Fawaid dari kitab Tahzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah [3]

31 Dec

Share

[2] Ahlus Sunnah wal Jama’ah

Pada kesempatan yang lalu pengertian bahwa ahlus sunnah merupakan

shifat/karakter (وَصْفٌ) dan bukan merupakan kelompok tertentu.

Maka pada kesempatan kali ini kita akan melanjutkan pembahasan Syaikh hafidzahullah seputarta’rif/pengertian ahlus sunnah dan kebalikannya ahli bid’ah serta kelompok sesat.

Syaikh hafidzahullah mengatakan,

Diantara firqoh (sesatpent.) yang mana mereka mengambil aqidah mereka dengan dasar akal pikiran para guru, para imam mereka yang mana akal pikiran tersebut pada umumnya merupakan suatu pola pikir yang semata-mata dibangun berdasarkan hawa nafsu, seperti Syi’ah Rofidhoh[1] dan yang semisal mereka. Kelompok ini lebih mengedepankan perkataan para guru dan imam mereka di atas firman Allah dan sabda NabiNya shallallahu ‘alaihi was sallam padahal beliau adalah sebaik-baik manusia.

Sebagian dari kelompok-kelompok sesat ini mereka menisbatkan diri mereka dengan nama orang yang mendirikannya dan orang yang menjadi peletak dasar aqidah mereka, semisal Jahmiyah[2] yang mereka menisbatkan diri mereka kepada pendirinya[3] yaitu Jahm bin Shofwan. Demikian juga Asya’iroh[4]mereka menisbatkan pada pendirinya yaitu Abul Hasan Al ‘Asy’ari[5]. Demikian juga sekte Ibadiyah[6]yang mereka menisbatkan diri mereka kepada Abdullah bin Ibad, demikian juga firqoh/kelompok sesat lainnya.

Diantara firqoh/kelompok sesat lainnya mereka menisbatkan diri mereka kepada pemikiran mereka yang menyimpang dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam atau ada juga yang menisbatkan diri mereka kepada perbuatan buruk mereka, seperti Rofidhoh yang menisbatkan diri mereka kepada perbuatan mereka yang menolak kekhalifahan Abu Bakr dan ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma dan sikap berlepas diri mereka dari keduanya. Demikian juga Al Qodariyah[7] yang mereka menisbatkan dirinya kepada pemikiran mereka yang menafikan/meniadakan qodar/takdir. Demikian juga dengan Khowarij yang menisbatkan diri mereka kepada keluarnya/pemberontakan mereka dari pemerintah yang sah. Demikian seterusnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjaga ahlus sunnah dari menisbatkan diri kepada selain sunnah orang yang ma’shum/terjaga[8] dari kesalahan dan kegonjangan yaitu Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi was sallam yang Allah kuatkan beliau dengan wahyu dari langit. Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam juga adalah orang yang tidak berkata-kata dari hawa nafsunya melainkan hanya dari apa yang diwahyukan kepadanya. Ahlus sunnah adalah sekelompok orang yang tidak menistbatkan diri mereka selain kepada (apa yang sesuai denganpent.) sunnah. Demikianlah sebagaimana yang diriwayatkan dari Al Imam Malik, bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Al Imam Malik bin Anas, “Siapa itu Ahlus Sunnah?” Kemudian beliau rohimahullah menjawab,

لَيْسَ لَهُمْ لَقَبٌ يَعْرِفُوْنَ بِهِ لَا جَهْمِيٌ وَلَا رَفِضِيٌ وَلَاقَدَرِيٌ

“Mereka adalah orang-orang yang tidak punya gelar tertentu yang mereka dikenal dengannya[9], bukan seperti Jahmiyah, bukan pula seperti Rofidhoh ataupun Qodariyah”.

Bersambung Insya Allah,….

Dikumpulkan, diterjemahkan dan diberi catatan kaki oleh

Orang yang amat mengharapkan ampunan Robbnya,

Aditya Budiman


[1] Rofidhoh sering disebut juga Syi’ah imamiyah. Mereka disebut rofidhoh karena mereka meninggalkan kepemimpinan Abu Bakr dan ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma (sebagai kholifah pent.)sebagaimana yang diriwayatkan Abdullah bin Ahmad rohimahumallah dari bapaknya yaitu Al Imam Ahmad bin Hambal, “Aku bertanya kepada ayahku siapakah rofidhoh  itu?”. Maka beliau mengatakan,

“Mereka adalah orang yang mencaci habis-habisan Abu Bakr dan Umarrodhiyallahu ‘anhuma”.

[lihat Mauqif Ahlussunnah wal Jama’ah baina Ahli Ahwa’ wal Bida’ oleh Syaikh Prof. DR. Ibrohim Ar Ruhailiy hafidzahullah hal. 146/I, terbitan Maktabah Al ‘Ulum wal Hikaam, Madinah, KSA.]

[2] Diantara aqidah sesat firqoh/kelompok ini adalah mereka menyakini bahwa Al Qur’an adalah mahluk [padahal yang benar Al Qur’an adalah firman/kalam Allah ‘azza wa jalla pent.], Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak benar-benar mengajak Nabi Musa ‘alaihissalam bicara, Allah itu tidaklah melihat, Allah tidak berada di atas Arsy. [lihat Mauqif Ahlussunnah wal Jama’ah baina Ahli Ahwa’ wal Bida’ hal. 153/I.]

[3] Lebih tepat jika kita katakan bahwa

Jahm bin Shofwan bukanlah merupakan pendirinya akan tetapi yang menyebarkan dan mendakwahkannya. Sedangkan pendirinya adalah gurunya Jahm bin Shofwan, Al Ja’du bin Dirham yang jika ditelusuri aqidah jahmiyah ini berasal dari seorang yahudi bernama Lubaid bin Al A’shom yang menyihir Rosulullahshallallahu ‘alaihi was sallam.

[lihat Mauqif Ahlussunnah wal Jama’ah baina Ahli Ahwa’ wal Bida’ hal. 153-154.]

[4] Kelompok/firqoh ini merupakan pengikut Abul Hasan Al ‘Asy’ari rohimahullah. Beliau ini dulunya adalah seorang yang beraqidah mu’tazilah kemudian ia meninggalkan mu’tazilah dan beraqidah diantara aqidah ahlus sunnah wal jama’ah dan mu’tazilah. Kemudian beliau rujuk/kembali kepada aqidah ahlus sunnah wal jama’ah dan bertaubat (dari aqidah sebelumnyapent.) dan mencocoki aqidahnya Al Imam Ahmad bin Hambal. (Namun sangat disayangkan orang yang mengaku mengikuti manhaj beliau rohimahullah dalam beraqidah) tetap berada pada aqidah beliau sebelum rujuk (aqidah diantara aqidah ahlus sunnah wal jama’ah dan mu’tazilahpent.). Asya’iroh dalam masalah iman mengikuti imannya murji’ah, mereka mentakwil shifat-shifat Allah, (namun walaupun demikianpent.) mereka merupakan kelompok/firqoh yang paling dekat aqidahnya dengan ahlus sunnah wal jama’ah akan tetapi mereka (asya’iroh) bukanlah aqidah ahlus sunnah. (sebagaimana anggapan sebagian orang di masa kitapent.). [lihat Syarh Al Aqidah Al Wasithiyah oleh Syaikh Muhammad Kholil Harros rohimahullah hal. 130 dengan tahqiq dan ta’liq oleh Syaikh ‘Alwi bin Abdul Qodir As Saqof, terbitan Durorul Sunniyah, KSA].

[5] Walaupun beliau rohimahullah telah rujuk/kembali kepada aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Akan tetapi orang-orang yang mengikuti beliau secara membabi buta/taqlid buta tetap dalam aqidah yang telah beliau tinggalkan yang menyimpang dari jalannya Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam.

[6] Diantara aqidah sesat sekte ini adalah :

  • Mereka mengakafirkan orang selain kelompok mereka. [lihat At Tabshir fid Din oleh Thohir bin Muhammad Al Isparooyiniy, hal. 58, dengan tahqiq Kamal Yusuf Al Haut, terbitan ‘Alimul Kitab, Beirut.]
  • Mereka mengikuti Ziyad bin Al Ashfar yang membolehkan taqiyah (salah satu metode dusta yang terkenal di Syi’ahpent.) dalam berbicara dan tidak pada Amal. [lihat I’tiqhodati Firooqil Muslimin  wal Musyrikin oleh Muhammad bin Umar bin Al Husain Ar Rooziy dikenal dengan Fakhruddin Ar Rooziy, hal. 51, dengan tahqiq ‘Ali Saami An Nasyar, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyah, Beirut].
  • Guru kami hafidzahullah mengatakan

“Mereka sama/mengikuti Khowarij dalam masalah iman”.

    [7] An Nawawi rohimahullah menyebutkan, “Kelompok/firqoh ini disebut sebagai qodariyah karena mereka mengingkari qodar/taqdir”. Orang pertama yang punya pemikiran ini adalah Ma’bad Al Juhaniy dan ini terjadi masa akhir para sahabat sebagaimana diriwayatkan Al Imam Muslim dalam Shohihnya dari Yahya bin Ya’mar. Kelompok/firqoh ini mengingkari adanya ilmu Allah tentang suatu perbuatan sebelum terjadinya perbuatan tersebut dalam pandangan mereka ilmu Allah hanya ada ketika suatu perbuatan telah terjadi bahkan hal ini dinukil oleh Al Lalikaiy dengan sanadnya yang smpai kepada Al Imam Asy Syafi’i rohimahumallah. Diantara keyakinan mereka adalah Allah tidaklah menaqdirkan melainkan segala sesuatu terjadi begitu saja. [kami ringkaskan dari Mauqif Ahlussunnah wal Jama’ah baina Ahli Ahwa’ wal Bida’hal. 148-149.]. Secara khusus Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menyifati kelompok ini dengan sebutan majusinya ummat beliau, hadits (shohih) tentang ini akan datang Insya Allah Ta’ala.

[8] Yang dimaksud ma’shum adalah

Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam terjaga dari dosa besar dan dari terus menerus melakukan dosa kecil serta terjaga dari kesalahan menyampaikan syari’at. Sebagaimana beliau pernah melakukan kesalahan yaitu bermuka masam kepada Abdullah bin Ummi Maktumrodhiyallahu ‘anhu, Allahu A’lam.

[9] Guru kami hafidzahullah mengatakan,

“Yang dimaksud dengan yang tidak punya gelar tertentu  adalah gelar selain Islam itu sendiri dan hal-hal yang berhubungan dengan islam”,

sampai di sini perkataan beliau hafidzahullah.

Namun kami mendapati perkataan ini dari Syaikh Prof DR. Ibrohim bin ‘Amir Ar Ruhaily hafidzahullah dan beliau membawakan atsar yang banyak dari para salaf dan ulama terdahulu dalam kitabnya sekaligus disertasi beliau yang berjudul Mauqif Ahlussunnah wal Jama’ah baina Ahli Ahwa’ wal Bida’ oleh Syaikh Prof. DR. Ibrohim Ar Ruhailiy hafidzahullah hal. 39-44/I, terbitan Maktabah Al ‘Ulum wal Hikaam, Madinah, KSA.

Tulisan Terkait

Leave a Reply