Kemusyrikan Di Zaman Modern Vs Zaman Dulu

3 Oct

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kemusyrikan Di Zaman Modern Vs Zaman Dulu

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada  Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Tak salah memang jika ada orang yang mengatakan kalau zaman sekarang adalah zaman yang canggih dan penuh dengan inovasi dalam teknologi. Namun di sebagian masyarakat perkembangan zaman ini malah menyurutkan aqidah dan tauhid. Maka apakah kemusyrikan di zaman dulu lebih parah dibandingkan zaman modern ? Lalu apakah benar orang musyrik zaman dahulu lebih parah kemusyrikannya dibanding orang zaman sekarang ?

Maka marilah kita tilik kembali Kitab Yang Tiada Keraguan Padanya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdo’a kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan Allah”. (QS. Al Ankabut [29] : 65).

Disebutkan dalam Tafsir Ibnu Katsir Asy Syafi’i Rohimahullah,

وقد ذكر محمد بن إسحاق، عن عكرمة بن أبي جهل: أنه لما فتح رسول الله صلى الله عليه وسلم مكة ذهب فارًّا منها، فلما ركب في البحر ليذهب إلى الحبشة، اضطربت بهم السفينة، فقال أهلها: يا قوم، أخلصوا لربكم الدعاء، فإنه لا ينجي هاهنا إلا هو.

“Muhammad bin Ishaaq telah menyebutkan dari ‘Ikrimah bin Abu Jahal. Bahwa sesungguhnya ketika Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah melakukan penaklukan kota Mekkah. Ada sebagian orang Mekkah yang melarikan diri. Kemudian ketika mereka berlayar di laut untuk melarikan diri ke Habasyah, di tengah pelayaran kapal/sampan yang mereka tumpangi diombang ambingkan. Kemudian salah satu dari mereka ada yang berkata, “Wahai kawan-kawan, mari ikhlaskan do’a hanya kepada Robb kalian (Allah) karena sesungguhnya tidak ada yang mampu membuat kita berhasil melalui badai ini melainkan Dia”[1].

Berdasarkan Ayat Yang Mulia di atas, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahaab Rohimahullah mengatakan,

أنّ مشركي زماننا أغلظ شركًا من الأوّلين، لأنّ الأوّلين يُشركون في الرخاء ويُخلصون في الشدّة، ومشركوا زماننا شركهم دائم؛ في الرخاء والشدّة.

“Kemusyrikan yang terjadi di zaman kita lebih parah dari pada kemusyrikan di zaman dahulu. Karena orang musyrik di zaman dahulu mereka menyekutukan Allah dalam keadaan senang/lapang. Sedangkan kaum musyrikin di zaman kita kemusyrikan mereka kontiniu, dalam keadaan senang/lapang dan saat kesusahan menimpa mereka”[2].

Lalu beliau membawakan ayat di atas.

Apa yang disampaikan beliau sungguh benar dan nyata. Tidakkah kita melihat sebagian orang yang secara de jure berdasarkan hukum administrasinya adalah seorang muslim. Namun tak henti-hentinya melakukan mendatangi penghuni kubur tertentu atau tempat keramat tertentu untuk menaruh sesajen ??!! Tak sedikit orang yang secara de jure adalah orang islam namun karena ingin meraup dunia mendatangi dukun ??!! Tak sedikit orang yang secara de jure adalah orang islam namun ketika ingin melakukan sebuah hajatan, acara, pesta atau yang semisal itu pergi menayakan hari baik kepada dukun yang disebut ‘orang pintar’ ??!! maka La hawla walaa quwwata illa billah.

Namun apa yang disebutkan beliau di atas bukanlah sebuah generalisir sehingga sebagian orang mendiskriditkan Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhaab Rohimahullah dengan menyebutnya orang yang gemar mengkafirkan kaum muslimin. Tidak sekali-kali tidak, karena masalah pengkafiran seseorang ada syarat dan ketentuan yang amat berat dan tidak layak dilakukan sebelum syarat terpenuhi dan faktor penghalang tidak ada.

Allahu a’lam…. Ya Allah lindungilah anak keturunan hamba dan kaum muslimin dari menyekutukan Mu…

 

 

Sigambal, Akhir Bulan Dzul Qo’dah  1434 H

 

 

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-



[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir hal. 295/VI terbitan Dar Thoyyibah, KSA.

[2] Lihat Qowa’idul ‘Arba’ kaidah ke empat.

Tulisan Terkait

Leave a Reply