Apakah Jahil/Bodoh Dengan Pembatal Keislaman Teranggap ?

24 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Apakah Jahil/Bodoh Dengan Pembatal Keislaman Teranggap ?

Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Sholawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was sallam kepada istri-istri beliau dan seluruh sahabatnya Ridwanullah alaihim ajma’in.

[Pertanyaan]

“Apakah kebodohan merupakan udzur terhadap pembatal keislaman ?”

[Jawab]

Kebodohan itu berbeda-beda. Jika orang yang bodoh tersebut tidak memungkinkan mempelajari (pembatal keislaman) maka kebodohan seperti ini mendapatkan udzur hingga dia menemukan orang yang bisa mengajarkannya hal tersebut. Keadaan ini semisal orang yang tinggal terpisah dari negeri kaum muslimin yang disana tidak ada orang melainkan orang kafir, maka kebodohan orang ini merupakan udzur baginya. Adapun orang yang tinggal diantara kaum muslimin dan di negeri kaum muslimin, dia bisa mendengarkan Al Qur’an, hadits, perkataan ulama dibacakan maka kebodohan yang semisal bukanlah merupakan udzur karena telah sampai kepadanya hujjah namun ia tidak memberikan perhatian terhadapnya, bahkan ia mengatakan, “Ajaran semisal ini adalah ajaran Islam Wahabiyah, Agama Islam Nejed, Agama Islam si Fulan…dst”. Hal ini juga mereka katakan terhadap tauhid dengan perkataan yang semisal, agama demikan adalah agamanya Ibnu Abdil Wahhab padahal yang demikian adalah agamanya Rosululloh shallallahu ‘alaihi was sallam. Sedangkan Syaikh Ibnu Abdil Wahhab tidaklah membawa ajaran baru melainkan hanya mendakwahkan ajaran Rosululloh shallallahu ‘alaihi was sallam. Mereka juga menisbatkan ajaran tauhid dengan sebutan ajaran khowarij, sehingga mereka mengatakan bahwa orang yang bertauhid dengan tauhid yang diajarkan Rosululloh adalah orang khowarij. Maka apakah orang yang demikian mendapatkan udzur (berupa kebodohan) ? Mereka adalah orang-orang yang sombong terhadap ilmu tauhid yang tidaklah mendapatkan udzur atas kebodohan mereka terhadap tauhid.

Diterjemahkan dengan perubahan seperlunya dari Durus Fii Syarh Nawaaqidul Islaam karya Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan hal. 29 terbitan Maktabah Ar Rusyd, Riyadh, KSA

Selesai Sholat Tarawih, Sigambal, 21 Romadhon 1432 H/21 Agustus 2011 M

Aditya Budiman bin Usman

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply