Diantara Hikmah Mengimani Allah Berada di Atas Langit

27 Feb

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Diantara Hikmah Mengimani Allah Berada di Atas Langit

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Akhir-akhir ini mulai tersebar kembali di sebagian kaum muslimin bahwa keyakinan bahwa Allah Subhana wa Ta’ala berada di atas langit beristiwa di atas ‘Arsy Nya adalah keyakinan batil, salah, menyamakan Allah dengan makhluk, dan keyakinan baru serta keyakinan wahabi. Sehingga ada semacam anggapan bahwa keyakinan ini tidak ada gunanya disampaikan dan dibahas kepada ummat Islam di nusantara. La Hawala wa La Quwwata Illa Billah. Padahal keyakinan ini merupakan keyakinan Para Nabi dan para shahabat serta para Imam Ahlu Sunnah wal Jama’ah dari masa ke masa. Silakan cek sekelumit di sini.

Namun yang akan kita sampaikan pada kesempatan ini adalah sekelumit buah meyakini dan mengimani bahwa Allah Subhana wa Ta’ala berada di atas langit. Agar kita dapat mengetahui bahwa keyakinan ini bukan hanya sebuah keyakinan yang berbuah teori semata namun juga dapat berpengaruh pada amal anggota badan kita. Sehingga amal tesebut lebih berkualitas dan bernilai di sini Allah ‘Azza wa Jalla.

Al Imam Adz Dzahabi Rohimahullah yang wafat tahun 738 H menulis sebuah kitab khusus yang membahas Kemahatinggian Allah Jalla fi ‘Ulaa yang beliau beri judul Al ‘Uluw li ‘Aliyyil ‘Azhim. Perlu kami sebutkan bahwa beliau ini merupakan seorang sejarawan, ahli hadits yang bermazhab Syafi’i dan para ulama bermazhab Syafi’i serta selain mazhab Syafi’i setelah beliau pun mengakui kapasitas keilmuan beliau Rohimahullah.

“Dari Abu Umamah, dia berkata, ‘Abu Ayyub berkata, “Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tinggal bersamaku selama sebulan. Aku mengintai amal beliau. Maka aku lihat/dapati ketika matahari telah tergelincir (masuk waktu zhuhur –pen), bila beliau ada urusan dunia maka beliau pun meninggalkannya. Jika beliau tertidur maka beliau seakan akan dibangunkan. Beliaupun berdiri mandi atau berwudhu kemudian sholat 4 roka’at. Beliau mengerjakannya dengan bersemangat dan berusaha memperbagusnya semaksimal kemampuannya. Lalu aku pun menanyakan hal itu kepada beliau. Beliaupun menjawab, “Sesungguhnya pintu-pintu langit dan pintu-pintu surga dibukakan pada waktu itu dan pintu-pintu tersebut tidak akan ditutup hingga sholat zhuhur ditunaikan. Maka aku suka bila amal-amal kebaikanku (sebisa mungkin maksimal -pen) diangkat menuju Robb ku pada saat itu

Adam bin Ayyas meriwayatkan hadits ini dalam Kitab Ats Tsawab dan sanadnya lemah”.

Syaikh Al Albani Rohimahullah mengatakan, “Hadits tersebut memiliki syahid (penguat) diantara hadits yang menguatkannya adalah hadits yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Saib, berikut lafazh ringkasnya.

إِنَّهَا سَاعَةٌ تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ فَأُحِبُّ أَنْ يَصْعَدَ لِي فِيهَا عَمَلٌ صَالِحٌ

“Sesungguhnya itu merupakan waktu dimana pintu-pintu langit dibuka. Maka aku suka amalan sholeh diangkat dari ku ke atasnya (langit -pen)”.

Hadits ini diriwayatan Tirmidzi no. 478 dan beliau menilainya hasan. Demikian juga Imam Ahmad no. 411/IV dan sanadnya shohih”.

Hikmahnya : Dalam hadits ini Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam terdorong, termotifasi untuk mempersembahkan amal kebaikan semaksimal mungkin agar menjadi amalan terbaik pada saat amalan tersebut diangkat ke langit menuju Allah Subhana wa Ta’ala. Bila seseorang tidak meyakini bahwa Allah Subhana wa Ta’ala berada di atas langit, beristiwa’ di atas ‘Arsy Nya lantas bagaimana mungkin contoh dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mampu memotifasinya untuk memperbagus amalnya ketika itu ??!!!!!

 

Imam Adz Dzahabi Rohimahullah juga membawakan hadits berikut ini.

“Dari Nu’man bin Basyir secara marfu tentang (sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam –pen.) kalimat kalimat-kalimat tashbih, tahmid dan tahlil yang berputar di sekitar ‘Arsy. Bagi masing-masing kalimat tersebut suara mendengung seperti dengunan lebah yang menyebutkan nama orang-orang yang membaca kalimat tersebut. Tidakkah salah seorang dari kalian suka namanya senantiasa disebut-sebut di sisi Ar Rohman (Allah) ?”

Syaikh Al Albani Rohimahullah mengatakan, “Hadits ini shohih, Ibnu Majah meriwatkannya no. 3809 demikian pula Al Hakim no. 503/I, dia mengatakan ‘Shohih sesuai kriteria Muslim. Penulis (Adz Dzahabi) pun menyetujuinya.

Hikmahnya : Dalam hadits ini Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa nama orang-orang yang berdzikr bertasbih, bertahmid dan bertahlil disebut-sebut sisi Allah ‘Azza wa Jalla, di sekitar ‘Arsy. Lantas bagaimana mungkin orang yang tidak meyakini Allah Subhana wa Ta’ala berada di atas langit, beristiwa’ di atas ‘Arsy Nya menjawab motifasi Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ini ??

[Terinspirasi dari Kitab Mukhtashor Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil ‘Azhim hal. 23 terbitan Al Maktab Al Islami, Beirut, Lebanon] silakan rujuk dan baca lanjutan kitab tersebut Insya Allah anda akan menyelami luasnya samudra ilmu tentang Kemahatinggian Allah.

 

Wahai orang yang sombong menerima kebenaran nyata, tidakkah engkau bertaubat dari kesombonganmu ??!!!!

 

 

Sigambal Setelah subuh, 30 Jumadil Awwal 1439 H / 16 Pebruari 2018 M.

 

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

Tulisan Terkait

Leave a Reply