Disia-siakannya Amanah Adalah Tanda Qiyamat

24 Sep

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Disia-siakannya Amanah Adalah Tanda Qiyamat

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada  Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Diantara sebuah aqidah yang harus diimani seorang muslim adalah adanya hari pembalasan. Hari pembalasan ini didahului sebuah peristiwa yang dimanakan hari qiyamat. Nah diantara kesempurnaan ajaran agama islam ini adalah Allah Subhana wa Ta’ala kabarkan kepada hambaNya melalui lisan Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tanda-tanda qiyamat tersebut. Tanda-tanda qiyamat ini disebut dalam istilah syari’at dengan sebutan Asyroothus Saa’ah (أَشْرَاطُ السَاعَة).

Pengertian Asyroothus Saa’ah (أَشْرَاطُ السَاعَة)

Asyroothus Saa’ah (أَشْرَاطُ السَاعَة) adalah tanda-tanda qiyamat yang mendahului proses terjadinya qiyamat dan menunjukkan bahwa dekatnya waktu terjadi qiyamat[1]. Asyroothus Saa’ah (أَشْرَاطُ السَاعَة). Ini dibagi menjadi dua jenis : Asyroothus Saa’ah Ash Shughroo (أَشْرَاطُ السَاعَة الصُغْرَى) dan Asyroothus Saa’ah Al Kubroo (أَشْرَاطُ السَاعَة الكُبْرَى). Asyroothus Saa’ah Ash Shughroo (أَشْرَاطُ السَاعَة الصُغْرَى) adalah tanda yang mendahului qiyamat namun masih dalam waktu yang lama. Sedangkan Asyroothus Saa’ah Al Kubroo (أَشْرَاطُ السَاعَة الكُبْرَى) adalah tanda yang mendahului qiyamat berupa perkara yang amat besar dan menunjukkan dekatnya hari qiyamat[2].

Inilah pengertian tanda qiyamat secara umum yang disampaikan para ulama. Namun hal yang akan kita ketengahkan di sini adalah sebuah Asyroothus Saa’ah Ash Shughroo (أَشْرَاطُ السَاعَة الصُغْرَى) yaitu disia-siakannya amanah.

Amanah adalah kebalikan dari khiyanat. Allah Subhana wa Ta’ala telah mencantumkan lafadz amanah dalam Al Qur’an,

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”. (QS. Ahzab [33] : 72).

Terdapat dua pendapat para ulama mengenai maksud dari lafadz amanah dalam ayat ini :

1.  Amanah tersebut adalah tauhid.

2. Amanah tersebut adalah amal. Termasuk dalam hal ini seluruh jenis-jenis aturan di dalam agama. Seluruhnya adalah amanat bagi seorang hamba. Sehingga amanah adalah pembebanan, penerimaan terhadap perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan syari’at[3].

Maka seluruh hal yang ada aturannya dalam agama merupakan amanah bagi seorang hamba dari Allah Subhana wa Ta’ala. Sehingga termasuk dalam hal ini perkara ibadah yang murni ibadah semisal sholat, mengimami sholat dan lain sebagainya dan perkara yang bukan murni ibadah semisal muamalah kepada sesama muslim ataupun selain muslim/kafir.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan dari sahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu,

إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أَوْ قَالَ مَا إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا أَسْنَدَ – تَوَسَّدَ- الْأَمْرَ غَيْرُ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

“Jika amanah telah disia-siakan maka tunggulah qiyamat”. Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu bertanya, “Bagaimana tersia-siakannya amanah wahai Rosulullah ?” Beliau menjawab, “Jika sebuah perkara disandarkan/diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah qiyamat”[4].

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjelaskan bagaimana diangkatnya amanah dari hati seseorang dan sesungguhnya amanah itu tidak akan tersisa di dalam hati melainkan hanya sisa-sisanya.

Hudzaifah bin Al Yaman Rodhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan, beliau mengatakan bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengabarkan kepada para sahabat dua buah hadits. Aku mengerti/memperhatikan yang pertama dan menantikan yang satu lagi. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengabarkan kepada kami bahwa amanah turun di Jadzr/pusat hati-hati orang. Kemudian mereka mengatahui sebagian dari Al Qur’an dan Hadits. Kemudian beliau menjelaskan bagaimana amanah tersebut diangkat dari hati-hati manusia. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

يَنَامُ الرَّجُلُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ الأَمَانَةُ مِنْ قَلْبِهِ فَيَظَلُّ أَثَرُهَا مِثْلَ الْوَكْتِ ثُمَّ يَنَامُ النَّوْمَةَ فَتُقْبَضُ الأَمَانَةُ مِنْ قَلْبِهِ فَيَظَلُّ أَثَرُهَا مِثْلَ الْمَجْلِ كَجَمْرٍ دَحْرَجْتَهُ عَلَى رِجْلِكَ فَنَفِطَ فَتَرَاهُ مُنْتَبِرًا وَلَيْسَ فِيهِ شَىْءٌ – ثُمَّ أَخَذَ حَصًى فَدَحْرَجَهُ عَلَى رِجْلِهِ – فَيُصْبِحُ النَّاسُ يَتَبَايَعُونَ لاَ يَكَادُ أَحَدٌ يُؤَدِّى الأَمَانَةَ حَتَّى يُقَالَ إِنَّ فِى بَنِى فُلاَنٍ رَجُلاً أَمِينًا. حَتَّى يُقَالَ لِلرَّجُلِ مَا أَجْلَدَهُ مَا أَظْرَفَهُ مَا أَعْقَلَهُ وَمَا فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ. وَلَقَدْ أَتَى عَلَىَّ زَمَانٌ وَمَا أُبَالِى أَيَّكُمْ بَايَعْتُ لَئِنْ كَانَ مُسْلِمًا لَيَرُدَّنَّهُ عَلَىَّ دِينُهُ وَلَئِنْ كَانَ نَصْرَانِيًّا أَوْ يَهُودِيًّا لَيَرُدَّنَّهُ عَلَىَّ سَاعِيهِ وَأَمَّا الْيَوْمَ فَمَا كُنْتُ لأُبَايِعَ مِنْكُمْ إِلاَّ فُلاَنًا وَفُلاَنًا.

“Seorang laki-laki tertidur. Kemudian diambil dari amanah dari hatinya sehingga tersisa bekasnya tinggal seperti sesuatu yang sudah luntur warnanya. Kemudian ia tertidur lagi lalu amanah diangkat dari hatinya sehingga tersisa semisal segenggam bara/lepuhan yang engkau gulirkan ke kakimu lalu mendidih kemudian engkau melihatnya melepuh namun tidak tersisa padanya sesuatu yang bermanfaat”. Kemudian beliau mengambil kerikil kemudian beliau mengulirkannya ke kakinya. Kemudian orang-orang akan bangun dan saling berjual beli namun tidak ada seseorang pun yang menunaikan amanah hingga ada yang mengatakan, “Sesungguhnya di Bani Fulan ada seseorang laki-laki yang amanah”. Kemudian dikatakanlah pada seorang laki-laki, “Sungguh cerdas! Sungguh cerdik! dan sungguh kuat! Sementara di dalam hatinya tidak ada keimanan seberat biji sawi pun. Telah datang kepadaku satu zaman di mana aku tidak pernah peduli kepada siapa saja di antara kalian aku melakukan jual beli, jika ia seorang muslim, maka keislamannya yang akan mengembalikan (amanah), dan jika seorang Nasrani, maka walinyalah yang akan mengembalikan (amanah) kepadaku. Adapun hari ini, maka aku tidak melakukan jual beli kecuali kepada si fulan dan si fulan”.[5].

Pada hadits ini terdapat penjelasan bahwa amanah akan diangkat dari hati hingga seseorang akan menjadi orang yang khianat setelah sebelumnya orang yang bisa dipercaya. Hal ini terjadi pada orang-orang yang telah hilang darinya rasa takut yang di dasari ilmu kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Lemahnya rasa imannya, berteman akrab dengan orang yang khianat. Karena teman dekat akan menjadi contoh orang yang menjadi temannya.

Diantara kenyataan yang merupakan bentuk disia-siakannya amanah adalah dipercayakannya urusan orang banyak, diantaranya kepemimpinan, hakim, dan para pejabat dengan berbagai macam ragamnya kepada orang yang  tidak ahli, tidak mampu melaksanakan tugasnya. Karena hal itu merupakan bentuk penyia-nyiaan terhadap hak orang banyak, pengabaian terhadap kemaslahatan mereka, melukai hati mereka dan menimbulkan berbagai bencana dan kesengsaraan di tengah mereka[6].

Apabila amanah telah disia-siakan oleh orang-orang yang mengurusi perkara yang berhubungan dengan orang banyak. Dan orang-orang akan mengikuti orang yang mengurusi urusan mereka maka mereka akan sama dengan orang-orang yang mengurusi perkara mereka dalam menyia-nyiakan amanah. Maka baiknya keadaan penguasa merupakan kebaikan bagi rakyatnya. Sebaliknya rusaknya keadaan penguasa merupakan kerusakan bagi orang yang dipimpinnya.

Diserahkannya amanah kepada orang yang bukan ahlinya merupakan bukti nyata yang menunjukkan tidak adanya perhatian masyarakat terhadap agama mereka. Hingga mereka mewakilkan urusan mereka kepada orang-orang yang tidak perhatian dengan agama. Hal ini hanya akan terjadi ketika kebodohan terhadap agama telah merajalela dan diangkatnya ilmu. Oleh karena itulah Imam Al Bukhori Rohimahullah mencantumkan hadits dari Abu Huroiroh di atas dalam Kitabul Ilmi sebagai isyarat akan hal itu.

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

“Korelasi matan hadits ini (hadits dari Abu Huroiroh di atas -ed) dengan Kitabul ‘Ilmi bahwa diserahkannya perkara kepada orang yang bukan ahlinya hanya akan terjadi ketika kebodohan merajalela dan diangkatnya ilmu (dari dada manusia -ed). Hal ini merupakan tanda dari sekian banyak tanda-tanda qiyamat”[7].

Sungguh Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengabarkan kepada kita bahwasanya akan terjadi suatu masa penuh penghianatan. Perkara-perkara yang terjadi nyata akan saling bertolak belakang dengan ketentuan syari’at, diantaranya adalah akan didustakannya orang yang jujur, dibenarkannya pendusta, orang yang amanah dinilai khianat dan orang yang khianat dinilai amanah. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits bahwa akan diangkat orang-orang rendahan merupakan tanda-tanda qiyamat.

[Diterjemahkan dengan penambahan seperlunya dari Kitab Asyroothu As Saa’ah oleh Yusuf bin Abdullah Al Waabil hal. 129-131 terbitan Dar Ibnu Jauziy cet. 7 tahun 1430 H]

 

Sigambal, Bulan Dzul Qo’dah  1434 H

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-



[1] An Nihaayah fii Ghoriibil Hadiits hal 460/2 dalam Asroothus Saa’ah oleh Syaikh Yusuf bin ‘Abdullah Al Wabil hal. 74 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh.

[2] Idem hal.77.

[3] Idem hal. 128.

[4] HR. Bukhori no. 6131 dan Ahmad no. 8714.

[5] HR. Bukhori no. 6675 dan Muslim no. 384.

[6] Lihat Qibasaat min Hadyii ar Rosul Al A’zhom Shollallahu ‘alaihi wa Sallam fi Al Aqooid hal. 66 oleh ‘Ali Asy Syarbajiy terbitan Darul Qolam Damaskus.

[7] Lihat Fathul Bariy hal. 143/I.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply