Kera Sekarang dan Manusia yang Dijadikan Kera

23 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kera Sekarang dan Manusia yang Dijadikan Kera

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Allah Subhana wa Ta’ala dengan shifat kemahatahuan dan kemahahikmahan Nya telah menetapkan bahwasanya ada sebagian orang yang diubah menjadi kera dan babi. Misalnya dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla,

قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُولَئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

 “Katakanlah, ‘Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi (Yahudi) dan (orang yang) menyembah thoghut ?’ Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus”. (QS. Al Maidah [5] : 60)

Yang jadi pertanyaan kita, apakah kera dan babi yang ada sekarang ini merupakan keturunan dari manusia yang Allah ubah menjadi kera ini atau bukan ?

Maka Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah pernah menjelaskan[1],

“Apakah yang dimaksud kera dan babi (yang dirubah dari manusia ini) merupakan kera dan babi yang ada sekarang ini ?

Jawabannya : tidak, berdasarkan hadits yang terdapat dalam Shohih Muslim dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُهْلِكْ قَوْمًا أَوْ يُعَذِّبْ قَوْمًا فَيَجْعَلَ لَهُمْ نَسْلاً

“Sesungguhnya setiap ummat yang dirubah wajahnya tidak memiliki anak keturunan”[2].

Demikian pula, karena kera dan babi pun telah ada sebelum terjadi perubahan wajah tersebut. Berdasarkan hal ini maka kera dan babi yang ada sekarang ini bukanlah keturunan dari kera dan babi yang dirubah rupanya dari manusia”.

 

Sigambal, 1 Dzul Hijjah 1438 H / 23 Agustus 2017 M.

Setelah subuh, Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Al Qoulul Mufir ‘Ala Kitabit Tauhid hal. 461/I terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[2] HR. Muslim no. 2663. Teks Hadits yang dibawakan beliau sedikit berbeda dengan yang terdapat di Shohih Muslim yang kami dapatkan.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply