Cinta Nabi, Cinta Sahabat Nabi

26 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Cinta Nabi, Cinta Sahabat Nabi

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah memilih  bagi NabiNya Sahabat-sahabat yang mulia. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

[Saling Mengingatkan dalam Agama]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِين

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Adz Dzariyat [51] : 55)

Syaikh Abdur Rohman bin Nashir As Sa’di Rohimahullah mengatakan ketika menafsirkan ayat ini[1], “Allah telah mengabarkan bahwa dzikir/peringatan akan memberikan manfaat bagi orang-orang yang beriman. Hal ini terjadi karena iman, khosyah (rasa takut karena ilmu yang dimiliki), keinginan untuk kembali kepada Allah dan keinginan untuk mengikuti keridhoan Allah yang ada pada diri mereka. Sehingga dengan adanya hal tersebut maka peringatan akan memberikan manfaat kepada diri mereka dan nasihat akan akan membekas pada diri mereka seperti sebagaimana mestinya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

فَذَكِّرْ إِنْ نَفَعَتِ الذِّكْرَى سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَى وَيَتَجَنَّبُهَا الأشْقَى

“Berikanlah peringatan karena (jika) peringatan itu bermanfaat. orang yang takut (kepada Allah dengan takut yang dilatarbelakangi ilmu) akan mendapat pelajaran. orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya”. (QS. Al A’laa [87] : 9-11)

Adapun orang yang tidak memiliki iman dan tidak memiliki kesiapan untuk menerima peringatan maka peringatan tidaklah bermanfaat memberikan manfaat baginya sebagaimana tanah yang berair lembab dan asin yang tidak akan bermafaat air hujan baginya. Dan orang-orang yang semisal ini sekiranya kita datangkan/sebutkan semua ayat kepadanya maka ia tidak akan beriman hingga apabila dia telah melihat adzab yang pedih”[2].

[Pengertian Sahabat Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam]

Al Hafidz Abul Fida’ ‘Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Ad Dimasyqiy Asy Syafi’i rohimahullah (terkenal dengan sebutan Ibnu Katsir) mengatakan,

)والصَّحَابِيُ: مَنْ رَأَى رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ حَالِ إِسْلَامِ الرَّاوِي، وَإِنْ لَمْ تَطُلْ صُحْبَتُهُ لَهُ، وَإِنْ لَمْ يَرْوِ عَنْهُ شَيْئاً.هَذَا قَوْلُ جُمْهُوِر الْعُلَمَاءِ، خَلَفاً وَسَلَفاً.(

“Sahabat adalah orang yang melihat Rosulullah shollallahu ‘alaihi was sallam dan ia dalam keadaan islam, walaupun masa kebersamaannya dengan Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam tidak dalam jangka waktu yang lama, walaupun ia tidak meriwayatkan satu haditspun. Inilah pengertian sahabat menurut mayoritas ulama terdahulu maupun belakangan”[3].

Sedangkan Al Hafidz Abul Fadhl Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar Al Asqolaniy Asy Syafi’i rohimahullah (terkenal dengan Ibnu Hajar Al Asqolaniy) mengatakan,

مَنْ لَقِيَ النَّبِيَ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَ عَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ مُؤْمِنًا بِهِ وَ مَاتَ عَلَى الْإِسْلَامِ وَلَوْ تَخَلَّلَتْ رِدَّةٌ فِيْ الْأَصَحِّ

“Orang yang bertemu Nabi Shollallahu Ta’ala ‘Alaihi wa ‘Ala Alihi wa Sallam dalam keadaan beriman kepadanya dan mati dalam keadaan islam walau diantarai dengan kemurtadan (yaitu diantara bertemu Nabi dan kematiannya dalam islam) menurut pendapat yang paling kuat”[4].

Secara umum inilah pengertian sahabat menurut para ulama’. Allahu a’lam pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah pendapat kedua adalah pendapat yang lebih kuat sehingga Abdullah bin Ummi Maktum dan Al Asy’ats bin Qois rodhiyallahu ‘anhuma.

[Keutamaan Para Sahabat]

Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam adalah orang yang paling kasih sayang kepada ummatnya dan orang yang mendapat kabar dari Allah tentang hal yang akan terjadi pun telah mempertegas hal ini. Seakan-akan beliau hendak mengabarkan kepada kita bahwa kelak ada sekelompok orang yang akan membenci para sahabatnya rodhiyallahu ‘anhum. Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Manusia yang paling baik adalah (manusia pada) kurun waktuku (para sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’un) kemudian orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in)”[5].

