Bahaya Sebuah Pohon Sakti

3 Oct

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bahaya Sebuah Pohon Sakti

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Beberapa waktu yang lalu terjadi sebuah musibah di daerah tempat kami tinggal, tempatnya sebuah SPBU meledak sehingga menewaskan beberapa orang karyawan dan melukai banyak orang. Namun yang menjadikan peristiwa ini lebih menyedihkan lagi adalah sebagian orang mengaku melihat arwah si korban gentayangan dan percaya bahwa arwah tersebut bergentayangan karena tidak dilakukan ritual tertentu di tempat kejadian perkara. Menurut kami keyakinan semisal tidak hanya ada di daerah kami namun hampir merata di penjuru negeri tercinta ini padahal keyakinan semisal adalah keyakinan kemusyrikan. Hal inilah yang mendorong kami untuk menulis.

[Pentingnya Ilmu Tentang Tauhid dan Syirik]

Tauhid merupakan tujuan mengapa Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan seluruh jin dan manusia sebagaimana firmanNya,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku (Allah) menciptakan seluruh jin dan seluruh manusia melainkan agar mereka menyembahku semata (mentauhidkan Aku)”. [ QS. Adz Dzariyat (51) : 56][1]

Tak hanya di situ Allah juga memerintahkan kita untuk mempelajari tauhid (kalimat Laa Ilaaha Illallah) sebagaimana dalam firmannya,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Ketahuilah (pelajarilah) bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah”. [ QS. Muhammad (47) : 19]

Satu hal yang tidak perlu diragukan lagi bahwa kebalikan dari tauhid adalah syirik. Demikian juga tidak mungkin seseorang menjadi orang yang bertauhid melainkan harus meninggalkan syirik. Oleh karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala mengaitkan kedua hal ini dalam firmanNya,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا

“Dan sembahlah Allah (tauhidkanlah Allah) semata dan janganlah mensyarikatkannya (berbuat kemusyrikan terhadapnya) dengan suatu apapun”. [ QS. Al Isro’ (4) : 36]

[Tidak Perlu Belajar Tauhid Karena Sudah Bersyahadat….??!!!]

Inilah bencana yang amat besar di sekitar kita pada masa ini. Sebagian orang dengan percaya dirinya mengatakan perkataan demikian. Maka kita katakan kepadanya apakah anda tidak pernah membaca hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam yang diriwayatkan oleh sahabat yang mulia Abu Waqid Al Laitsy[2]? Beliau rodhiyallahu ‘anhu mengatakan,

خَرَجْنَا مَعَ رُسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى حُنَيْن، ونَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدِ بِكُفْرٍ،  وَلِلْمُشْرِكِيْنَ سِدْرَةٌ يَعْكُفُوْنَ عِنْدَهَا وَيَنُوْطُوْنَ بِهَا أَسْلِحَتَهُمْ، يُقَالُ لَهَا: ذَاتَ أَنْوَاطٍ، فَمَرَرْنَا بِسِدْرَةٍ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْواطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “اللهُ أَكْبَرُ، إِنَّهَا السُّنَنُ، قُلْتُمْ- وَالَّذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ- كَمَا قَالَتْ بَنُوْ إِسْرَائِيْلَ لِمُوْسَى: {اجْعَلْ لَنَا إِلَهاً كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ} لَتَرْكَبُنَّ سُنَنَ مِنْ قَبْلِكُمْ”

“Kami pergi bersama Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam menuju Hunain[3]. Kami baru saja meninggalkan agama kekafiran (baru masuk islam). Orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka beri’tikaf di sekitarnya (dengan tujuan tabarruk) dan mereka menggantungkan senjata-senjata mereka pada pohon tersebut. Pohon tersebut namanya Dzatu Anwath. Kemudian kami melalui pohon tersebut kemudian kami mengatakan, “Wahai Rosulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana orang musyrik mempunyai Dzatu Anwath”. Lalu Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan, “Allahu Akbar, sesungguhnya ini adalah cara beragamanya kaum musyrikin. Aku katakan kepada kalian, demi Allah yang jiwaku berada di tangannya apa yang kalian minta adalah sebagaimana yang  diminta oleh Bani Isro’il kepada Musa”. Lalu beliau membaca firman Allah, “Buatlah untuk kami sebuah sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan. Musa menjawab, “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang bodoh terhadap tauhid”. [ QS. Al A’rof (7) : 138]. Sungguh kalian (umat setelah kalian) benar-benar akan meniru cara beragamanya mereka”.[4]

Sekilas penjelasan tentang hadits ini

(نَحْنُ حُدَثَاءُ عَهْدِ بِكُفْرٍ) : Kami baru saja meninggalkan agama kekafiran (baru masuk islam). Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan mengatakan, “Maksud potongan hadits ini adalah bahwa mereka baru masuk islam. Para sahabat tersebut ingin menjelaskan udzur mereka atas peristiwa yang terjadi pada mereka. Udzur mereka tersebut adalah kebodohan dan mereka belumlah memahami islam sebagaimana para sahabat lainnya yang bersama Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam yang mereka itu adalah ahli ilmu yang betul-betul memahami aqidah dan mempelajarinya”[5]. Sedangkan penjelasan lain yang terdapat dalam kitab Taisir Azizil Hamid[6], “(Potongan) hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat selain mereka mengetahui bahwa hal itu terlarang.

أَنَّ الْمُنْتَقِلَ مِنَ الْبَاطِلِ الَّذِيْ اعْتَادَهُ قَلْبُهُ لَا يَأْمَنُ أَنْ يَكُوْنَ فِيْ قَلْبِهِ بَقِيَةٌ مِنْ تِلْكَ الْعَادَاتِ الْبَاطِلَةِ

Sesungguhnya orang yang pindah/hijrah dari kebatilan yang sebelumnya ia (sering) melakukannya tidaklah aman dan di dalam hatinya ada sisa-sisa dari kebiasaan yang bathil tersebut”.

Jika demikian apakah orang-orang selain mereka para sahabat yang mulia masih berani mengatakan kita tidak perlu belajar tauhid lagi karena sudah mengucapkan kalimat tauhid ?! Laa Hawla wa Laa Quwwata illa Billah.

(ذَاتَ أَنْوَاطٍ) : Dzatu Anwath. Disebut demikian karena banyaknya senjata yang digantungkan padanya dengan tujuan tabarruk mencari berkah[7]. Al Imam Abu Bakr Ath Thorthusiy yang merupakan salah seorang imam dalam mazhab Malikiyah mengatakan, “Maka perhatikanlah saudaraku rohimakumullah di mana pun kalian menjumpai pohon yang manusia mengagungkannya, meminta kesembuhan di sekitarnya, ataupun mencari pertolongan/syafa’at darinya maka pohon tersebut termasuk Dzatu Anwath maka tebanglah”[8].

(فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اجْعَلْ لَنَا ذَاتَ أَنْواطٍ كَمَا لَهُمْ ذَاتُ أَنْوَاطٍ) : Kami mengatakan, “Wahai Rosulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana orang musyrik mempunyai Dzatu Anwath”. Syaikh Sulaiman bin Abdullah mengatakan, “Para sahabat yang baru masuk islam itu mengira bahwa perkara ini (meminta dibuatkan Dzatu Anwath untuk tabarruk) adalah perkara yang Allah mencintainya. Maka yang mereka inginkan adalah mendekatkan diri mereka dengan Allah melalui hal itu. Bukanlah yang mereka maksudkan untuk menyelisihi (petunjuk Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) karena mereka adalah orang yang sangat mengagungkan beliau walaupun mereka baru saja masuk islam”[9].

Pada potongan hadits ini terkandung pelajaran adab pada sahabat rodhiyallahu ‘anhum yang mana mereka tidaklah mendahulukan anggapan baik mereka dalam masalah ini melainkan mereka kembalikan kepada Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam. Maka demikianlah sikap seorang muslim apabila ia mengira sesuatu merupakan sebuah kebaikan maka hendaklah ia tidak tergesa-gesa melakukan ibadah berdasarkan anggapan baik tersebut melainkan ia kembalikan kepada Al Qur’an dan As Sunnah serta bertanya kepada para ulama yang bisa dipercaya ilmunya[10].

(اللهُ أَكْبَرُ) : Allahu Akbar. Dalam riwayat lain disebutkan Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam mengucapkan (سُبْحَانَ الله) namun maksud kedua lafadz ini adalah sama yaitu mengagungkan Allah dan menyucikan Allah dari kesyirikan. Dalam kalimat-kalimat ini juga terkandung makna heran[11] (dalam konteks marah/negatif dan bukanlah kagum dalam hal positif).

(إِنَّهَا السُّنَنُ) : Sesungguhnya ini adalah cara beragamanya kaum musyrikin. Hadits ini adalah dalil bahwa salah satu makna sunnah adalah cara beragama sehingga yang dimaksudkan Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam adalah cara beragama dan bukan istilah sunnah dalam masalah fikih yang berarti dianjurkan. Allah a’lam.

Potongan hadits ini juga menunjukkan kepada kita bahwa sebab mereka terjatuh pada keinginan untuk mempunyai Dzatu Anwath adalah keinginan untuk menyerupai orang-orang musyrik (tasyabbuh). Bahkan sebab pertama yang menyebabkan terjadinya kesyirikan di Mekkah adalah karena sebab menyerupai orang kafir dalam masalah ibadah mereka. Sebagaimana yang dilakukan oleh ‘Amr bin Luhai[12].

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ,

(وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آَلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ): “Dan Kami seberangkan Bani Isro’il ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang beri’tikaf (menyembah) berhala mereka, Bani lsrail berkata, “Wahai Musa, Buatlah untuk kami sebuah sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan”. Musa menjawab, “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang bodoh terhadap tauhid”. [ QS. Al A’rof (7) : 138].

Mengenai ayat ini Ibnu Katsir Asy Syafi’i rohimahullah mengatakan,

“Allah Ta’ala mengabarkan kepada kita tentang perkataan bodoh Bani Isro’il kepada Musa ‘Alaihis Salam ketika mereka telah melintasi lautan (yang dibelah Musa atas izin Allah) sedangkan mereka telah melihat tanda kebesaran dan kekuasaan Allah dengan mata mereka sendiri. Kemudian mereka melalui sebuah tempat yang mana di sana terdapat sekelompok orang yang beri’tikaf (menyembah) berhala mereka. Lalu Bani Isro’il yang melintasi kaum tadi pun mengatakan, “Wahai Musa, Buatlah untuk kami sebuah sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan”. Lalu Musa menjawab, “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang bodoh (terhadap tauhid)”. Maksudnya adalag bodoh terhadap keagungan Allah, kemulianNya, hal-hal yang Allah harus disucikan darinya kemusyrikan dan penyamaan Allah dengan mahluk”[13].

Maka jika demikian keadaan Bani Isro’il yang melihat sendiri tanda keagungan Allah, yang Allah belahkan laut untuk mereka agar mereka selamat dari kejaran Fir’aun masih dinilai bodoh oleh Nabi Allah Musa ‘alaihissalam terhadap masalah tauhid yang benar. Maka apatah lagi dengan orang yang sangat jauh dengan masa kenabian. Jika demikian keadaan para sahabat yang baru masuk islam apakah kita masih berani mengatakan bahwa kita tidak perlu lagi mempelajari hak Allah yang paling agung ini (tauhid al ‘ibadah)? Laa Hawla wa Laa Quwwata Illa Billah !!

