Gak Perlu Heran Banyak Yang Mengaku Wali Allah

17 Oct

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Gak Perlu Heran Banyak Yang Mengaku Wali Allah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah. Masih seputar tema wali Allah. Tema ini mungkin sudah mulai kalah dengan perdebatan seputar pemimpin kafir. Anyway, mari kita tinggalkan sejenak dan kembali kepada tema yang tak kalah urgen dengan itu semua walaupun sangat jarang orang yang mau mengupasnya. Diantara kita mungkin ada yang pernah merenungkan dan memikirkan, ‘Kok semakin ke belakang semakin banyak orang yang ngaku wali Allah ? Padahal sangat jauh dari keimanan dan ketaqwaan (klik di sini)’. Maka hal ini udah jauh hari diingatkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan kami pun baru tersadar ketika membaca salah satu karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah (wafat 728 H) mengatakan[1], Gak Perlu Heran Banyak Yang Mengaku Wali Allah 1 “……. Walaupun banyak orang yang mengira, menyangka bahwa dirinya atau orang selain dirinya termasuk diantara wali-wali Allah. Pengakuannya itu tidak akan menjadikan mereka termasuk wali-wali Allah. Karena orang-orang yahudi dan nashrani juga mengklaim bahwa mereka adalah wali-wali Allah. Mereka juga mengklaim bahwa yang masuk surga hanyalah orang-orang yahudi atau nashrani. Bahkan yang lebih parah lagi mereka mengklaim bahwa mereka adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih Nya. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاءُ اللَّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُمْ بِذُنُوبِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ بَشَرٌ مِمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ

 “Orang-orang Yahudi dan Nashrani mengatakan, “Kami ini adalah anak-anak Allah[2] dan kekasih-kekasih Nya” Katakanlah, “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki Nya. Dan Kepunyaan Allah lah kerajaan antara keduanya. Dan kepada Allah lah kembali (segala sesuatu)”.

(QS. Al Maidah [5] : 18)

Allah Subhana wa Ta’ala juga berfirman,

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (111) بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (112)

“Dan mereka (Yahudi dan Nashrani) berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nashrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. Bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah[3], sedang ia berbuat kebajikan[4], maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”. (QS. Al Baqoroh [2] : 111-112)

Maka lihatlah betapa tidak anehnya bahwa banyak sekali orang yang secara zhohir saja jauh dari keimanan dan ketaqwaan berani mengaku bahwa dirinya atau gurunya nan sakti adalah wali-wali Allah. Kalaulah orang-orang yahudi dan nashrani saja berani mengklaim bahwa mereka adalah kekasih Allah bahkan anak Allah atau bahkan hanya merekalah yang masuk surga. Maka tidak perlu heran kok bisa-bisanya semakin banyak orang yang mengaku-ngaku bahwa dirinya adalah wali Allah di muka bumi ini dengan berbagai cerita manis dan saktinya. Sungguh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun telah mengingkari orang-orang yang demikian. Terdapat sebuah hadits melalui shahabat ‘Amr bin Al ‘Ash Rodhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- جِهَارًا غَيْرَ سِرٍّ يَقُولُ « أَلاَ إِنَّ آلَ أَبِى – يَعْنِى فُلاَنًا – لَيْسُوا لِى بِأَوْلِيَاءَ إِنَّمَا وَلِيِّىَ اللَّهُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِنِينَ ».

“Aku pernah mendengar Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan dengan suara yang keras tidak pelan, “Sesungguhnya Keluarga Fulan tidak termasuk wali-waliku. Sesungguhnya wali Allah adalah orang yang sholeh dari kalangan orang-orang yang beriman”[5].

Kesimpulannya :

  1. Gak perlu heran kalau makin banyak orang yang gak sholat jama’ah ke mesjid, gak sholeh, gak bertaqwa mengaku-ngaku wali Allah.
  2. Salah satu ciri lain wali Allah adalah sholeh dan beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan beribadah sesuai cara Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Allahu a’lam.

  Setelah ‘ashar, 15 Muharrom 1438 H – 16 Oktober 2016  M Aditya Budiman bin Usman bin Zubir [1] Lihat Al Furqon Baina Auliya Ar Rohman wa Auliya Asy Syaithon hal. 31 terbitan Maktabah Ar Rusyd, Riyadh, KSA. [2] Maksudnya seperti anak-anak Nya dalam hal kedekatan dan kedudukan. (Lihat Tafsir Jalalain hal. 120). Artinya mereka mengklaim bahwa mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah dan sangat dekat dengannya. Tentulah hal ini sama saja dengan mereka mengatakan bahwa mereka adalah wali Allah. [3] Isyarat kepada Tauhid. [4] Isyarat kepada ittiba’ (mengikuti) tata cara beragama Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. [5] HR. Bukhori no. 5990 dan Muslim no. 215.  

Tulisan Terkait

Leave a Reply