Jika kita menulusuri kitab-kitab hadits maka akan sangat banyak kita temukan hadits-hadits yang menunjukkan keutamaan para sahabat secara umum dan personal mereka secara khusus.

Seandainya tidak ada ayat yang lain dan hadits lainnya maka tidak berlebihan jika kita mengatakan cukuplah dalil dari ayat dan hadits di atas yang menunjukkan betapa agungnya kedudukan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam di sisi Allah ‘Azza wa Jalla, Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dan agama ini.

[Keyakinan Ahlus Sunnah tentang Para Sahabat]

Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i rohimahullah yang terkenal dengan sebutan Imam Syafi’i (150-204 H) mengatakan,

“Manusia yang paling utama setelah kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam adalah Abu Bakar kemudian ‘Umar kemudian ‘Utsman kemudian ‘Ali ridwanullah ‘alaihim[6].

Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah Al Azdiy Ath Thohawiy rohimahullah (239-321 H) mengatakan, “Kami (Ahlus Sunnah) mencintai para sahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. Kami tidak berlebih-lebihan salah seorang dari mereka dan tidak membenci salah seorang dari mereka. Kami membenci orang yang membenci mereka dan tidak menyebut kebaikan orang-orang yang membenci mereka ketika menyebut nama orang-orang yang membenci mereka. Kami tidaklah menyebut-nyebut sahabat melainkan hanya dengan kebaikan-kebaikan mereka. Mencintai mereka merupakan bagian dari agama, iman dan ihsan sedangkan membenci mereka merupakan bagian dari kekafiran, kemunafikan dan perbuatan melampaui batas yang ditentukan syari’at”[7].

Seorang ulama ahlus sunnah wal jama’ah Imam Abu Utsman Isma’il bin Abdir Rohman Ash Shobuni Asy Syafi’i rohimahullah (373-449 H) mengatakan,

“Para Ashabul Hadits (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) bersaksi dan meyakini bahwasanya sahabat Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam yang paling utama adalah Abu Bakar kemudian setelahnya ‘Umar kemudian setelahnya ‘Utsman kemudian setelahnya ‘Ali dan mereka semua adalah khulafaur rosyidun yang Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam sebutkan tentang kekhalifan mereka sebagaimana yang diriwayatkan Sa’id bin Jamhan dari Safinah (budak Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam) “Khilfah setelahku tiga puluh tahun……………….”[8].

Maka cukuplah perkataan imam-imam di atas menjadi penjelas bagi kita tentang bagaimana aqidah ahlus sunnah terhadap para sahabat.

[Mencintai Sahabat Nabi Merupakan Bagian Dari Agama]

Cinta dan keinginan merupakan asal/sebab setiap perbuatan/amal dan gerakan di alam semesta ini, kedua hal itulah yang mengawali segala perbuatan dan gerakan sebagaimana benci dan rasa ketidaksukaan adalah asal/sebab yang mengawali seseorang untuk meninggalkan dan menahan diri dari sesuatu[9]. Kecintaan yang ada padi kita haruslah kita batasi di atas kecintaan kepada Allah Azza wa Jalla dan Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

Berkaitan dengan pembahasan ini, maka kita Ahlus Sunnah mengatakan bahwa kecintaan kita kepada para Sahabat Nabi Rodhiyallahu ‘anhum merupakan bagian dari agama sebagaimana yang dikatakan oleh Ath Thohawy Rohimahullah di atas. Karena kecintaan semisal ini termasuk kecintaan kita kepada hal yang dicintai Allah Azza wa Jalla, yang mana kecintaan semisal ini hukumnya adalah wajib. Cinta inilah yang disebutkan oleh Ibnul Qoyyim Rohimahullah dengan istilah Mahabbatu maa yuhibbullah/mencintai perkara yang Allah cintai[10]. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang kecintaanNya dan keridhoannya kepada Para Sahanat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. (QS. Al Fath [48] : 18)

Ibnu Katsir Asy Syafi’i Rohimahullah mengatakan, “Allah Ta’ala telah mengabarkan kepada kita atas ridhoNya kepada orang-orang mukmin ketika mereka membai’at Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di bawah pohon. Dan telah disebutkan sebelumnya tentang isi penjanjiannya. Mereka (orang-orang mukmin tersebut) ketika itu berjumlah sekitar 1400 orang. Pohon yang menjadi tempat terjadinya bai’at ini berada di dataran Hudaibiyah”[11].

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang para sahabat yang menunjukkan betapa kedudukan mereka di sisi Allah ‘Azza wa Jalla,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshor (yaitu para sahabat Perang Badar atau Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam seluruhnya)[12] dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At Taubah [9] : 100)

Demikian juga sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Manusia yang paling baik adalah (manusia pada) kurun waktuku (para sahabat), kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’un) kemudian orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in)”[13].

Syaikh Sholeh Al Fauzan hafidzahullah mengatakan berkaitan dengan hadits di atas,

“Mereka (para Sahabat) adalah orang-orang yang berada dalam kurun terbaik ummat ini karena keutamaan yang ada pada mereka berupa kebersamaan dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka mencintai mereka termasuk bagian dari keimanan sedangkan membenci mereka adalah bagian dari kemunafikan”.

Kemudian beliau mengatakan, “Maka wajib bagi seluruh kaum muslimin secara umum mencintai seluruh sahabat Nabi dengan dalil nash ayat[14] karena :

  1. Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai mereka,
  2. kecintaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada mereka,
  3. mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah,
  4. mereka adalah orang-orang yang menyebarkan ke seluruh penjuru dunia,
  5. mereka adalah orang-orang yang menolong Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,
  6. beriman kepada Beliau dan apa yang diturunkan kepadanya serta
  7. mengikuti jalan Beliau.

Maka inilah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah”[15].

 

Sigambal, Setelah Zhuhur 27 Robi’ul Akhir 1433 H / 20 Maret 2012 M

 

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-


[1] Dengan perubahan redaksi seperlunya.

[2] Lihat Taisir Karimir Rohman oleh Syaikh Abdur Rohman bin Nashir As Sa’di hal. 777 terbitan Dar Ibnu Hazm, Beirut, Lebanon.

[3] Lihat Ba’itsul Hatsits oleh Ibnu Katsir dengan tahqiq Syaikh Ali bin Hasan Al Halabiy hal. 491/I terbitan Maktabah Ma’arif Riyadh.

[4] Lihat An Nukat ‘ala Nuzhatun Nadzor oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy dengan tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hal. 149 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh.

[5] HR. Bukhori no. 3651 dalam Bab Keutamaan Para Sahabat Nabi.

[6] Lihat Manaqib Asy Syafi’i oleh Al Baihaqi hal. hal. 433/I.

[7] Lihat Syarh Aqidah Thohawiyah oleh Ibnu Abil ‘Izz dengan tahqiq DR. ‘Abdullah At Turkiy dan Syu’aib Al Arnauth ha. 704/II, terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut Lebanon.

[8] Lihat Aqidatus Salaf wa Ashabul Hadits oleh Abu ‘Utsman Ash Shobuni dengan tahqiq DR. Nashir bin ‘Abdur Rohman hal. 289 terbitan Darul ‘Ashimah, Riyadh, KSA.

[9] Lihat Mawaridul Aman Al Muntaqo min Ighotsatil Lahfan oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah hal. 325 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[10] Lihat Ad Daa’u wad Dawaa’ oleh Ibnul Qoyyim rohimahullah dengan tahqiq oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah hal. 271 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA atau silakan lihat di link berikut (https://alhijroh.com/adab-akhlak/cintah-cinta-takut-dan-harap/)

[11] Lihat Tafsir Ibnu Katsir hal. 513 dengan tahqiq oleh Syaikh Saami Muhammad Salamah terbitan Daruth Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[12] Lihat Tafsir Jalalain

[13] HR. Bukhori no. 3651 dalam Bab Keutamaan Para Sahabat Nabi.

[14] Diantaranya adalah firman Allah dalam Surat Al Fath : 17 dan 29. (pen.)

[15] Lihat At Ta’liqod Al Mukhtashoroh ‘ala Matni Al Aqidah Ath Thohawiyah oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hal. 226 terbitan Dar ‘Ashimah, Riyadh, KSA.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply