Beragam Metode Turunnya Wahyu

26 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Beragam Metode Turunnya Wahyu

 

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepadaDzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Tak pelak lagi bahwasanya mu’jizat terbesar Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam adalah diturunkannya Al Qur’an. Bahkan Al Qur’an merupakan mu’jizat yang hingga orang-orang yang hidup belakangan sekalipun dapat menelaahnya di setiap zaman ketika mereka membacanya. Hingga akhirnya mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Al Qur’an Kalamullah tersebut adalah sesuatu yang benar. Al Qur’an bukanlah perkataan manusia, karenanya Allah Subhana wa Ta’ala menantang orang-orang yang meragukannya untuk membuat yang [1] semisal dengannya, [2] sepersepuluhnya saja, atau bahkan [3] satu surat saja semisal yang terdapat dalam Al Qur’an[1].

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar”. [QS. Al Baqoroh (2) : 23].

Demikian agungnya Al Qur’an sehingga sudah selayaknya seorang muslim disamping mempelajari isi kandungan Al Qur’an juga mengetahui bagaimana turunnya wahyu kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Saking pentingnya hal ini Imam Bukhori Rohimahullah membuka kitab Shahihnya dengan judul Kitab Bada’iul Wahyi ‘Kitab Permulaan Wahyu’.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan dalam Zaadul Ma’ad[2],

وكمل الله له من مراتب الوحي مراتبَ عديدة:

إحداها: الرُّؤيا الصادقة، وكانت مبدأَ وحيه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وكان لا يرى رؤيا إلا جاءت مثل فلق الصبح.

“Allah menyempurnakan kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam wahyu dalam beberapa cara/metode.

Pertama : Melalui mimpi yang benar. Ini merupakan metode turunnya wahyu pertama kepada beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau tidaklah bermimpi melainkan datang seperti terbitnya subuh (dalam artian sangat jelas –ed.).

الثانية: ما كان يُلقيه الملَكُ في رُوْعه وقلبه من غير أن يراه، كما قال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ في رُوعي أَنّه لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتكْمِلَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا في الطَّلَبِ، وَلاَ يَحْمِلَنّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ عَلَى أَن تَطْلُبُوهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ، فَإِنَّ مَا عِنْدَ اللهِ لاَ يُنَالُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ”.

Kedua : Berupa sesuatu yang dibisikkan malaikat pada ruh dan hati beliau tanpa dapat beliau lihat. Hal ini sebagaimana sabda beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ في رُوعي أَنّه لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتكْمِلَ رِزْقَهَا، فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا في الطَّلَبِ، وَلاَ يَحْمِلَنّكُمُ اسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ عَلَى أَن تَطْلُبُوهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ، فَإِنَّ مَا عِنْدَ اللهِ لاَ يُنَالُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

“Sesungguhnya Ruhul Quds (Malaikat Jibril alaihissalam) menghembuskan/membisikkan ke dalam hatiku bahwa jiwa seseorang tidak akan mati hingga sempurna rizkinya. Maka bertaqwalah kepada Allah dan perindahlah cara mencari rizki. Janganlah keterlambatan rizki membuat kalian mencarinya dengan cara bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya rizki yang ada di sisi Allah tidak dapat diraih melainkan dengan keta’atan kepada –Nya”[3].

الثالثة: أَنّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كان يتمثَّلُ له المَلَكُ رجلاً، فيُخاطبه حتى يَعِيَ عنه ما يقول له، وفي هذه المرتبة كان يراه الصحابة أحياناً.

Ketiga : Biasanya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam didatangi malaikat yang menyerupakan dirinya sebagai seorang laki-laki. Kemudian malaikat tersebut mengajak beliau bicara hingga beliau memahami dengan baik apa yang disampaikan kepadanya. Terkadang para shahabat pun dapat melihat malaikat tersebut[4].

الرَّابعة: أَنّه كان يأتيه في مثل صَلْصَلَةِ الجرس، وكان أَشدَّه عليه فَيَتَلَبَّسُ به الملكُ حتى إن جبينه ليتفصد عرقاً في اليوم الشديد البرد وحتى إن راسلته لتَبْرُكُ به إلى الأرض إذا كان راكبها ولقد جاءه الوحيُ مرةً كذلك، وفخذه على فخذ زيد بن ثابت، فثقلت عليه حتى كادت ترضُّها.

Keempat : Terkadang wahyu mendatangi beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam seperti gemerincing lonceng diikuti adanya malaikat yang menyampaikan wahyu secara samar. Metode ini merupakan metode yang paling berat hingga kening beliau berkerut dan bersimbah peluh padahal itu terjadi pada saat cuaca yang sangat dingin. Hingga mengakibatkan onta beliau tersimpuh di tanah apabila beliau sedang menungganginya. Sungguh wahyu datang sekali dengan cara semisal ini ketika beliau berada di pangkuan Zaid bin Tsabit Rodhiyallahu ‘anhu. Maka beliaupun merasakan beban Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam demikian berat hingga membuat pahanya remuk.

الخامسة: أنه يَرَى المَلَكَ في صورته التي خلق عليها، فيوحي إليه ما شاء الله أن يُوحِيَه،وهذا وقع له مرتين، كما ذكر الله ذلك في سورة [النَّجم: 7-13].

Kelima : Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melihat malaikat dalam rupa aslinya sebagaimana Allah ciptakan. Kemudian diwahyukanlah kepada beliau sebagaimana yang Allah kehendaki. Hal ini terjadi dua kali sebagaimana Allah sebutkan dalam surat An Najm ayat 7 dan 13. (berikut kami cantumkan ayat tersebut,

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى . عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى . ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى . وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى .

“Sesungguhnya hal itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedang dia berada di ufuk yang tinggi”. [QS. An Najm (53) : 4-7].

Dan juga,

وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain”.[QS. An Najm (53) : 13].

السادسة: ما أوحاه الله وهو فوق السماواتِ ليلَة المعراج مِن فرض الصلاة وغيرها.

Keenam : Berupa wahyu yang diwahyukan kepada beliau ketika beliau berada di atas langit pada malam mi’roj ketika diwajibkannya sholat dan lainnya.

السابعة: كلام الله له منه إليه بلا واسطة مَلَكٍ، كما كلّم اللهُ موسى بن عِمران، وهذه المرتبة هي ثابتة لموسى قطعاً بنص القرآن، وثبوتها لنبينا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هو في حديث الإِسراء.

Ketujuh : Berupa Kalamullah/ucapan Allah kepada beliau langsung tanpa perantara malaikat. Hal ini terjadi sebagaimana Allah berbicara kepada Nabi Musa bin ‘Imroon. Metode ini telah sah terjadi pada Nabi Musa ‘alaihissalam secara pasti sebagaimana telah jelas di dalam Al Qur’an. Sedangkan terjadi pada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam secara pasti sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang peristiwa ‘Isroo’.

وقد زاد بعضهم مرتبة ثامنة وهي تكليم الله له كفاحاً من غير حجاب، وهذا على مذهب من يقول: إنه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رأى ربَّه تبارك وتعالى، وهي مسألة خلاف بين السلفِ والخلف، وإن كان جمهور الصحابة بل كُلُّهم مع عائشة كما حكاه عثمان بن سعيد الدارمي إجماعاً للصحابة.

Sebagian ulama menambahkan metode turunnya wahyu ini menjadi delapan yaitu Allah berbicara kepada beliau tanpa adanya hijab. Pendapat ini dibangun oleh ulama yang berpendapat bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melihat Robbnya Tabaroka wa Ta’ala. Namun hal ini merupakan permasalahan yang diperselisihkan baik kalangan ulama salaf/terdahulu maupun kholaf/belakangan. Walapun mayoritas shahabat bahkan semuanya termasuk ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anhum sebagaimana yang diriwayatkan oleh ‘Utsman bin Sa’id Ad Darimiy adanya ijma’ para shahabat tentang hal itu”. Namun pendapat terakhir ini dinilai tidak benar oleh penulis Ar Rokhiqil Makhtum Syaikh Shofiyurrohman Al Mubarokfuriy.

Mudah-mudahan bermanfaat untuk mempertebal iman bagi penulis dan pembaca sekalian.

 

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-

 

[1] Diringkas dari Al Irsyad oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hal. 189-190 terbitan Darul Minhaj, Riyadh, KSA.

[2] Hal. 77-79/I, terbitan Mu’asasah Risalah tahun 1428 H/ 2007 M.

[3] HR. Thobroni 166/VIII, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 26-27/X. Hadits ini dinilai shohih karena banyak jalur penguatnya oleh pentaqiq Zaadul Ma’ad.

[4] Sebagaimana dalam hadits ‘Umar bin Khoththob Rodhiyallahu ‘anhu dalam permulaan shohih Muslim no. 1 dan 8. (ed.)

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply