agama, pada hari ini pun bukan termasuk bagian dari agama”.[17]

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi penulis sebagai amalan yang ikhlas kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan bermanfaat bagi pembaca sebagai tambahan ilmu sehingga dapat mengamalkannya. Allahu A’lam.

Al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi,

Aditya Budiman.


[1] (QS : Al Maidah [5] : 3).

[2]HR. Bukhori no. 45, Muslim no. 3017. Faidah tambahan, Atsar di atas menunjukkan bahwa orang-orang yahudi adalah orang yang gemar membuat hari-hari perayaan yang tidak ada syari’at mereka sebagai ‘ied, maka orang-orang yang mengaku dirinya muslim dan suka mengadakan perayaan yang tidak ada dasarnya dalam islam memiliki keserupakan dengan orang yahudi dari sisi ini, Allahu A’lam.

[3] Bahkan sejak seorang bangun dari tidurnya sampai mau tidur lagi serta masuk ke kamar mandipun diatur dalam islam, dan tidaklah hal ini dimiliki agama yang lain, pen.

[4] Lihat Syarh Fadlil Islam oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh hal. 14, cetakan Dar Ibnul Jauzi, Kairo, Mesir.

[5]An Nawawi rahimahullah menjelaskan alasan mengapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyebutkan orang yahudi dan nashrani adalah sebagai syarat untuk mereka dan karena mereka merupakan umat yang telah Allah beri kitab. Jika mereka yang mendapat kitab saja diperintah untuk mengikuti ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, orang-orang selain mereka (baca: musyrik non ahli kitab) tentu lebih utama (untuk mengikuti ajaran yang dibawa oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam). [lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi Rohimahullah hal. 365/II cetakan Darul Ma’rifah, Beirut dengan tahqiq dari Syaikh Kholil Ma’mun Syihaa.]

[6] HR. Muslim no. 384.

[7] Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik (hayyatan thoyyiban) dalam ayat ini adalah surga. Namun, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kehidupan yang baik (hayyatan thoyyiban) dalam ayat ini adalah kehidupan dalam dunia berupa qona’ah atau rizki yang halal. [lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalalain Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi dengan ta’liq dari Syaikh Shofiyurrohman Al Mubarokfuri hafidzahullah hal. 287 cet. Darus Salam, Riyadh, KSA]

[8] Lihat Syarh Fadlil Islam oleh Syaikh Sholeh Alu Syaikh, hal. 15, cetakan Dar Ibnul Jauzi, Kairo, Mesir.

[9] Lihat: ibid, hal. 15-17.

[10] Lihat ‘Ilmu Ushul Bida’ oleh Fadhilatusy Syaikh ‘Ali bin Hasan bin Abdul Hamiid Al Halabi hafidzahullah hal. 17 terbitan Dar Ar Rooyah, Riyadh.

[11] Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir oleh Syaikh Musthofa Al Adawi hafidzahullah hal. 591/I Cetakan Dar Ibnu Rojab, Kairo, Mesir dan Ilmu Ushul Bida` oleh Fadhilatusy Syaikh ‘Ali bin Hasan bin Abdul Hamiid Al Halabi hafidzahullah hal. 17 terbitan Dar Ar Rooyah, Riyadh

[12] HR. Muslim no. 1844.

[13] lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilain Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi dengan ta’liq Syaikh Shofiyurrohman Al Mubarokfuri rahimahullah hal. 216 cet. Darus Salam, Riyadh, KSA.

[14] Maksudnya menginginkan kebaikan bagi ummatnya. [lihat ibid]

[15] HR. Thobroni dalam Mu’mamul Kabiir no. 1647, hadits ini dinyatakan shohih oleh Al Albani dalam Ash Shohihah (via software Al-Maktabah Asy Syamilah) no. 1803 dan Syaikh ‘Ali bin Hasan bin Abdul Hamiid Al Halabi hafidzahullah dalam Ilmu Ushul Bida’ hal. 19 terbitan Dar Ar Rooyah, Riyadh

[16] Kalimat yang digaris miring adalah kutipan  dari Q.S. Al Maidah [5] : 3

[17] Lihat Al I’tishom oleh Asy Syathibi hal. 64/I dengan tahqiq dari Syaikh Salim Al Hilali hafidzahullah cet. Dar Ibnu Affan, Kairo, Mesir.

Tulisan Terkait

3 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. Anwar
    Oct 28, 2009 @ 03:09:00

    Islam memang agama yang sempurna! Salam kenal…

    Reply

    • budi
      Nov 01, 2009 @ 13:40:19

      ya…itulah islam…Salam kenal juga

      Reply

Leave a Reply