[Kesimpulan]

  • Tabarruk (ngalap berkah) dengan pohon merupakan bentuk kemusyrikan dan merupakan cara beragamanya kaum musyrikin. Hal ini tidaklah berbeda yang dimintai berkahnya itu dari pohon, kuburan orang sholeh (apalagi yang tholeh) dan lain-lain dari benda yang tidak mampu memberikan berkah dan sudah mati.
  • Maksud baik semata tidaklah dapat merubah hukum syar’i atas sesuatu. Karena para sahabat yang meminta dibuatkan Dzatu Anwath tidaklah mungkin bermaksud buruk ketika meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam bahkan dapat kita katakan maksud mereka adalah baik karena mereka ketika melintasi Dzatu Anwath tersebut dalam keadaan hendak berperang dan telah dijelaskan di depan bahwa Dzatu Anwath tersebut adalah pohon dimana dkaum musyrikin biasa menggantungkan senjata mereka untuk mengharap berkah dari pohon tersebut.
  • Haramnya tasyabbuh kepada kaum musyrikin (dalam masalah ibadah dan kekhususan mereka) dan hal ini dapat menjadikan pelakunya terjatuh dalam kemusyrikan.
  • Keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam yang mengabarkan kepada kita bahwa diantara umat beliau akan benar-benar mengikuti cara beragama kaum musyrikin.
  • Kaidah dalam syari’at “Yang dijadikan dalam penetapan hukum bukanlah nama melainkan keadaan sebenarnya tentang sesuatu”. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menyamakan apa yang terjadi pada permintaan sebagian sahabat yang baru masuk islam untuk dibuatkan pohon Dzatu Anwath dengan apa yang diminta Bani Isro’il kepada Musa ‘alaihissalam berupa berhala/patung.
  • Memasang sesajen, percaya bahwa sesajen/bunga-bunga yang diletakkan di tempat yang angker/bekas terjadi kecelakaan adalah kemusyrikan yang dapat membatalkan keislaman seseorang karena termasuk kepada bentuk kesyirikan dan sama sekali bukan bagian dari islam.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kami dan kaum muslimin.

Sigambal, Setelah Ashar 02 Oktober 2011

 

 

Aditya Budiman bin Usman



[1] Lihat tulisan Kami yang berjudul “Apa Tujuan Manusia Diciptakan” di www.alhijroh.com

[2] Nama Beliau adalah Al Harits bin ‘Auf sebagaimana yang dikatakan oleh at Tirmidzi. [Lihat Taisir Azizil Hamid karya Syaikh Sulaiman bin Abdullah hal. 136 terbitan Al Maktab Al Islamiy, Beirut.] Sahabat Abu Waqid Al Laitsi masuk islam pada tahun dimana terjadi Perang Hunain pada tahun ke-8 dari Hijrahnya Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam ke Madinah. Beliau meninggal tahun 68 H pada saat umurnya 85 tahun.

[3] Yaitu ketika pasukan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam hendak berangkat menuju peperangan di Lembah Hunain (tahun ke-8 dari Hijrahnya Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) Lihat ‘Ianatul Mustafid bi Syarh Kitab at Tauhid oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hal. 211/I terbitan Dar ‘Ashimah, Riyadh.

[4] HR. Tirmidzi No. 2181, Ahmad No. 218/V, dan Tirmidzi mengatakan hadits hasan shohih, hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani rohimahumullah.

[5] Lihat ‘Ianatul Mustafid bi Syarh Kitab at Tauhid hal. 211/I.

[6] Hal. 146 dengan sedikit perubahan redaksi

[7] Lihat al Mulakhos fi Syarh Kitab at Tauhid oleh Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hal. 91 terbitan Dar ‘Ashimah, Riyadh, KSA.

[8] Lihat Taisir Azizil Hamid hal. 147.

[9] Lihat Taisir Azizil Hamid hal. 147.

[10] Lihat ‘Ianatul Mustafid bi Syarh Kitab at Tauhid hal. 213/I.

[11] Lihat Taisir Azizil Hamid hal. 147.

[12] Lihat ‘Ianatul Mustafid bi Syarh Kitab at Tauhid hal. 214/I.

[13] Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir oleh Musthofa Al Adawiy hafidzahullah hal. 164/II terbitan Dar Ibnu Rojab, Kairo, Mesir.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply