Betapa Lemahnya Akal Terhadap Shifat Allah

23 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Betapa Lemahnya Akal Terhadap Shifat Allah

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Sebagian kaum muslimin ketika mendengar bahwa Allah Subhana wa Ta’ala memiliki shifat tertentu yang dikhabarkan oleh Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam merasa alergi atau minimal aneh. Lebih parah lagi tak sedikit pula menggelari orang yang menyampaikan shifat tersebut sebagai ‘Wahhabi’. Digambarkan seolah-olah ‘Wahhabi’ ini ingin menyamakan Allah ‘Azza wa Jalla dengan makhluk Nya. Sehingga jadilah sebagian ummat Islam marah dan mengecam keyakinan tersebut. Padahal apa yang disampaikan itu hanyalah sebuah turuan dari tafsiran Firman Allah Subhana wa Ta’ala,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia lah yang Maha Mendengar dan Melihat”. (QS. Asy Syuro  [42] : 11)

Berikut ini kami nukilkan sebuah kisah yang dicantumkan oleh Abu Utsman Isma’il bin ‘Abdurrohman Ash Shobuni Asy Syafi’i Rohimahullah (wafat 449 H). Namun di sini kami potong rantai sanadnya agar tidak terlalu panjang. Bagi anda yang ingin melihatnya silakan merujuk kitab aslinya sebagaimana sumber yang kami cantumkan.

Beliau Rohimahullah mencantumkan,

Betapa Lemahnya Akal Terhadap Shifat Allah 1

“(Muhammad bin Salaam –pen) berkata, ‘Aku pernah bertanya kepada Abdullah bin Al Mubarok tentang turunnya (Allah –pen) pada malam nisfu sya’ban. Maka ‘Abdullah bin Al Mubarok menjawab, “Wahai orang yang lemah ! Setiap malam Dia (Allah) turun”. Seorang laki-laki bertanya kepada beliau, “Wahai Abu Abdir Rohman (Kunyah ‘Abdullah bin Al Mubarok), bagaimana Dia turun ? Apa tidak kosong tempat tersebut (mungkin yang dimaksud Arsy –pen) dari Nya !” Maka beliaupun menjawab, “Dia turun sesuai keinginan Nya (Jangan tanyakan bagaimananya -pen)”. Dalam riwayat lain tentang cerita ini disebutkan bahwa ‘Abdullah bin Al Mubarok berkata kepada laki-laki tersebut, “Jika datang hadits Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam kepadamu maka serahkanlah kepada hadits tersebut (tunduk, manut –pen)”.

Sepenggal biografi singkat ‘Abdullah bin Mubarok Rohimahullah.

Nama beliau adalah ‘Abdullah bin Mubarok bin Wadhih Al Hanzholiy. Kunyahnya Abu Abdir Rohman. Seorang Imam, Hafizh dan ulama di zamannya. Dilahirkan pada tahun 118 atau 119 Hijriyah. Adz Dzahabiy Rohimahullah menggelarinya dengan Fakhrul Mujahidin (Kebanggaan para Mujahid), Qudwatul Zahidin (teladan orang-orang yang zuhud). Imam Ahmad Rohimahullah berkata tentangnya, “Tidak ada orang di zaman Ibnul Mubarok yang lebih giat menuntut ilmu dibandingkan beliau”. ‘Abdullah bin Al Mubarok wafat pada 181 Hijriyah.

Faidah :

Mari imani nama dan shifat Allah ‘Azza wa Jalla sesuai apa yang disebutkan pada Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tanpa mengotak-atiknya. Inilah keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah termasuk diantaranya ulama yang bermazhab syafi’i. Allahu a’lam.

 

[Silakan Rujuk Kitab Aqidatus Salaf wa Ashabul Hadits Oleh Abu Utsman Ash Shobuni Rohimahullah hal. 175 dan 195-196 terbitan Darul ‘Ashomah, Riyadh, KSA]

 

 

19 Dzul Qo’dah 1437 H, 21 Agustus 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply