Betapa Tidak Benarnya Berdo’a Kepada Selain Allah

25 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Betapa Tidak Benarnya Berdo’a Kepada Selain Allah

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Jika kita melihat Al Qur’an akan sangat banyak kita temukan ayat-ayat Allah yang berhubungan dengan do’a. Demikian pula sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam demikian banyak yang berhubungan dengan do’a baik yang mengabarkan lafadz do’a para Nabi ataupun keutamaan do’a. Semisal Firman Allah ‘Azza wa Jalla menceritakan do’a bapaknya para Nabi yaitu Ibrohim ‘Alaihissalam,

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS : Al Baqoroh [2] : 127).

Demikian pula hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a adalah ibadah”[1].

Oleh sebab itulah tidak bosan-bosannya penulis mengingatkan kepada diri penulis dan pembaca sekalian tentang agungnya ibadah yang satu ini. Diantara hal-hal yang hendaknya kita tanamkan dalam diri kita agar kita senantiasa bersemangat untuk senantiasa berdo’a kepada Allah adalah sebagai berikut.

[Do’a adalah Salah Satu Ibadah yang Paling Agung]

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah betapa banyaknya hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam demikian juga Al Qur’an Al Karim yang mengabarkan do’a para Nabi dari nenek moyang kita yaitu Nabi Adam ‘Alaihissalam hingga Nabi yang paling mulia Muhammad Shollallahu ‘alaihi was sallam.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“(Ucapan Nabi Adam dan Hawa) Wahai Robb kami, sungguh kami telah dzolim terhadap diri kami sekiranya Engkau tidak mengampuni kami niscaya kami akan benar-benar menjadi orang-orang yang merugi”. (QS : Al A’rof [7] : 23).

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah wahai Muhammad, wahai Robbku tambahkanlah kepadaku ilmu”. (QS : Thoha [20] : 114).

[Berdo’alah hanya kepada Allah wahai kaum muslimin]

Sebuah fenomena yang sering kita dapati pada daerah-daerah di Negara kita adalah kaum muslimin berdo’a kepada para wali yang sudah mati, mereka mendatangi kubur-kubur mereka walau tempat tinggalnya jauh dari kuburan tersebut. Jika kita tanyakan kepada mereka mengapa melakukan demikian maka kebanyakan dari mereka menjawab para wali itukan orang soleh maka do’a mereka lebih di dengar Allah dari kita[2]. Maka bukankah Allah Dzat Yang Maha Tahu telah berfirman yang tiada keraguan padanya,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata) : “Kami tidak menyembah/berdo’a kepada mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya”. Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan berbuat kekufuran (karena berdo’a kepada selain Allah)[3]”. (QS : Az Zumar [39] : 3).

[Orang kafir saja berdo’a kepada Allah….!!!]

Diantara dalil yang menunjukkan betapa bathilnya berdo’a kepada selain Allah adalah orang kafirpun berdo’a kepada Allah disamping berdo’a kepada selain Allah Subahanahu wa Ta’ala. Tidakkah kita membaca firman Allah,

فَإِذَا رَكِبُوا فِي الْفُلْكِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ إِذَا هُمْ يُشْرِكُونَ

“Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan do’a[4] kepada-Nya. Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)”. (QS : Al Ankabut [29] : 65).

Imam Para Ahli Tafsir Ibnu Jarir Ath Thobari rohimahullah menyebutkan yang dimaksud dengan firman Allah (رَكِبُوا) mereka berlayar adalah ketika mereka orang-orang musyrik berlayar[5]. Jika do’a mereka saja Allah kabulkan lalu mengapa mengambil perantara dalam do’a kepada para wali yang telah mati…??!!!!

[Orang yang berdo’a kepada selain Allah berarti ia telah beribadah kepadanya]

Dalil akan hal ini adalah Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam mengatakan,

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a adalah ibadah”[6].

Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah menyebutkan hadits Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam menunjukkan doa merupakan ibadah dan ibadah merupakan doa[7].

Sehingga dari keterangan beliau ini dapat kita simpulkan bahwa orang yang berdo’a kepada selain Allah berarti ia telah beribadah/menghambakan diri kepada selain Allah.

Mudah-Mudahan kita dapat mengambil faidah dari nukilan di atas sehingga kita dapat  menjadi hamba Allah yang benar-benar bertauhid kepada Allah dan terbebas dari kemusyrikan, Amin.

Sigambal,

Ketika Matahari telah tergelincir,

Aditya Budiman bin Usman

18 Shofar 1431 H/ 25 Januari 2011 M.


[1] HR. Ahmad no. 267/IV, At Tirmidzi no. 3247, hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani dalam Shahih Adabul Mufrod no. 1757.

[2] Sehingga perbuatan tersebut menjadi perbuatan kemusyrikan ashghor, Allahu a’lam.

[3] Lihat Tafsir Jalalain.

[4] Idem.

[5] Lihat Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an oleh Muhammad bin Jarir Ath Thobari dengan tahqiq Syaikh Ahmad Muhammad Syakir hal. 60/XX, terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut.

[6] HR. Ahmad no. 267/IV, At Tirmidzi no. 3247, hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani dalam Shahih Adabul Mufrod no. 1757.

[7] Lihat ceramah beliau yang berjudul Ad Du’a wa Atsaruhu.

Tulisan Terkait

Leave a Reply