Beralasan Dengan Mesjid Nabawi Untuk Melegalkan Membangun Mesjid Di Kuburan

5 Feb

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Beralasan Dengan Mesjid Nabawi Untuk Melegalkan Membangun Mesjid Di Kuburan

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Pernahkah anda mendengar argumen orang yang melegalkan pembangunan mesjid yang menyatu bersama kuburan dengan keadaan Mesjid Nabawi dan Makan Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam ?? Bagaimana cara menjawab syubhat itu ?

 Pertanyaan :

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah pernah ditanya[1],

Beralasan Dengan Mesjid Nabawi Untuk Melegalkan Membangun Mesjid Di Kuburan1

“Bagaimana cara menjawab syubhat para penyembah qubur yang berdalil dengan pemakaman Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam di Mesjid Nabawi ?”

Jawab :

Beliau Rohimahullah menjawab,

Beralasan Dengan Mesjid Nabawi Untuk Melegalkan Membangun Mesjid Di Kuburan2

“Jawaban dari hal itu dapat dari berbagai sisi :

Pertama, sesungguhnya Mesjid Nabawi tidaklah dibangun di atas / pada kubur Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam melainkan dibangun di masa Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam masih hidup”.

Beralasan Dengan Mesjid Nabawi Untuk Melegalkan Membangun Mesjid Di Kuburan3

Kedua, sesungguhnya Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam tidak dikuburkan pada mesjid Nabawi, sehingga kita tidak dapat mengatakan bahwa hal tersebut menjadi dalil bolehnya mengkuburkan orang sholeh di mesjid. Bahkan beliau dikuburkan di rumah beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam.

Beralasan Dengan Mesjid Nabawi Untuk Melegalkan Membangun Mesjid Di Kuburan4

Ketiga, sesungguhnya kebijakan memasukkan rumah Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam termasuk kamar ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha ke bangunan mesjid bukanlah sebuah hal yang disepakati para shahabat Rodhiyallahu ‘anhum. Bahkan hal itu terjadi setelah adanya perdebatan (bantahan –pen.) dari mayoritas mereka. Kebijakan itu terjadi sekitar tahun 94 Hijriyah. Sehingga hal tesebut bukanlah suatu hal yang diperbolehkan para shahabat secara umum. Bahkan sebagian mereka menentangnya, diantaranya adalah Sa’id bin Al Musayyib Rodhiyallahu ‘anhu”.

Beralasan Dengan Mesjid Nabawi Untuk Melegalkan Membangun Mesjid Di Kuburan5

Keempat, sesungguhnya kubur Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam tidak berada di mesjid walaupun setelah disertakan. Karena kubur beliau berada di hijr/bagunan yang tersendiri dari mesjid. Sehingga mesjid bukanlah dibangun di atasnya. Oleh sebab itu tempat ini dikelilingi tiga dinding dan dijadikan berbentuk segitiga sehingga arahnya terpaling dari qiblat. Tiangnya yang sebelah kiri mencegah seseorang untuk menghadap qiblat apabila dia hendak sholat/berdo’a di situ. Dengan hal ini terbantahkanlah syubhat dan alasan ahli kubur”.

 

Sigambal, Setelah Isya

28 Robi’ul Awwal 1436 H/ 19 Januari 2015 M.

Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Fataawaa Arkaanil Islaam oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 165-166 Terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply