Dua Jenis Orang Sebelum dan Setelah Wafat

21 Mar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dua Jenis Orang Sebelum dan Setelah Wafat

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Dalam prosesi jenazah banyak sekali hikmah dan pelajaran yang dapat diambil jika kita benar-benar memahaminya. Salah satu prosesi penyelanggaraan jenazah adalah proses mengantar jenazah menuju perkuburan.

Salah satu hikmahnya adalah apa yang termaktub dalam hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abu Qotadah Rib’i Al Anshori Rodhiyallahu ‘anhu.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجَنَازَةٍ فَقَالَ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ فَقَالُوا مَا الْمُسْتَرِيحُ وَمَا الْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ

Sesungguhnya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah dilewati pengiringan jenazah. Kemudian beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Ada orang yang mendapatkan kenyamanan (istirahat) dan ada pula yang orang lain menjadi nyaman (istirahat) karena ketiadaannya”. Para shahabat bertanya, ‘Siapa itu orang yang mendapatkan kenyamanan (istirahat) dan orang yang orang lain menjadi aman (istirahat) karena ketiadaannya ?” Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Seorang hamba yang mukmin adalah orang yang beristirahat dari keletihan dunia dan kesulitannya. Sedangkan seorang hamba yang fajir/gemar maksiat maka hamba Allah yang lain, negeri dan pepohonan serta hewan yang beristirahat dari gangguannya”[1].

An Nawawi Rohimahullah mengatakan,

معنى الحديث أن الموتى قسمان مستريح ومستراح منه ونصب الدنيا تعبها وأما استراحة العباد من الفاجر معناه اندفاع أذاه عنهم وأذاه يكون من وجوه منها ظلمه لهم ومنها ارتكابه للمنكرات فان أنكروها قاسوا مشقة من ذلك وربما نالهم ضرره وان سكتوا عنه أثموا واستراحة الدواب منه كذلك لأنه كان يؤذيها ويضربها ويحملها ما لا تطيقه ويجيعها في بعض الأوقات وغير ذلك واستراحة البلاد والشجر فقيل لأنها تمنع القطر بمصيبته قاله الداودي. قال الباجي لأنه يغصبها ويمنعها حقها من الشرب وغيره

“Makna hadits bahwa orang yang meninggal dunia ada dua jenis yaitu orang yang beristarahat dan orang yang orang lain dapat beristirahat darinya. Orang yang beristirahat adalah orang yang beristirahat dari keletihan kehidupan dunia. Adapun para hamba beristirahat dari orang yang fajir/ahli maksiat maknanya adalah mereka tercegah dari gangguannya. Gangguannya dari berbagai sisi : kezholimannya kepada mereka, melakukan berbagai kemungkaran. Jika mereka mengingkari kemungkarannya maka mereka memikul kesusahan karenanya. Boleh jadi mereka akan mendapatkan bahaya karena hal itu. Namun jika mereka mendiamkan kemungkaran tersebut maka mereka akan mendapatkan dosa. Demikian juga istirahatnya hewan dari gangguannya. Karena dia akan mengganggu hewan, memukulnya dan mempekerjakannya di atas batas kemampuannya serta membuatnya demikian lapar pada beberapa kesempatan. Sedangkan istirahatnya bumi/suatu negeri dan tumbuhan dari gangguannya karena (kemaksiatannya -pen) akan mencegah turunnya hujan dan akan menimbulkan musibah. Demikian perkataan Ad Dawudi. Sedangkan Al Baji mengatakan, “Karena dia menganiaya dan mencegah hak hewan tersebut semisal minum dan yang semisal”[2].

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

قال بن التين يحتمل أن يريد بالمؤمن التقى خاصة ويحتمل كل مؤمن والفاجر يحتمل أن يريد به الكافر ويحتمل أن يدخل فيه العاصي

‘Ibnu At Tin mengatakan, “Boleh jadi yang dimaksudkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dengan orang mukmin adalah khusus (bagi -pen) orang mukmin yang bertakwa. Namun mungkin juga yang dimaksudkan adalah seluruh orang yang termasuk mukmin. Sedangkan orang yang fajir mungkin yang dimaksudkan adalah orang kafir namun mungkin juga termasuk (orang yang masih beriman -pen) namun gemar maksiat”[3].

Mari kaji diri kita masing-masing. Apakah keberadaan kita dan akhir kita kelak ingin seperti apa ? Sudah sejauh mana persiapan kita agar sakaratul maut itu menjadi pemutus kelelahan kehidupan dunia buat kita…..

 

Mudah-mudahan bermanfaat

Menjelang tidur, 9 Jumadil Akhir 1437 H, 17 Maret 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] HR. Bukhori no. 6512, Muslim no. 950.

[2] Lihat Al Minhaj Syarh Shohih Muslim hal. 24/IV terbitan Darul Ma’rifah.

[3] Lihat Fathul Bari Syarh Shohih Bukhori hal. 709/XIV terbitan Dar Thoyyibah.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply