Ciri Utama Wali Allah

5 Oct

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ciri Utama Wali Allah

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Beberapa hari belakangan ini ummat Islam di negeri kita ini tersibukkan dengan fenomena orang yang mampu mengklaim dirinya atau diklaim oleh pengikutnya mampu ‘mengadakan /menggandakan uang’. Orang tersebut dianggap sebagai seorang kanjeng, wali atau raja yang mampu memberikan solusi berbagai masalah.

Kami tergerak untuk memberikan sumbangsih pencerahan kepada saudara muslim lainnya agar tidak terkecoh dengan orang yang demikan di saat ini maupun di masa yang akan datang. Kalau sekarang masyarakat diiming-imingi pelipangandaan uangnya, boleh jadi kelak akan diiming-imingi jabatan, kesehatan, keturunan dan lain sebagainya.

Kami sadar kami bukanlah siapa-siapa, namun pada kesempatan ini kami hanya menukilkan sebuah kaidah besar yang Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan dalam Kitab Nya sebagai barometer utama untuk menilai apakah si fulan benar-benar wali Allah. Kaidah ini pun telah dijelaskan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam haditsnya dan disederhanakan oleh para ulama Rohimahumullah.

Kaidah tersebut terambil dari Firman Allah Subhana wa Ta’ala,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)

 “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa (menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangannya[1])”. (QS. Yunus [10] : 62-63)

Dan hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

إِنَّ اللهَ عَزَّوَجَلَّ قَالَ:مَنْ عَادَى لِيْ وَلِيًّا فَقَدْ بَارَزَنِيْ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ ( ِإِلَيَّ ) عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ ِإِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ يَتَقَرَّبُ ِإِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ (الَّتِيْ)يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ(الَّتِيْ)يَمْشِيْ بِهَا وَإِنْ سَأَلَني لَأُعْطَيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Barang siapa yang memusuhi wali Ku maka Aku umumkan perang dengannya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan dirinya kepada Ku lebih Aku cintai melebihi dengan sesuatu yang Aku wajibkan atas dirinya. Jika hamba Ku terus menerus mendekatkan dirinya dengan diri Ku dengan amalan nafilah/sunnah hingga Aku akan mencintainya. Jika Aku telah mencintainya maka Akulah pendengaran yang digunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dengannya dia memukul dan Aku adalah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada Ku sungguh Aku akan berikan. Jika dia memohon perlindungan kepada Ku maka Aku akan berikan perlindungan kepada Nya”[2].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) Rohimahullah mengatakan,

Ciri Utama Wali Allah 1

“Allah Ta’ala telah menjelaskan dalam Kitab Nya dan Sunnah Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya Allah memiliki wali-wali dari kalangan manusia dan Syaithon pun memiliki wali-wali. Allah pun telah membuat perbedaan antara wali-wali Ar Rohman (Wali Allah –pen) dan wali-wali syaithon. Allah Ta’ala berfirman,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)

 “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa (menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangannya)”. (QS. Yunus [10] : 62-63)”[3].

Kemudian beliau Rohimahullah membawakan banyak dalil dari Al Qur’an yang menunjukkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki wali-wali. Kemudian beliau juga membawakan dalil yang menujukkan bahwa syaithon pun memiliki wali. Salah satunya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

الَّذِينَ آَمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

“Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah sedangkan orang-orang yang kafir berperang di jalan thoghut. Maka perangilah wali-wali syaithon itu, karena sesungguhnya tipu daya syaithon itu lemah”. (QS. An Nisaa [4] : 76)”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah menyebutkan defenisi wali secara bahasa[4],

Ciri Utama Wali Allah 2

“Kewalian merupakan lawan dari permusuhan. Makna asal kewalian adalah kecintaan dan kedekatan. Sedangkan makna asal permusuhan adalah kebencian dan jauh. Ada juga yang berpendapat sesungguhnya kewalian disebut sebagai wali karena kecintaannya pada berbagai keta’atan yaitu mengikuti sesuatu yang dicintai. Namun pendapat pertama lebih tepat, yaitu kedekatan. Sehingga secara bahasa dikatakan,

هَذَا يَلِي هَذَا

artinya dekat darinya”.

Kemudian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah menyebutkan kaidah pokok untuk membedakan wali Allah dan wali syaithon.

Ciri Utama Wali Allah 3

“Jika anda telah mengetahui bahwa manusia diantara mereka ada yang menjadi wali-wali Ar Rohman (Allah) dan wali-wali syaithon. Maka wajib membedakan antara ini dan itu sebagaimana Allah dan Rosul Nya membedakan keduanya. Wali-wali Allah merekalah orang yang beriman dan bertaqwa sebagaimana firman Allah Ta’ala,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63)

 “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa (menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangannya)”. (QS. Yunus [10] : 62-63)”[5].

Lalu beliau mengatakan,

Ciri Utama Wali Allah 4

Wali-wali Allah yang paling utama adalah para nabi dan para nabi yang paling utama adalah para rosul. Rosul yang paling utama adalah rosul ulul ‘azmi merekalah Nuh, Ibrohim, Musa, ‘Isa dan Muhammad sholawatullah ‘alaihim ‘ajma’in”[6].

Terakhir kami nukilkan ucapan beliau Rohimahullah yang menjadi penjelas kaidah membedakan wali Allah dan wali syaithon.

Ciri Utama Wali Allah 5

Pembeda/barometer antara wali-wali Allah dan musuh-musuh Nya, seseorang tidak akan menjadi wali Allah melainkan (dari kalangan -pen) orang-orang yang beriman dengan (apa yang Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam diutus untuknya –pen) dan mengikutinya secara bathin dan zhohir. Sehingga siapa saja yang mengaku cinta Allah dan merupakan wali Nya namun tidak mengikuti petunjuk Nabi maka dia tidak termasuk dari wali-wali Allah bahkan dia adalah orang yang menentang Allah dari kalangan musuhNya dan wali-wali syaithon. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah : Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imron [3] : 31)”[7].

 

Kesimpulannya :

  1. Wali Allah adalah mereka yang benar-benar beriman kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan bertaqwa dengan menjalankan berbagai perintah Nya serta menjauhi larangannya.
  2. Kaidah utama membedakan wali Allah dan wali syaithon adalah lihat sejauh mana keimanan serta keta’atannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam secara lahir dan bathin.
  3. Sekadar iman dan keta’atannya kepada Allah dan Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam maka sekadar itulah tingkat kedekatannya/kewaliannya kepada Allah.
  4. Wali Allah yang paling utama adalah para Nabi terutama Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka lihatlah apakah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mampu mengadakan ataupun menggandakan uang ? Padahal di zaman beliau sudah dikenal Dinar dan Dirham !!!!!
  5. Bertobatlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla bagi anda yang sudah terlanjur teracuni virus wali syaithon. Allahu a’lam.

Setelah subuh, 4 Muharrom 1438 H – 05 Oktober 2016  M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Tafsir Jalalain hal. 225 terbitan Darus Salam, Riyadh, KSA.

[2] HR. Bukhori no. 6502.

[3] Lihat Al Furqon Baina Auliya Ar Rohman wa Auliya Asy Syaithon hal. 22 terbitan Maktabah Ar Rusyd, Riyadh, KSA.

[4] Idem hal. 27-28.

[5] Idem hal. 22.

[6] Idem hal. 28.

[7] Idem hal. 30.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply