Kalimat Tauhid, Bukti Tauhid Hanya Satu ?

24 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kalimat Tauhid, Bukti Tauhid Hanya Satu?

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Sebagian kita mungkin pernah mendengar bahwa tauhid dibagi para ulama menjadi 3 jenis yaitu, Tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ dan Shifat. Agar tulisan ini tidak terlalu panjang, untuk lebih jelasnya apa yang dimaksud dengan 3 tauhid ini silakan klik di sini.

Sebagian kita juga mungkin pernah mendengar bahwa pembagian tersebut bid’ah (perbuatan yang tidak berdasar dan di ada-adakan dalam Islam). Lantas ada yang berkata, ‘Kok bisa tauhid dibagi menjadi 3 padahal kalimat tauhid Cuma 1, Laa Ilaaha Illallah ?’

Benarkah hal tersebut ?

Mari simak tanya jawab dengan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah.

Pertanyaan :

Kalimat Tauhid, Bukti Tauhid Hanya Satu 1

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah pernah ditanya,

“Bagaimana kalimat Laa Ilaaha Illallah mencakup seluruh jenis tauhid (yang tiga -pen) ?

 

Kalimat Tauhid, Bukti Tauhid Hanya Satu 2

Jawaban :

“Kalimat Laa Ilaaha Illallah mencakup seluruh jenis tauhid yang tiga. Boleh jadi dengan dalil tadhommun/inklusi (tentang maknanya klik di sini) dan iltizam/konsekwensi (tentang maknanya klik di sini). Ucapan orang yang mengucapkan kalimat ‘Aku bersaksi sesungguhnya Laa Ilaaha Illallah (tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah) yang dia maksudkan dalam fikirannya adalah tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Tauhid uluhiyah ini terkandung di dalamnya secara tadhommun/inklusi makna tauhid rububiyah.

Demikian juga kalimat Laa Ilaaha Illallah tersebut mengandung makna tauhid asma’ wa shifat secara tadhommun/inklusi. Karena seseorang tidak akan menyembah sesuatu melainkan dia tahu bahwa yang dia sembah itu adalah Dzat yang berhak diibadahi dan karena Dzat tersebut memiliki asma’ wa shifat yang sempurna/terbaik. Oleh karena itulah Nabi Ibrohim ‘alaihissalam berkata kepada ayahandanya,

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئً

“Ketika Ibrohim berkata kepada ayahandanya, “Wahai Ayahandaku mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengat dan tidak melihat serta tidak dapat menolongmu sama sekali ?”. (QS. Maryam [19] : 42)

Maka tauhid ibadah/uluhiyah mengandung tauhid rububiyah dan asma’ wa shifat”.

 

[Diterjemahkan dari Majmuu Fataawa Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 82/I terbitan Darul Wathon, Riyadh, KSA]

Sebelum subuh,

3 Dzul Qo’dah 1436 H / 18 Agustus 2015 M

Aditya Budiman bin Usman

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply